Apa Salah Aku Cina?


Praaaaang.....!!!
Tetiba piring kotor yang hendak aku cuci jatuh begitu saja saat aku mendengar apa yang baru saja Alan, Suamiku katakan.
Pulang ke Indonesia!.
“Kamu nggak pa-pa, sayang?” tanyanya sambil membantuku memunguti pecahan piring yang tidak aku pedulikan. Aku masih berdiri terpaku dengan muka pucat dan hati berdebar yang tidak menentu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Setelah hampir 20  tahun Kami tinggal di Shanghai Cina tiba-tiba ia meminta untuk pulang.
Seandainya bukan kata Indonesia yang ia sebut mungkin aku tidak akan seketerkejut ini.  Satu negara yang selalu ingin aku hindari meski di relung hatiku ada sedikit rindu yang bersemayam. Satu negara yang telah membuatku terpuruk hingga bertahun-tahun. Tertatih membuatku bangkit dari luka yang begitu mendalam.
Alan, sangat tahu akan hal itu. Lalu kenapa sekarang ia memintaku untuk ikut serta pulang?
“Aku dipindah tugaskan ke Indonesia bulan depan. Kemungkinan kita juga akan menetap di sana” Jawabnya seakan mendengar jerit hatiku yang bertanya mengapa harus kembali ke Indonesia. Aku masih diam terpaku dengan sedikit gemetar mengguncang. Secangkir cappucino tetap tidak bisa menghangatkan suasana hatiku yang tiba-tiba dingin membeku.
Kami berdua sedang duduk di rooftop rumah sambil menikmati malam Shanghai membicarakan masalah ini. ia memegang tanganku yang masih erat menggenggam secangkir Cappucino dengan membisu tanpa suara.
“Sayang...sampai kapan kita akan terus bersembunyi, sudah saatnya kita melupakan semua kejadian pahit itu. Please, Indonesia yang sekarang sudah lebih baik, tidak seperti dulu saat kita harus terusir dengan kejam. Kita lupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal. Aku yakin Kamu bisa melakukannya. Terlebih ada Vivian yang sedang membutuhkan kita”.
Mendadak air mukaku menjadi pias dihadapan laki-laki peranakan Cina yang telah hampir membersamiku selama 20 tahun ini. Menjadi satu-satunya pelindungku saat aku benar-benar terpuruk di titik nol ketika harus memutuskan untuk tinggal di Cina. Ketika semua keluarga, teman dan juga kerabatku satu per satu hilang karena peristiwa mengutukkan itu.  Ia yang dengan gagah selalu ada untukku membasuh tiap kepingan luka yang sangat dalam dan berhasil membuatku berdiri tegak hingga sekarang.
Dan kata terakhir yang ia ucapkan bukan saja membuat wajahku kembali pucat, air mata tiba-tiba meleleh tanpa aku bisa bendung. Nama seorang wanita yang aku kenal sejak kecil. Sahabatku yang sejak kejadian itu, tidak pernah lagi aku mendengar beritanya. Nama itu pula yang  berhasil melemparku kembali kepada kenangan pahit itu. Kenangan 20 tahun silam.
Mei  1998
“Apa?Putus?” ujarku masih tak percaya dengan apa yang Fahri, ucapkan. Ia sahabat sekaligus pacarku sejak kelas dua SMA. Menjelang kami lulus tiba-tiba ia membuat keputusan mengejutkan dengan memintaku untuk mengakhiri hubungan yang telah lama kami bina.
“Kenapa? Karena aku Cina seperti yang Abahmu katakan?. Iya kan?” tanyaku meminta alasan.
Fahri terdiam tak bicara. Sesungguhnya bukan itu saja yang menjadi ganjalan hubungan mereka. Selain karena perbedaan suku, agama juga menjadi sandungan terberat mereka.
“Kenapa sih, Abah mu benci sekali dengan orang keturunan Cina. Apa salahku hingga tidak boleh pacaran denganmu?katakan Fahri!”
Fahri tidak mungkin mengatakan seberapa benci Abahnya dengan orang Cina pada gadis yang ia cintai.  Entahlah, dirinya juga tidak terlalu paham. Hanya saja menurut kabar yang ia dengar kakak perempuannya yang telah meninggal adalah karena ulah orang keturunan Cina. Meninggalnya sang kakak telah menorehkan luka yang dalam pada hati Abahnya hingga ia juga dilarang keras untuk berhubungan dengan orang keturunan Cina. Terbukti saat Amy, pacarnya serta Alan dan Vivian sahabat mereka berkunjung ke rumah, Abahnya tidak pernah bersikap ramah.
“Itu salah satunya...” akhirnya Fahri menjawab.
Aku terkekeh tak percaya mendengar jawabannya. Aku tak percaya, Abahnya yang alim dan dikenal sebagai tokoh agama di rumahnya bisa sebenci itu dengan orang Cina tanpa aku tahu sebabnya. Pantas saja saat aku berkunjung ke rumah tidak pernah mendapatkan kesan ramah dari beliau. Hanya pandangan sinis dan gerak laku yang  tidak mengenakkan.
Aku masih ingat Fahri pernah mengatakan bahwa perbedaan kami yang jelas kentara tidak akan menghalangi. Semua akan melunak seiring berjalannya waktu. Ia yakin hubungan mereka bisa langgeng. Aku juga masih ingat jelas ucapannya bahwa cinta tidak pernah mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada. Memang benar, dia lah dan keluarganya yang akhirnya membuat perbedaan itu ada.
“Kenapa kau masih di sini Amy?” tiba-tiba Alan datang di tengah-tengah kami dengan nafas memburu.
“Ayo cepat pulang!demo dimana-mana dan rumah kita juga sudah hampir dirusak massa”belum sempat aku bertanya, Alan sudah berujar lagi tanpa memberiku kesempatan untuk bicara dan membawaku pergi.
Apa yang dikatakan Alan benar. Kondisi Jakarta akhir-akhir ini tidak kondusif. Banyak demo dimana-mana yang dilakukan para mahasiswa yang menuntut turunnya presiden Soeharto. Demo yang diatas namakan keadilan reformasi nyatanya makin buas dan melibatkan banyak korban utamanya kami para warga Tionghoa.
Beberapa hari yang lalu jelas kudengar cerita Ayahku yang mengatakan mulai banyak penjarahan diberbagai toko milik warga Tionghoa. Semua dijarah hingga tak bersisa. Dan hari ini atmosfer suhu semakin meningkat dengan makin brutalnya massa yang tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Sesampainya aku di rumah, hanya suasana ngeri yang dapat aku lihat. Rumah satu-satunya telah rusak karena amuk massa yang tidak terkontrol. Teriakan mengerikan terdengar dari berbagi sudut yang semakin tenggelam dengan hiruk pikuk orang pribumi yang semakin mengganas menghajar etnis Tionghoa yang tidak tahu menahu dengan demontrasi yang akhir-akhir ini terjadi.
Aku terpaku tak percaya saat mendapati Ayahku tergeletak tak berdaya dengan luka diberbagai bagian tubuhnya. Kondisi rumah porak-poranda. Beberapa barang hilang entah kemana. Aku bergegas mencari Ibu dan Kakakku ke dalam rumah ditengah suasana di luar rumah yang makin panas. Alan yang sedari tadi menemani entah kemana, mungkin dia juga tengah melihat kondisi keluarganya sendiri yang sama denganku, mendapat perlakuan semena-mena dari warga pribumi.
Alangkah terkejutnya aku saat aku mendapati Ibu dan Kakak perempuanku yang tengah dikeroyok beberapa orang laki-laki yang bermuka buas dan hendak melecehkan kedua orang orang yang kusayangi. Dengan keberanian tinggi kudatangi mereka dan berteriak histeris untuk menghentikan pelecehan tersebut.
Namun, apalah dayaku sebagai perempuan kekuatanku kalah dibandingkan mereka. Mereka semakin buas dan ganas melukai Ibu dan Kakakku. Aku semakin tak berdaya sebelum pandanganku perhalan semakin gelap dan menghilang.
***
Jakarta, Februari 2019
Jika dihitung mungkin hampir dua dekade lamanya aku meninggalkan tanah airku. Pagi ini, entah kekuatan apa yang mendorongku hingga menyetujui keinginan Alan untuk kembali ke Jakarta. Kota yang dulu sangat tidak ingi aku injak setelah kejadian mengerikan di bulan Mei 20 tahun yang silam.
Kejadian tragis yang membuatku kehilangan kedua orang tua dan juga kakak perempuanku. Kami sama-sama menjadi korban perkosaan para orang pribumi yang saat itu dengan menggila melukai banyak orang etnis Tionghoa karean dianggap mengotori tanah air dan juga yang paling parah adalah banyaknya para amoy yang jadi korban perkosaan saat itu. Termasuk aku.
Jika Ibu dan Kakaku memilih bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu, aku masih beruntung dapat bangkit dengan cara yang tidak mudah. Alan adalah salah satu orang yang selalu berhasil menguatkan aku untuk tidak ikut mengakhiri hidup dan harus kuat bertahan.
Agar tidak semakin trauma, Alan membawaku bersama keluarganya ke Cina dan melakukan terapi serta pemulihan. Mencoba bangkit dari kenangan yang terlalu pahit.
Kini aku di sini kembali, karena selamanya aku tidak mungkin menghindar. Tali ikatan dengan kota ini rupanya masih ada hingga membuatku lebih ringan. Salah satu yang membuat semakin ringan adalah keberadaan sahabatku Vivian yang juga jadi korban perkosaan. Namun, nasibnya lebih malang dariku.
Ia sebatang kara dan kini berada di rumah sakit jiwa sendirian menghadapi trauma yang ia alami. Kini aku harus membantunya agar ia juga bisa bangkit seperti diriku. Meski aku tahu waktuku sedikit terlambat. Aku datang vi...aku datang
Taksi yang membawaku semakin melaju menjauhi bandara Soekarno Hatta. Kini suasana Jakarta telah aku hirup kembali. Semuanya memang telah berubah. Banyak yang berubah.
Sebelum berangkat ke Indonesia tanpa disertai putra putriku yang kini tengah menempuh pendidikan di negeri Paman Sam, sedikit banyak aku mulai mencari tahu kembali tentang Indonesia. Suatu hal yang jarang aku lakukan. Jika pun harus mencari kata Indonesia di dunia maya, selalu keringat dingin yang muncul.
Nyatanya, Indonesia kini lebih berwarna. Jika dulu kami para etnis Tionghoa diremehkan dan tidak dianggap, semenjak kepemimpinan presiden Gusdur, semua hal itu musnah. Kami lebih dihormati. Apalagi agama kami juga akhirnya diresmikan sebagai agama nasional.
Yang paling membuatku begitu terharu adalah ketika tahu bahwa ternyata mantan gubernur Jakarta adalah orang keturunan Tionghoa, hatiku makin teriris. Ah, seandainya.....
Buru-buru kutepis pikiran itu. Tidak ada gunanya.
“Berhenti..., berhenti pak!” pintaku pada sopir taksi yang membawaku dan Alan ketika di tengah jalan aku mendapati atraksi barongsai yang begitu ramai. Suasana Cina kental terasa saat aku mencoba mendekat. 
Benar kata Alan. Kini Jakarta telah berbenah. Setidaknya telah menerima etnis kami Tionghoa ditengah-tengah mereka. Buktinya kini perayaan Cina mulai terbuka dinikmati. Padahal dahulu tidak pernah ada.
Aku menikmati setiap atraksi yang disertai dengan sorak orang non Tionghoa yang menyaksikan. Kentara sekali mereka menikmati atraksi tersebut. 
Kesenian Barongsai memang sejak dahulu mempunyai magnet yang dapat membuat orang terpukau dengan segala gerakannya. Gerakannya yang rumit dan atraktif yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih. Anak-anak muda permain Barongsai itu mengingatkanku pada masa laluku ketika kerabat dan temanku sesama orang Cina bermain diam-diam tatkala merayakan hari Imlek.
Kini setelah adanya reformasi, bahkan dari ekor mataku yang sipit kulihat ada pemain Barongsari dengan wajah peranakan Jawa. Sungguh negeri ini telah berubah.
“Aduh... maaf..maaf mbak” sesosok suara mampir di telingaku tatkala aku merasa ada seseorang yang telah menginjak kakiku. Saat aku hendak melihat orang tersebut alangkah terkejutnya ketika aku tahu siapa yang tengah berada dihadapanku. Aku memang belum lupa pada sosok itu. Sosok yang dahulu berjanji padaku.
“cinta itu tidak mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada”

0 komentar:

Posting Komentar