Antara Aku, Pena dan Rangkaian Kata


“Tidak harus menjadi artis terkenal untuk bisa menginspirasi banyak orang. Goreskan penamu, dan guncang dunia dengan untaian kata inspirasimu”




Menulislah Untuk Bahagia
Jika ditanya kapan Aku  mulai menulis, sejak kelas 5 SD!
Rentang waktu yang cukup lama, ya. Aku mulai mengenal dunia tulis menulis ketika Ayahku rajin membawakan majalah anak yang banyak berisi dongeng. Dari situ kemudian timbul keinginan untuk menulis dongeng yang serupa.
Hobi menulis itu kemudian berlanjut hingga sekarang. Yang tadinya hanya menulis dongeng, cerpen mulai naik kelas menulis novel yang masih terbilang receh karena butuh banyak belajar. Hingga SMA entah berapa tulisan panjang yang bisa Aku hasilkan. Namun, jejak itu kini tak bersisa entah kemana.
Walaupun setelah menikah hobi menulisku pernah terhenti, kini tertatih untuk memulai lagi menorehkan pena dalam sebuah tulisan. Bukan novel lagi yang saat ini menjadi ketertarikan. Akhir tahun 2016, Aku pertama kali diperkenalkan dengan dunia penulisan artikel yang masih awam bagiku.
Meskipun belajarnya otodidak, sampai saat ini dunia artikel ini lah yang membuatku jatuh cinta lagi dan bersemangat untuk menulis dan menulis. Menjadikan menulis artikel sebagai pekerjaan sampingan, nyatanya telah banyak hal positif yang Aku dapatkan.
Mulai dari hal-hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya, bertemu dengan orang-orang hebat, komunitas menulis yang begitu bersemangat membagi ilmu kepenulisan, bertemu dengan banyak penulis lain yang hebat, hingga merapal impian di dalam dream book yang sempat tergeletak tanpa aku sentuh. Dan tentu saja limpaham materi yang berkecukupan dari hasil menulis.
Tidak dapat dipungkiri jika menulis dapat membuatku menemukan jalan baru yang tidak sempat Aku duga sebelumnya. Menulis pula yang pada akhirnya mengantarkan Aku ke gerbang dimana di dalamnya terdapat banyak orang yang siap untuk membimbing dan memberiku sejuta ilmu.
Menulis seakan telah memberi separuh nyawa baru untuk merenda mimpi yang sempat tertunda. Menulis dan menulis.


Menulis dan Impian Selangit
Tiga tahun terakhir, bisa dikatakan banyak perubahan yang kurasakan dalam dunia tulis menulis. Jika dulu hanya mengenal cerpen, novel dan dongeng, akhir  2017 Aku dikenalkan dengan dunia artikel yang ternyata tidak kalah menantangnya. Berawal dari tawaran menjadi penulis freelance, artikel kini menjadi genre yang benar-benar kuseriusi.
Tidak hanya itu, semakin lama belajar dengan dunia penulisan artikel dan seluk beluknya, akhirnya mempertemukanku dengan banyak orang hebat di dunia kepenulisan. Terjun dalam komunitas penulisan, pelatihan menulis dan mengikuti banyak event menulis.
Semua kulakukan dengan satu tujuan, semakin mendapatkan banyak ilmu baru dan memperbanyak pengalaman. Bertemu mereka, yang pakar dibidang menulis membuatku sadar, bahwa Aku harus segera mengupgrade ilmu baru, sebab dunia tulis menulis telah berkembang luas dan jauh.
Di tengah jalan, ketika sedang asyik belajar menulis artikel yang SEO dan mengirimnya ke media online, tiba-tiba terbesit keinginan untuk menyambangi blog yang sudah mati suri. Belajar di komunitas menulis, blog selalu menjadi pembicaraan yang intens sehingga akhirnya Aku  tahu bahwa blog ternyata membawa segudang manfaat. Rasanya diri ini seperti telah ketinggalan kereta yang jauh sekali.

Bertemu mereka para penulis hebat dan dengan mengalirnya pundi rupiah dari menulis artikel, Aku kemudian memberanikan diri untuk merangkai mimpi dalam dream book yang telah lama kutinggal. Banyak impian yang ingin kulangitkan. Salah satunya adalah mimpi bisa pergi ke tanah suci Makkah. Mimpi itu mulai  kuwujudkan dengan sedikit-demi sedikit menabung. Aku sadar, mungkin akan terasa lama sekali untuk mewujukannya. Namun, siapa tahu ketika Allah telah berhendak, mimpi itu bukan hanya angan semata. Bismilah.
Mimpi lain yang Aku rangkai adalah mempunyai buku solo. Dimana pun dan siapa pun, seorang penulis pasti bermimpi ingin punya buku solo buka?demikian juga denganku. Setelah beberapa tahun lalu menulis antologi, ingin sekali rasanya mempunyai buku solo. Buku yang tidak hanya diterbitkan untuk mewujudkan mimpi saja, tapi juga buku yang bermanfaat.
Yah, lewat menulis kini Aku semakin gila untuk bermimpi. Jika orang lain bisa, mengapa Aku tidak?. menulis setidaknya bukan hanya perkara merangkai kata yang indah dan enak dibaca, lebih dari itu mimpi juga bahkan bisa membuat orang menjadi gila untuk meraih mimpi-mimpinya.
Seperti kata Andrea Hirata dalam bukunya yang berjudul Pemimpi, “Bermimpilah…karena tanpa mimpi orang-orang seperti kita akan mati”
Menulis dan Terapi
Menulis untuk terapi dan bahagia?

Jangan mengatakan Aku lebay apalagi memandang dengan kasihan. Menulis kini bagiku bukan sekedar untuk mengejar materi, membuat karya bahkan mencari ilmu baru. Menulis, seakan telah menjadi obat sekaligus penenang yang membuat hati dan pikiran menjadi lapang. Walau hanya sekedar menulis status di media sosial.
Eits, jangan meremehkan status lho. Lihat saja status para tokoh dan motivator terkenal, membuat status selarik saja, bisa membuat orang terinspirasi. Kita juga bisa menjadi demikian jika status yang ditulis bukan status geje.
Dengan menulis, rasanya segala uneg-uneg yang kurasakan bisa keluar. Dan rangkaian kata yang belum tentu panjang, seakan sudah membuatku bahagia. Karena itu lah Aku ingin menulis terus, sebab Aku ingin bahagia. Jika bahagia, pikiran postif akan keluar dan bisa mendatangkan banyak hal positif juga. Lebih-lebih dapat menginspirasi banyak orang. Tentu akan membuat diriku lebiih bahagia.
Kini karyaku memang belum banyak, untaian tulisanku mungkin belum bisa menguncang dunia dan menginspirasi banyak orang. Setidaknya dengan tulisan sederhana ini, Aku ingin berbagi, bahwa menulis bukan hanya sekedar menulis rangkaian kata saja. bahwa menulis bisa dengan mudah mengubah seseorang. Membuat orang untuk berani bermimpi.
Alhamdulilah...tahun ini mendapat kado indah, dengan hadirnya 4 buku antologi yang tidak Aku rencanakan. Dulu hanya Mimpi bisa membuat satu buku antologi, ternyata Allah hadirkan menjadi lebih.  Sungguh luar biasa.
Tulislah. Tulis mimpimu. Dan jangan ragu lagi untuk menebar kebaikan dengan menulis. Menulis akan membuat nama kita abadi. Memberikan banyak inspirasi dan berani melukis mimpi.
Mengutip perkataan Ahmad rifa Rif’an dalam bukunya, “Hidup itu Cuma sekali, berarti lalu mati, jadi berkaryalah agar nama kita abadi”

3 komentar:

  1. wih, sudah sejak kelas 5 SD nulisnya.
    Wow, kereeeen sangat, pantesan artikelnya kece badai. Salute 👍👍👍👍

    BalasHapus
  2. Terus menulis agar mengabadikan nama kita meski hanya lewat dunia maya.

    BalasHapus