Kita Berhak untuk Sehat





Suatu pagi, sebelum bekerja, seperti biasa aku menyempatkan untuk membaca koran terlebih dahulu. Pada koran Jawa Pos,terdapat sebuah berita tentang nenek yang meninggal dalam usia 145 tahun. Usia yang cukup panjang untuk ukuran umur manusia zaman sekarang. Bahkan dalam berita tersebut dikatakan bahwa nenek tersebut masih bugar dan kuat ingatannya hingga umur yang begitu senja.
Di akhir berita, dijelaskan tentang rahasia sang nenek tersebut hingga punya usia yang begitu panjang selain karena karunia Tuhan. Ternyata makanan yang ia makan serta pola hidup yang sehat menjadi kuncinya. Selama hidup sang nenek hanya mengkonsumsi makanan yang direbus, dibakar  dan sedikit makan makanan yang digoreng, serta tidak makan makanan yang tidak mengandung bahan pengawet atau pun bahan penyedap. Sang nenek hanya makan dengan bumbu yang alami.
Sungguh berbeda dengan zaman sekarang. Beragam makanan dapat kita jumpai dengan beragam, bentuk, rasa dan penyajian. Makanan yang instan yang sering kita sebut fast food mudah kita jumpai dan kita dapatkan dengan harga murah.
Namun, kita tidak pernah sadar mudahnya serta murahnya makanan itu kita dapat, justru membuat kita semakin tidak sehat. Bisa kita lihat sekarang angka kematian di usia muda sangat tinggi. Penyebab kematian tersebut yang rata-rata karena serangan jantung dan stroke berasal dari pola makan yang salah. Makanan yang tidak kita jaga, baik itu pola maupun nilai gizi dan kandungannya membuat penyakit itu mudah bersarang dan menyebabkan kematian dini.
Apalagi zaman sekarang, menurut investigasi berbagai pihak, makanan yang beredar sekarang tidak hanya mengandung bahan penyedap tapi juga bahan pengawet berupa bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.
Miris tentunya. Kemajuan teknologi sekarang seharusnya dapat memanjakan kita menikmati berbagai makanan yang seharusnya membuat kita makin sehat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kemajuan teknologi malah menjadi senjata makan tuan.
Melihat fenomena tersebut, teringat curhat seorang teman yang anaknya berusia hampir 2 tahun. Begitu susah diberi makan ketika makanan tersebut tidak diberi penyedap. Beda ketika makanan itu diberi penyedap, anak tersebut akan makan dengan lahap sekali. Selidik punya selidik ternyata oleh tetangganya, anak tersebut kerap diberi makanan kecil yang tentunya sudah bercampur dengan bahan penyedap dan pengawet.

Memang begitu susah jika kita menerapkan hidup sehat. Terutama soal makanan saat dewasa. Yang tentunya lidah kita terbiasa dengan makanan yang berpengawet, berpenyedap dan mengandung banyak bahan kimia. Kita akan merasa minder jika makan makanan yang berbahan alami dan tidak cepat saji tentunya. Karena selain fashion, makanan sudah menjadi life style yang justru mengarahkan kita pada kematian.
Namun, dibalik berondongan makanan cepat saji, untunglah masih ada sekelompok manusia yang masih sadar akan hidup sehat. Dan akhirnya berbondong-bondong mengkonsumsi makanan sehat. Mulai menjauhi makanan cepat saji dan beralih pada makanan organik.
Sejatinya, keinginan sehat itu ada pada diri kita sendiri. Jika sejak awal begitu banyak penyakit yang berawal dari makanan dan kita mau menjaga pola makan kita, tentu hidup kita akan lebih sehat. Dan penyakit semacam kolesterol, jantung dan stroke dapat kita hindari.
Alangkah bijaknya jika mulai sekarang menerapkan pola hidup sehat. Dengan menghindari bahan pengawet, bahan penyedap dan makanan ringan lain yang membahayakan untuk kesehatan kita. Tentunya langkah itu lebih baik jika dimulai dari kita sendiri. Para perempuan yang dalam keluarga bertanggungjawab menata pola makan keluarga. Terutama untuk generasi penerus. Jika sejak dini mereka diberi kesempatan untuk makan yang sehat-sehat tentu akan terbawa hingga dewasa.
Mari kita biasakan pola makan sehat.

1 komentar:

  1. semoga selalu diberi kesehatan ya mbak. aamiin


    diah
    www.diahestika.com

    BalasHapus