Ada Cinta Dalam 99

“Aku baru sadar saat membuka kembali buku diariku, tepat 99 hari. Saat dia melamarku. Setelah membaca buku itu, aku niatkan untuk memperbaiki dan memantaskan diriku, meningkatkan ibadahku, merutinkan sedekahku,terus mendekat pada Sang Pencipta. Itu lah caraku menjemput jodohku”






SMPIT Cendekia, Siang hari.

Istirahat kedua tiba. Para guru-guru yang di dominasi wanita bergerombol asyik bercengkrama sambil bersenda gurau. Mulai dari membicarakan tingkah murid yang lucu dan terkadang bandel, sharing tentang cara mengajar yang menyenangkan hingga tak terasa pembicaraan mereka mulai merembet ke masalah yang paling privasi. Pasangan hidup. Kebanyakan dari mereka memang masih lajang. Pembicaraan semacam itu selalu jadi topik yang menarik bagi mereka.
“Mil, jangan serius gitu. Ntar lah ngoreksi hasil kerjaan anak-anak. Sini gabung sama kita” bu Yuli, salah satu dari mereka memanggilku yang memang sedari tadi hanya serius menekuri hasil ulangan umum anak kelas 3 SMP.
“Iya, mil. Kita lagi bicaraain soal jodoh lho, gak pengen nimbrung?” bu Ayu menimpali. Yang lain menyambungnya dengan tawa kecil.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng lemah. Jodoh!.
Salah satu topik yang memang sering  kami bicarakan sebagai guru wanita yang rata-rata belum menikah. Terkadang dengan bercanda satu sama lain kami sering menjodoh-jodohkan guru satu dengan guru laki-laki yang masih lajang  juga.
Dan entah kenapa, atau mungkin karena tuah bahwa kata-kata bisa jadi doa, yang kami jodoh-jodohkan itu akhirnya ada yang menikah beneran. Tentu saja kami gembira karena kami punya andil juga dalam mengubah status salah satu teman menjadi menikah, selain dapat pahala.
Kini makin sering saja dibahas masalah itu. Meski tidak terlalu tertarik aku hanya ikut-ikutan saja. Sekedar meramaikan. Melepas penat yang kadang datang di sela-sela mengajar. 
**
“Taarufmu gimana, Mil?” tanya Ibu selepas sholat maghrib. 
Berdua kami berjamaah, karena di rumah jika akhir pekan seperti ini memang hanya tinggal kami berdua. Adik-adikku sedang menempuh kuliah di Malang. Setiap sabtu minggu aku memang selalu meluangkan waktuku untuk pulang menemani Ibu yang hidup sendiri sepeninggal Ayah. Akhir pekan memang sekolah tempatku mengajar  libur.
Aku  hanya menunduk menekuri sajadah yang ada di depanku. Lalu  kuraih tangan Ibu dan menciumnya takzim.
“Doakan Mila, ya bu. Doakan agar taaruf yang Mila jalani kali ini berjalan lancar”
“Tanpa kau minta pun Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak!” Ibu mengelus kepalaku lembut disertai senyuman teduh yang selalu aku rindukan.
Sebagai Ibu, wajar jika beliau cukup khawatir di usiaku yang menginjak dua puluh tujuh aku belum mendapatkan pasangan hidup. Sedangkan sebagian teman-temanku sudah ada yang mempunyai anak dua bahkan lebih. Aku cukup paham di usianya yang beranjak uzur Ibu juga ingin menimang cucu. Menemani hari-hari tuanya.
Itu lah yang belum bisa aku wujudkan sampai sekarang. Bukan aku tidak ingin menikah. Perempuan manapun pasti ingin menikah. Itu pula doa yang kerap aku lantunkan di sepertiga malam. Di keheningan malam, selalu aku bersungkur di sujudku memohon agar Allah segera mempertemukanku dengan jodohku. Jodoh yang sudah ia tuliskan untukku di lauful mahfuz.
Beberapa kali taaruf pun sudah aku jalani. Namun, entah kenapa selalu saja mengalami kegagalan. Dulu sewaktu masih kuliah di Malang dan menjelang semester akhir, seorang temanku yang kebetulan satu pengajian, menjodohkanku dengan seorang kakak kelas yang sudah ia kenal.
Dan perkenalan itu pun hanya sampai pada tingkat perkenalan. Entah karena belum ada kecocokan atau mungkin Allah belum berkenan mempertemukan dalam bingkai pernikahan, taaruf itu pun tidak berlanjut.
Setelah itu banyak pula taaruf yang aku jalani. Dan lagi-lagi menemui kegagalan.  Hingga sekarang, aku hanya berpasrah pada Allah. Aku yakin Allah sudah menyediakan jodoh untukku, dan akan dipertemukan di saat yang tepat.
“Baru sampai Mil?” tanya Kiki teman satu kostku. Setiap senin pagi jam 6 aku sudah harus berada di kost lagi. Aku selalu berangkat pagi-pagi dari rumah yang berjarak cukup jauh dari tempatku mengajar hingga  harus kost.
Setiap senin jam pertama, aku harus mengajar kelas 2. Itu lah yang menyebabkan aku harus sampai pagi-pagi di kost. Siap-siap sebelum berangkat ke tempat mengajar.
“Oh, ya Mil. Kenalkan ini Dinda temanku. Ia akan menginap di sini 2 hari” Kiki memperkenalkan seorang gadis cantik yang imut berkerudung merah. Dinda, gadis itu, yang sedang duduk menekuri sebuah buku tersenyum  manis padaku sambil mengulurkan tangannya.
“Assalamualaikum, mbak Mila” sapanya renyah.
Aku menjawab salamnya. Dan menyebutkan namaku. Setelah itu, aku   langsung berjalan menuju kamarku dan bersiap-siap. Aku minta maaf pada Dinda tidak bisa menemaninya ngobrol karena harus buru-buru ke sekolah.
Sore ketika pulang sekolah, suasana kostku masih sepi. Mungkin teman-temanku sedang ada kegiatan di luar hingga jam segini kost tak berpenghuni. Macam-macam kegiatan mereka, ada yang memang mengajar fullday seperti diriku, ada pula yang mengajar privat sampai malam hingga ikut kegiatan seperti pengajian hingga malam pula.
Aku merasa beruntung karena terdampar di tempat ini. Selain suasana kekeluargaan, agamisnya, para penduduknya  pun juga membuatku kagum. Sikap ramah, santun, taat beragama juga jiwa sosialnya yang tinggi membuatku betah sekali di sini.
Aku memasuki kamarku yang terkunci. Yanti yang sekamar denganku pasti sedang mengajar privat. Ia memang anak yang aktif sekali. Ia mengajar di sebuah SDI yang tak jauh dari tempatku mengajar. Mengajarnya pun fullday. Namun, dia masih sempat mengajar privat seusai mengajar hingga malam setiap hari.
Aku juga sebenarnya bingung. Dengan kegiatan yang seabrek itu bagaimana mungkin dia bisa sekuat itu menjalaninya. Pernah suatu hari aku bertanya padanya. Dia Cuma menjawab singkat dengan senyum teduh khasnya.
“Waktu kita Cuma sebentar di dunia, Mil. Gunakan sebaik mungkin, manfaatkan sebaik mungkin, produktif selalu. Karena itu bekal kita”
Aku Cuma mengangguk saja sambil tersenyum. Kata-katanya memang benar. Dan ia memang tidak pernah berpangku tangan meski sedang libur sekolah pun. Benar-benar gadis luar biasa.
Selesai mandi, aku merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil menunggu adzan maghrib. Sebagian teman kost ku sudah ada yang datang. Suara celoteham mereka sudah terdengar hingga kamarku yang berada paling belakang.
Mataku tiba-tiba tertumbuk pada sebuah buku tebal berwarna keemasan yang tergeletak di meja kamarku. Buku apa itu?belum pernah aku melihatnya. Buku milik Yanti kah?
Tanganku terjulur meraihnya. Penasaran juga. Kubaca judulnya.

7 keajaiban Rejeki.

Lumayan menarik judulnya. Kubuka perlahan buku itu. Kubaca tiap kalimat yang tertuang dibuku tersebut mulai dari halaman depan. Indah.
Kubuka lagi halaman demi halaman. Dahsyat. Dan aku pun larut dalam untaian mutiara yang terkadung dalam buku itu. Sejenak terkadang termenung lama.
Menginginkan Jodoh yang lebih baik, maka mulailah memperbaiki diri. Inilah yang disebut memantaskan diri. Bukan sekedar memantaskan diri, tapi memantaskan diri di hadapan Yang Maha Menilai. Maka, ibadah A ditingkatkan, ibadah B dilipatgandakan, ibadah C dan D dirutinkan. Bukankah Dia telah berjanji,” Yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya”

“Lagi baca apa mbak?”Sesosok suara mengagetkan aku. Ternyata Dinda. Gadis manis yang tadi pagi berkenalan denganku. Aku menyunggingkan senyum padanya. Dan menunjukkan buku yang sedari 2 jam yang lalu menemaniku sambil menunggu Yanti pulang.
“Oh, bagus ya mbak bukunya. Aku membelinya 3 hari yang lalu”komentar Dinda.
“Jadi ini bukumu?”ujarku kaget.
Dinda mengangguk pelan. “Tadi Mbak Yanti meminjamnya. Baca aja Mbak, bagus kok bukunya. Semoga Mbak Mila mendapatkan hikmah dari buku itu” jawab Dinda masih dengan senyum manisnya.
Dan memang ada yang menarik hatiku sejak membaca buku itu. Tentang menjemput jodoh apalagi. Yang tidak pernah bosan mengusik pikiranku. Sepeninggal Dinda, aku pun kembali terlarut dalam buku itu.
**
Lunglai aku meletakkan hp ku. Sms dari Mbak Nuri membuat semangatku tak menyala lagi.  Taaruf itu gagal lagi. Seorang ustadz muda, yang diperkenalkan Mbak Nuri padaku. Setelah menyerahkan profil masing-masing saat awal taaruf, kesempatan untuk bertemu justru tak pernah datang menghampiri kami. Jarak yang cukup jauh dengan domisili ustadz itu serta kesibukan kami, adalah salah satu faktor. Aku pernah mengatakan pada Mbak Nuri, minimal hanya bertemu sekali sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Mbak Nuri pun sering menjembatani kami, tapi dua faktor itu lah yang selalu menjadi penghalang. Saat aku sudah siap berangkat untuk bertemu, maka sang ustadz lah yang kemudian tidak bisa bertemu. Pun sebaliknya. Bahkan saat kami berdua punya waktu luang, dan sudah menentukan akan bertemu dimana dan jam berapa bersama mbak Nuri, tetap saja gagal.
Bukan karena kesibukan lagi, entah kenapa tiba-tiba Ibu sang Ustadz mendadak sakit dan dia harus berputar pulang meskipun hampir sampai di tempat yang telah kami sepakati. Terngiang kata-kata Ibu dibenakku,”Jika dia jodohmu pasti akan dipermudah,tak akan ada hal yang bisa mengahalangi. Allah yang akan menyingkirkan semua halangan itu. Karena ketetapanNya sudah berlaku”
  Aku tak mau menyalahkan siapa pun. Allah mungkin belum berkenan mengijinkan aku menyempurnakan separuh agamaku. Untuk saat ini. Aku selalu yakin bahwa tiap manusia punya jodoh masing-masing. Tulang rusuk tak akan pernah tertukar. Akan bertemu di saat yang tepat. Allah sudah berjanji.
Tiap  sepertiga malam, tak lupa aku bersimpuh bermunajat pada Allah. Memohon padanya agar Allah memudahkan jalanku dalam menemukan belahan jiwaku, yang kelak akan membimbingku serta anak-anakku.
Aku kembali menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas. Mencoba melupakan kejadian kemarin. Pasti akan ada hikmahnya. Tiap kesulitan pasti akan kemudahan yang menghampiri. Tiap kesedihan yang hadir, akan datang kebahagian kemudian hari. 
Termasuk corat-coret diary yang sudah jadi kebiasaanku sejak masih kuliah. Aku pun tidak tahu kekuatan gaib manakah yang menuntun jari-jariku. Mimpi-mimpi itu kutulis dengan lancar. Mimpi-mimpi yang ingin aku raih sebelum usiaku genap 28 tahun. Tiba-tiba aku teringat dengan isi buku yang pernah kupinjam dari Dinda. Percepatan Mimpi. Bukankah dalam buku itu disinggung dengan sangat jelas. Percepatan dalam waktu 99 hari. 
Tetapkan mimpimu. Perjelas kapan terjadi. Positifkan kata-kata itu. Yakin, yakin, yakin, yakin.dan pantaskan diri. ibadah A ditingkatkan, ibadah B dilipatgandakan, ibadah C dan D dirutinkan. Bukankah Dia telah berjanji,” Yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya”
Dan malam itu dengan mantap aku menuliskannya. 99 hari. Sejak hari itu pula aku mulai meningkatkan berbagai macam ibadahku. Meningkatkan tahajudku, sholat hajatku, sedekahku, dan yang paling penting meminta maaf ulang pada ibu. Memohon padanya agar tak lelah untuk selalu mendoakanku. Agar Allah pun melampangkan jalanku. Menggenapkan separuh agamaku. Keinginan itu makin menggebu. Aku tak memikirkan dengan siapa kelak aku bersanding. Aku yakin bahwa Allah akan menyediakan seseorang yang terbaik.
**
2 bulan berlalu.
Dengan tergesa-gesa aku menyeret kakiku menuju kelas XII. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. setelah istirahat pertama aku memang punya jam mengajar dikelas itu. Pelajaran Geografi. Seharusnya jam 09.30 tadi aku sudah masuk ke kelas itu, tapi karena ada keperluan dengan kepala sekolah aku harus menunda jam mengajarku hampir setengah jam.
Dari jauh aku sudah mendengar riuh tawa dan celotehan anak didikku. Kelas XII memang terkenal sebagai kelas yang lumayan rame. Jika telat sebentar saja guru memasuki kelas, bisa dibayangkan sendiri kelasnya jadi seperti apa. Seperti sekarang. Mereka bertambah heboh manakala aku memasuki kelas. Karena mereka mengira aku tidak masuk hari ini. Dan tambah heboh lagi saat aku memberitahu kalau jam ini aku gunakan untuk ulangan harian.
Sambil menunggu murid-muridku menyelesaikan soal yang ku ujikan, hp ku tiba-tiba berbunyi pelan. Sms dari sebuah nomor asing yang tidak aku kenal.
Assalamualaikum, mbak Mila. Masih ngajar di SMPI Cendekia mbak?saya Ratih, adik kelas mbak Mila dulu di Kampus yang mbak bantu penelitian skripsinya. Ingat mbak?gimana kabar mbak Mila sekarang
Ratih. Aku memeras otakku mengingat-ingat nama itu.
Ratih. Ya, gadis berjilbab lebar adik tingkatnya di Malang dulu yang dulu datang padanya minta bantuan untuk dibimbing karena kebetulan Skripsinya dan Skripsi Ratih membahas persoalan yang sama. Bagaimana kabar dia sekarang?bagaimana dia tahu aku sekarang mengajar di Cendekia?
Kabarku baik mbak, aku sekarang di Jakarta. Kerja di sini mbak 5 bulan yang lalu. Mbak kenal dengan mbak Yeni, dia juga pernah ngajar di Cendekia. Kebetulan suami mbak Yeni adalah atasan saya
Aku tersenyum kecil. Sambil duduk-duduk di balkon kost aku membalas semua sms dari Ratih. Dunia memang sempit sekali. Yeni memang teman mengajarnya. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menikah dan ikut suaminya yang bertugas di Jakarta. Dan sekarang Ratih pun berteman dengan Yeni. Sempit sekali bukan?
Sms Ratih yang selanjutnya masuk kembali ke hp ku. Kali ini wajahku berubah tegang membacanya. Tak menyangka akan dapat pertanyaan seperti ini.
Sudah menikah mbak?
Aku terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Belum...
Mau nggak mbak aku kenalkan dengan kakakku. Kebetulan mas ku lagi nyari calon istri. Dia stay di Bali sekarang
Keningku berkerut. Berkenalan dengan kakak Ratih?. 
Aku berpikir sejenak.Kenapa tidak.  Bukankah aku memang sedang berikhtiar mencari pendamping hidup. Setelah berkali-kali taaruf yang aku jalani banyak yang tidak berhasil.  Tidak ada salahnya kucoba. Mungkin Allah akan berkenan memberi jalan dan aku bisa mewujudkan mimpi Ibuku untuk melihatku menikah tahun ini.
Dua hari kemudian aku menerima sms dari Ratih lagi.
2 minggu lagi masku akan pulang ke Jawa mbak. Aku kebetulan juga pulang karena ada kerabat yang menikah. Kita bisa ketemuan kan mbak
Ya, aku baru tahu kalau ternyata rumah Ratih tidak jauh dari tempatku mengajar. Kebetulan yang sangat indah menurutku. Aku berpikir apakah ini bagian dari skenario Allah dalam membimbingku untuk bertemu jodohku. Aku mulai mengingat awal aku berkomunikasi dengan Ratih. Semuanya berentetan. Seperti sebuah kebetulan.
Pagi itu. Aku mematut diri di depan cermin. Dengan memakai gamis warna biru tua dan jilbab panjang dengan warna senada yang lebih muda. Pagi ini Ratih berjanji untuk mengenalkanku dengan kakak laki-laki serta Ibunya yang turut mendampingi. Sejak subuh tadi jantungku berdebar lebih cepat. Grogi serta bayangan gagal itu sedikit-sedikit menghantui. Buru-buru kutepis pikiran itu. Kalau sejak awal aku sudah ragu, maka Allah pun tidak akan ragu mendekatkan rahmatNya. Bismillah. Aku memantapkan langkahku.
“Assalamulaikum, mbak Mila,”sapa Ratih begitu ceria ketika aku menginjakkan kakiku di pelaratan masjid Ar-Rahmah. Gayanya yang tidak berubah, ceria, energik dan ramah ketika menyambutku membuat perasaan grogi dan deg degan yang sedari tadi menderaku perlahan hilang.
Pun bicaranya yang masih ceplas ceplos. Rasanya seperti tidak pernah berpisah lama. Ratih pun kemudian memperkenalkanku dengan Ibunya. Dan obrolan berlanjut. Ratih lebih mendominasi pembicaraan. Ada saja cerita yang keluar dari mulutnya. Entah ketika masa-masa dia minta bimbingan padaku, yang katanya aku agak galak, tempat kerjanya dan yang membuat kami kemudian tertawa adalah saat menyinggung mbak Yeni. Kami merasa dunia ternyata sempit sekali. Kami dipertemukan kembali lewat pertemuannya dengan mbak Yeni.
Setengah jam berlalu ketika aku dan Ratih mengenang masa-masa kami dulu. Aku baru sadar selain aku, Ratih dan Ibunya yang ada disini ternyata ada sosok lain diantara kami. Seorang laki-laki yang tidak aku tahu wajahnya karena sedari tadi dia hanya menunduk sedikit membelakangi kami. Seakan tidak merasa adanya kami. Mungkinkah dia?
“Ini kakakku mbak Mila. Mas Tama. Namanya Pratama” Ratih akhirnya mengenalkan laki-laki itu yang memang ternyata adalah laki-laki yang akan dikenalkan denganku. Aku meliriknya sebentar lalu mengucap salam padanya sebagai tanda kenal. Ia pun hanya menjawab salamku lirih dan melirik sekilas sama denganku.
“Anak saya ini tinggalnya di Bali, nak Mila. Ikut dengan Ibu membantu kerja disana. Kebetulan sekarang juga sedang menyelesaikan kuliahnya di Bali juga” kini giliran Ibu Ratih yang bicara. Aku hanya mengangguk menanggapi uraian Ibu Ratih. 
“Usianya hampir tiga puluh. Dan Ibu rasa sudah waktunya punya pendamping. Ratih sudah bicara pada Ibu, kalau hendak mengenalkan kakaknya dengan nak Mila. Ratih banyak bercerita soal nak Mila. setelah bertemu langsung ,Ibu rasa nak Mila memang cocok mendampingi anak saya. Apa nak Mila bersedia menikah dengan anak saya?”
Aku terdiam lama mendengar kata-kata Ibu Ratih yang langsung ke poin masalah. Langsung menanyakan apakah dirinya mau menikah dengan anak sulungnya. Dengan ekor mataku, kulihat Mas Tama masih diam menunduk. Sama sekali tak bersuara atau bahkan menoleh.
“Saya akan membicarakan masalah ini dengan Ibu saya terlebih dahulu. Saya minta waktu seminggu untuk menjawab masalah ini. Untuk Istikhoro”. Aku memang tidak mungkin bisa langsung memutuskan hal itu sendirian. Aku perlu melibatkan Ibuku,terutama Allah. Bagaimanapun menikah bukankah hal yang sepele. Tidak bisa diputuskan hanya sekali waktu. Dan waktu seminggu itulah yang aku minta. Ratih dan Ibunya pun tidak keberatan dengan keputusanku. Mereka bisa menerima.
**
Subuh itu menjadi subuh paling indah dalam hidupku. Tubuhku rasanya masih belum berpijak pada bumi. Masih mengawang-ngawang dengan kejadian sesaat tadi. 
Setelah pertemuanku dengan Ratih seminggu yang lalu, aku langsung memutuskan untuk pulang dan berbicara pada Ibu mengenai permintaan keluarga Ratih. Selama seminggu itu, Ibu tiada henti melakukan sholat Istikhoro untuk meminta petunjuk apakah benar laki-laki itu lah yang akan dikirim Allah padaku sebagai pendamping hidup.
Genap seminggu, Ibu mantap mengatakan kalau beliau setuju dan yakin jika mas Tama lah orangnya. Sungguh tak ada hal lain yang kuinginkan selain ridho dari Ibuku. Karena jika Ibuku ridho maka Allah pun akan ridho dengan niat yang akan aku lakukan. Maka aku pun mantap menghubungi Ratih selesai sholat subuh. Dan bersedia menikah dengan kakaknya. Ratih pun girang mendengar keputusanku, tapi tak  dinyana Ratih mengatakan padaku, kalau hari minggu keluarganya akan segera datang kerumahku. Untuk melamarku. Aku mengingat hari. Minggu?bukankah itu besok.
Ibu pun kaget saat aku mengatakan kalau keluarga Ratih akan datang besok untul lamaran. Besok. Ya besok. Rasanya tidak percaya. Benarkah ini akan terjadi. Aku masih belum bisa percaya. Rasanya semuanya berjalan cepat sekali. 
Seperti biasanya aku pun mengungkapkan kebahagiaan itu pada buku yang setia menemaniku. Diariku. Menuliskan semua rasa bahagiaku. Bahwa aku bisa mewujudkan mimpi Ibu sebentar lagi. Menikah. Haru rasanya saat Ibu menitikkan air mata, manakala aku memeluknya untuk meluapkan kegembiraanku. Dan aku baru sadar saat kembali membuka lembaran diariku bulan-bulan lalu. Aku tersentak kaget. Buru-buru aku mengambil kalender dan menghitung dengan jariku. Besok, hari ahad tepat 99 hari?.
***
Dan baru hari ini aku bisa menatap wajah Mas Tama yang telah resmi menjadi suamiku. Setelah kemarin aku hanya bisa mencuri-curi pandang saat bertemu. Dia duduk di depanku, mengulum senyum teduh saat aku mencium tangannya setelah menandatangani buku nikah kami. Setelah resepsi sederhana yang kami adakan usai, mataku lekat memandangi mahar nikahku yang tergeletak manis di atas tempat tidur di kamar pengantin kami.
Pelan tanganku terjulur meraih sebuah buku berwarna keemasan bercampur coklat. Dengan judul unik di bagian covernya. 7 keajaiban Rezeki. Karya Ippho Santosa.
Yupz, buku itulah yang awalnya mengilhami diriku untuk terus menata diri. Memantaskan diri dihadapanNya. Dan mengenalkanku pada keajaiban 99 hari. Keajaiban yang benar-benar datang padaku tepat 99 hari. Mas Tama adalah keajaiban yang dikirim Allah disaat yang tepat. Mengenapkan separuh agamanya, mengubah statusku menjadi istri dan sebentar lagi mengubahku pula menjadi seorang Ibu. Buku itu lah yang kemudian aku minta pada mas Tama sebagai mahar nikahku. Buku itu yang membuka semuanya.
“Bimbing aku menjadi wanita sholehah ya, mas. Menjadi bidadarimu, dunia dan akhirat” ucapku. Sekali lagi mencium tangannya lama. Untuk kedua kalinya mas Tama menjadi imam sholatku. Setelah tadi pagi mengimamiku seusai akad nikah. Sholat maghrib kali ini terasa berbeda. Mas Tama membalasnya dengan sebuah ciuman dalam dikeningku. Terimakasih, ya Allah. Engaku menjawab setiap doaku...



0 komentar:

Posting Komentar