AKU MEMANG ‘BODOH’, TAPI TIDAK BODOH



Ada yang janggal dengan judul ini?sebelum membahasnya, saya ingin bercerita sedikit
Alkisah, ada 3 bersaudara kakak beradik. yang sulung laki-laki, anaknya aktif banget. Tidak bisa diam berpangku tangan. Aktif kegiatan di luar rumah apalagi di sekolah, dia begitu tergila-gila dengan kegiatan yang berhubungan dengan alam. Seperti seorang aktifis yang selalu ikut kegiatan ini dan itu. Dan paling getol dengan kegiatan sosial. Paling tidak bisa melihat orang susah, selalu ingin membantu yang lemah dan membutuhkan. Terus bagaimana sekolahnya jika lebih aktif kegiatan  di luar?. Tidak terlalu luar biasa?lima besar memang selalu dipegangnya, tapi paling tidak suka dengan pelajaran eksak. Tidak heran ada guru yang tidak begitu antusias dengannya karena meskipun masuk jajaran lima besar karena tidak mahir pelajaran eksak, ya biasa saja.  Satu lagi, meski terkadang cuek dengan pelajarannya dan lebih nyaman, berkegiatan di luar, dia punya prestasi yang tidak kalah hebatnya dibanding lima besarnya itu. Hafal beberapa surat dalam al-qur’an. Bahkan surat favoritnya yang selalu di hafal  adalah surat  Ar-Rahman.
Anak kedua, masih laki-laki jenis kelaminnya. Pendiam, tidak seperti saudaranya yang begitu aktif di luar, dia lebih suka berkutat dengan buku. Jago main komputer, betah banget kalau di suruh di depan komputer untuk nemuin program terbaru, sibuk utek-utek pokoknya. Jadi favorit guru-guru karena kepiawaiannya dalam beberapa pelajaran terutama pelajaran eksak. Aktifitasnya di luar?biasa saja, tidak terlalu tertarik seperti saudaranya. Prestasinya pun Cuma berkutat dalam dunia akademik.
Anak ketiga, jenis kelaminnya sudah berubah. Kali ini perempuan. Energik,tomboi, sama seperti saudaranya yang pertama, begitu cinta dengan kegiatan alam. Ada saja yang dikerjakan di lapangan, tidak pernah berhenti. Meski aktif di luar, prestasi disekolah pun tidak kalah yahud, kutu buku seperti saudara keduanya. Seperti saudaranya yang pertama, yang juga tergila-gila dengan alam dia juga begitu menggilai waktu menghapal surat Ar-rahman. Ibaratnya yang terakhir ini adalah perpaduan saudara yang pertama dan kedua. Prestasi di lapangan oke, sekolah pun jago. Jadi penulis best seler juga.
Ada nggak kisah semacam di atas di dunia ini?sttt....yang di atas belum jadi kisah nyata. Karena itu masih jadi  angan-angan saya semata, hanya tokoh rekaan yang baru akan terwujud beberapa tahun kemudian.
Tapi, kisah nyata seperti itu di dunia nyata sudah begitu banyak, bahkan berjibun saking banyaknya. Tulisan ini pun terinspirasi postingan sepupu saya tentang muridnya yang tidak begitu piawai dalam akademik, tapi ternyata sangat jago di luar akademik. Yupz, dia bisa membuat sebuah kapal dengan desain yang begitu detail meski jika di suruh menghitung dengan itung-itungan eksak dia mungkin gak bakalan detail dalam menghitungnya, sedetail hasil rancangannya.
Fenomena semacam itu, mungkin sering kita temui. Anak yang biasa saja dalam dunia akademik, bahkan cenderung diremehkan ternyata menyimpan potensi luar biasa. Multiple Intelegensi.
Sebagai guru, kerabat, teman, orang tua, sebagai manusia terkadang pikiran kita begitu sempit. Menganggap potensi luar biasa seorang anak, ada pada nilai akademiknya. Kita begitu mendewakan nilai bagus di dalam raport, tapi menganggap biasa saja nilai luar biasa di luar itu.
Anak yang berprestasi dalam dunia akademik, pasti di cap sebagai anak yang pintar. Dan anak yang tidak punya bakat dalam bidang ini pasti di cap anak bodoh. Padahal, tahukah kita anak yang cenderung tidak berprestasi di dunia akademik selama sekolah dan di cap bodoh rata-rata cenderung bisa lebih berhasil di banding dengan yang berprestasi di akademik.
Tahu cerita Albert Einsten atau Alva Edison, atau tokoh besar lainnya, yang dulu semasa kecil di cap sebagai anak bodoh karena nilai matematikanya jelek dan tidak berprestasi?. Dan lihatlah sekarang, tinta emas dunia telah menorehkan nama mereka abadi sepanjang masa. Di puja ribuan massa.
Mereka memang dicap sebagai orang bodoh, tapi mereka punya bakat luar biasa di luar akademik yang berhasil mereka kembangkan dan mereka tekuni meski tak mahir matematika hingga pentas dunia akhirnya mengakui kejeniusan mereka. Seperti halnya, kisah Einsten, Edison atau mungkin murid dari sepupu saya yang mungkin diremehkan prestasi akademiknya, akan ada banyak anak lain yang akan seperti mereka.
Pemikiran kita sebagai manusia, yang sudah terlanjur terdoktrin bahwa prestasi itu ya, di bidang akademik. Nilai bagus, apalagi nilai matematika. Jadi rangking satu, juara ini itu de el el. Seharusnya harus kita ubah mulai dari sekarang.
Banyak lho, anak-anak yang tidak berprestasi di akademik, tapi bisa melejit. Bukankah setiap anak memang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada anak yang akademiknya luar biasa sukses, tapi melempem di luar akademik. Atau sebaliknya. Kekurangan dan kelebihan semacam ini yang harus kita tangkap dan kita arahkan hingga dikembangkan. Bukan malah men cap bahwa anak yang nilainya jelek itu tidak berprestasi. Mungkin dia bisa berprestasi di bidang yang lain yang bisa mengantarkannya pada kesuksesan.
Mengenai kekurangan dan kelebihan ini, saya teringat kisah teman sekelas saya waktu menempuh kuliah matematika. Suatu hari, sebelum masuk kelas analisis fungsional saya bertanya padanya kok dia bisa ngulang matakuliah ini bahkan sampai dua kali(karena kita sama-sama dapat nilai D pada matakuliah ini dan dua kali pula hehehe), padahal setahu saya dia itu pintar. Dengan terus terang dia bilang bahwa memang dia tidak jago pada pelajaran analisis. Saya memang tahu dia mahir pada komputasi. Hingga suatu saat dia membuat saya terpukau dan geleng-geleng dengan kecerdasannya dalam komputasi waktu dia menunjukkan program buatannya yang bisa menerjemahkan skripsinya dalam 4 bahasa atau program buatan dia yang lain yang membuatku makin kagum. Saat itu lah dia sudah menunjukkan, memang benar dia lemah dalam matakuliah analisis, tapi sangat kuat dalam komputasi. Dia bisa menutupi kekurangannya dengan kelebihan luar biasa yang ada pada dirinya.
Bukankah sudah saatnya kita mengubah paradigma kita tentang sebuah prestasi. Tidak selamanya prestasi itu selalu dikaitkan dengan prestasi akademik. Prestasi di luar akademik bisa lebih luar biasa cerdasnya. Jangan lah terburu-buru men cap seorang anak itu bodoh, hanya gara-gara dia tidak pandai dalam matematika, fisika, kimia atau pelajaran eksak yang lain. Prestasi tidak harus selalu disertai deretan nilai bagus di raport, rangking 1 de el el. Lebih dari itu jika dia memanfaatkan potensi dan mengimbangi kekurangan dengan potensi apa pun yang di punya, yakin saja dia bisa semoncer prestasi akademik.
Sudah siap mengubah paradigma kita?

0 komentar:

Posting Komentar