Tidak masalah siapa anda, dari mana anda berasal. Kemampuan untuk bangkit dan menang berasal dari diri anda sendiri
-Oprah Winfrey-



Seorang gadis sedang putus cinta menangis di bangku taman. Seorang Kakek yang melihatnya bertanya,
“Mengapa kamu menangis?”
“Aku sangat sedih,Kek. Dia yang kucintai pergi meninggalkanku” jawab sang gadis.
Sambil tertawa, Kakek itu berkata, “Jangan bodoh, seharusnya kau bersyukur, Nak”.
“Kakek ini bagaimana, sih?!. Sudah tahu aku sedang patah hati, bukannya menenangkanku malah menertawanku?” sang gadis berkata dengan sinis.
“Hahaha...seharusnya kau tak perlu bersedih, yang seharusnya bersedih itu dia yang telah meninggalkanmu”.
“Kok bisa?”.
“Iya, karena kamu Cuma kehilangan orang yang tidak mencintaimu, sementara dia telah kehilangan orang yang sangat mencintainya”.
“Tapi, aku sedih, Kek..”
“Apa kesedihanmu itu membuat dia akan kembali kepadamu?. Bersabarlah. Yakinlah di luar sana, akan ada cinta yang indah yang menantimu”.
**
Cerita di atas sengaja saya hadirkan dalam buku ini, agar kita tahu dan mengambil pelajaran bahwa seharusnya kita tidak pantas untuk bersedih berlebihan dan berlarut. Apalagi untuk orang yang belum halal bagi kita. Pacar. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa resiko paling besar dari pacaran adalah patah hati. Bagi seseorang laki-laki mungkin mudah saja melupakan seorang wanita yang dulu mencintainya, tapi tidak bagi perempuan. Setidaknya itu yang saya alami dari pengalaman orang disekitar saya. Mereka harus berjuang keras untuk melupakan dan move on dari masa lalu mereka. Yang mereka lewati bahkan dengan air mata.
Banyak orang yang menganggap bahwa kesedihan hanya bisa di atasi dengan move on saja. Dengan mengubur kesedihannya dan menganggap bahwa kesedihan itu tidak ada, tapi tetap saja ia gagal. Lagi-lagi ia terjatuh dalam kesedihan yang sama. Walau berulang kali berusaha keluar dari lingkaran itu.
Apakah gerangan yang menyebabakan hal itu terjadi?. Apakah move on saja tidak cukup untuk mengatasinya?. Jawabannya tentu saja tidak cukup. Harus memakai cara lain yang lebih ekstrim dari pada move on. Apa itu?.
Move Up!. Yup, Move Up.
Lalu apakah move up itu sama dengan move on?. Tentu saja tidak, karena sejak awal saya sudah mengatakan bahwa move on saja tidak cukup, harus diikuti dengan move up juga.
Jika move up adalah pergerakan kita dari satu titik ke titik lain yang arahnya horisontal, maka move up adalah kebalikannya. Move up adalah pergerakan kita dari satu titik ke titik yang lain yang arahnya vertikal.
Dalam bahasa sederhananya, jika move on lebih berfokus pada perbaikan suasana hati,  dan pembaikan diri, maka move up adalah melengkapi kesemuanya tadi dengan peningkatan kualitas diri. Bagi orang yang kecewa dan bersedih mereka sadar bahwa dengan mengganti suasana hati saja tidak cukup. Jika masih berkutat pada tempat yang sama tidak akan cukup berhasil mengatasi kesedihan tersebut.
Ia sadar bahwa harus melakukan yang lebih tinggi lagi, berpindah pada tempat yang lebih tinggi. Dengan mendekatkan pada Tuhan. Meningkatkan kualitas dirinya. insyaAllah dengan semakin tinggi kualitas pribadi kita, semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin mudah juga bagi kita menyampaikan selamat tinggal pada kesedihan yang kita alami.
Ada sebuah cerita yang pernah saya baca. Kisah yang menginspirasi. Bagaimana tentang peningkatan kualitas diri dalam rangka move up bisa berefek luar biasa untuk masa depan.
Pernah lihat acara Oprah Winfrey Show?. Acara yang sangat sukses, tidak hanya di negaranya berasal, tapi seluruh penjuru dunia. Bahkan kemudian Oprah Winfrey dinobatkan sebagai wanita selebritis terkaya versi majalah forbes. Karena ketenarannya sebagai presenter dalam acara ini.
Tentu tidak banyak yang kita ketahui tentang siapa Oprah Winfrey yang sebenarnya. Para penonton mungkin hanya menikmati acara tersebut tanpa tahu siapa dan bagaimana Oprah bisa begitu sukses dalam membawakan acara tersebut. Pastinya dia sudah melewati fase yang sangat panjang untuk meraih kesuksesan itu. karena kesuksesan itu memang tidak ada yang instan.
Oprah, bernama lengkap Oprah Gail Winfrey lahir dari pasangan Afro-Amerika. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin.

Pada usia 9 hingga 13 tahun Oprah mengalami pelecehan seksual, diperkosa oleh saudara sepupu Ibunya dan teman-temannya. Hingga dia hamil. Namun, bayi yang ia lahirkan meninggal.
Setelah kejadian itu Oprah memilih untuk tinggal bersama dengan Ayahnya. Dia mendapat pendidikan yang keras dari Ayahnya. Ia diwajibkan untuk membaca buku dan membuat ringkasan. Namun, dia sadar bahwa disiplin itu lah yang kelak akan membuatnya menjadi lebih kuat dan percaya diri. Saat SMA ia termasuk siswa yang cemerlang bahkan memdapat beasiswa.

Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TV dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. 

The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional. Sungguh luar biasa! Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan, menyelamatkan keluarga, inspirasi perjuangan hidup. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya untuk membantu mereka yang tertindas atau kekurangan. 
Oprah juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Banyak yayasan yang telah ia santuni. Telah banyak orang-orang yang ia bantu. Bahkan ia mendirikan sekolah khusus anak-anak perempuan di Afrika Selatan bersama dengan pemirsa acara televisinya.

Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter, pendirian yang kokoh, semangat hidup dan menyemangati orang lain. Semangat perjuangannya pantas diteladani!

Kisah ini telah menunjukkan pada kita bahwa dengan bersedih terlalu lama akan sesuatu yang buruk yang kita alami hanya akan mendatangkan kesia-siaan belaka. Sebaliknya jika kita bisa move on bahkan kemudian diikuti dengan move up, yakinlah bahwa akan ada peningkatan dan perbaikan pada diri kita. Kualitas pribadi yang lebih matang, dewasa, lebih sabar, tawakal serta selalu mendekat pada sang Ilahi

View Post

Praaaaang.....!!!
Tetiba piring kotor yang hendak aku cuci jatuh begitu saja saat aku mendengar apa yang baru saja Alan, Suamiku katakan.
Pulang ke Indonesia!.
“Kamu nggak pa-pa, sayang?” tanyanya sambil membantuku memunguti pecahan piring yang tidak aku pedulikan. Aku masih berdiri terpaku dengan muka pucat dan hati berdebar yang tidak menentu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Setelah hampir 20  tahun Kami tinggal di Shanghai Cina tiba-tiba ia meminta untuk pulang.
Seandainya bukan kata Indonesia yang ia sebut mungkin aku tidak akan seketerkejut ini.  Satu negara yang selalu ingin aku hindari meski di relung hatiku ada sedikit rindu yang bersemayam. Satu negara yang telah membuatku terpuruk hingga bertahun-tahun. Tertatih membuatku bangkit dari luka yang begitu mendalam.
Alan, sangat tahu akan hal itu. Lalu kenapa sekarang ia memintaku untuk ikut serta pulang?
“Aku dipindah tugaskan ke Indonesia bulan depan. Kemungkinan kita juga akan menetap di sana” Jawabnya seakan mendengar jerit hatiku yang bertanya mengapa harus kembali ke Indonesia. Aku masih diam terpaku dengan sedikit gemetar mengguncang. Secangkir cappucino tetap tidak bisa menghangatkan suasana hatiku yang tiba-tiba dingin membeku.
Kami berdua sedang duduk di rooftop rumah sambil menikmati malam Shanghai membicarakan masalah ini. ia memegang tanganku yang masih erat menggenggam secangkir Cappucino dengan membisu tanpa suara.
“Sayang...sampai kapan kita akan terus bersembunyi, sudah saatnya kita melupakan semua kejadian pahit itu. Please, Indonesia yang sekarang sudah lebih baik, tidak seperti dulu saat kita harus terusir dengan kejam. Kita lupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal. Aku yakin Kamu bisa melakukannya. Terlebih ada Vivian yang sedang membutuhkan kita”.
Mendadak air mukaku menjadi pias dihadapan laki-laki peranakan Cina yang telah hampir membersamiku selama 20 tahun ini. Menjadi satu-satunya pelindungku saat aku benar-benar terpuruk di titik nol ketika harus memutuskan untuk tinggal di Cina. Ketika semua keluarga, teman dan juga kerabatku satu per satu hilang karena peristiwa mengutukkan itu.  Ia yang dengan gagah selalu ada untukku membasuh tiap kepingan luka yang sangat dalam dan berhasil membuatku berdiri tegak hingga sekarang.
Dan kata terakhir yang ia ucapkan bukan saja membuat wajahku kembali pucat, air mata tiba-tiba meleleh tanpa aku bisa bendung. Nama seorang wanita yang aku kenal sejak kecil. Sahabatku yang sejak kejadian itu, tidak pernah lagi aku mendengar beritanya. Nama itu pula yang  berhasil melemparku kembali kepada kenangan pahit itu. Kenangan 20 tahun silam.
Mei  1998
“Apa?Putus?” ujarku masih tak percaya dengan apa yang Fahri, ucapkan. Ia sahabat sekaligus pacarku sejak kelas dua SMA. Menjelang kami lulus tiba-tiba ia membuat keputusan mengejutkan dengan memintaku untuk mengakhiri hubungan yang telah lama kami bina.
“Kenapa? Karena aku Cina seperti yang Abahmu katakan?. Iya kan?” tanyaku meminta alasan.
Fahri terdiam tak bicara. Sesungguhnya bukan itu saja yang menjadi ganjalan hubungan mereka. Selain karena perbedaan suku, agama juga menjadi sandungan terberat mereka.
“Kenapa sih, Abah mu benci sekali dengan orang keturunan Cina. Apa salahku hingga tidak boleh pacaran denganmu?katakan Fahri!”
Fahri tidak mungkin mengatakan seberapa benci Abahnya dengan orang Cina pada gadis yang ia cintai.  Entahlah, dirinya juga tidak terlalu paham. Hanya saja menurut kabar yang ia dengar kakak perempuannya yang telah meninggal adalah karena ulah orang keturunan Cina. Meninggalnya sang kakak telah menorehkan luka yang dalam pada hati Abahnya hingga ia juga dilarang keras untuk berhubungan dengan orang keturunan Cina. Terbukti saat Amy, pacarnya serta Alan dan Vivian sahabat mereka berkunjung ke rumah, Abahnya tidak pernah bersikap ramah.
“Itu salah satunya...” akhirnya Fahri menjawab.
Aku terkekeh tak percaya mendengar jawabannya. Aku tak percaya, Abahnya yang alim dan dikenal sebagai tokoh agama di rumahnya bisa sebenci itu dengan orang Cina tanpa aku tahu sebabnya. Pantas saja saat aku berkunjung ke rumah tidak pernah mendapatkan kesan ramah dari beliau. Hanya pandangan sinis dan gerak laku yang  tidak mengenakkan.
Aku masih ingat Fahri pernah mengatakan bahwa perbedaan kami yang jelas kentara tidak akan menghalangi. Semua akan melunak seiring berjalannya waktu. Ia yakin hubungan mereka bisa langgeng. Aku juga masih ingat jelas ucapannya bahwa cinta tidak pernah mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada. Memang benar, dia lah dan keluarganya yang akhirnya membuat perbedaan itu ada.
“Kenapa kau masih di sini Amy?” tiba-tiba Alan datang di tengah-tengah kami dengan nafas memburu.
“Ayo cepat pulang!demo dimana-mana dan rumah kita juga sudah hampir dirusak massa”belum sempat aku bertanya, Alan sudah berujar lagi tanpa memberiku kesempatan untuk bicara dan membawaku pergi.
Apa yang dikatakan Alan benar. Kondisi Jakarta akhir-akhir ini tidak kondusif. Banyak demo dimana-mana yang dilakukan para mahasiswa yang menuntut turunnya presiden Soeharto. Demo yang diatas namakan keadilan reformasi nyatanya makin buas dan melibatkan banyak korban utamanya kami para warga Tionghoa.
Beberapa hari yang lalu jelas kudengar cerita Ayahku yang mengatakan mulai banyak penjarahan diberbagai toko milik warga Tionghoa. Semua dijarah hingga tak bersisa. Dan hari ini atmosfer suhu semakin meningkat dengan makin brutalnya massa yang tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Sesampainya aku di rumah, hanya suasana ngeri yang dapat aku lihat. Rumah satu-satunya telah rusak karena amuk massa yang tidak terkontrol. Teriakan mengerikan terdengar dari berbagi sudut yang semakin tenggelam dengan hiruk pikuk orang pribumi yang semakin mengganas menghajar etnis Tionghoa yang tidak tahu menahu dengan demontrasi yang akhir-akhir ini terjadi.
Aku terpaku tak percaya saat mendapati Ayahku tergeletak tak berdaya dengan luka diberbagai bagian tubuhnya. Kondisi rumah porak-poranda. Beberapa barang hilang entah kemana. Aku bergegas mencari Ibu dan Kakakku ke dalam rumah ditengah suasana di luar rumah yang makin panas. Alan yang sedari tadi menemani entah kemana, mungkin dia juga tengah melihat kondisi keluarganya sendiri yang sama denganku, mendapat perlakuan semena-mena dari warga pribumi.
Alangkah terkejutnya aku saat aku mendapati Ibu dan Kakak perempuanku yang tengah dikeroyok beberapa orang laki-laki yang bermuka buas dan hendak melecehkan kedua orang orang yang kusayangi. Dengan keberanian tinggi kudatangi mereka dan berteriak histeris untuk menghentikan pelecehan tersebut.
Namun, apalah dayaku sebagai perempuan kekuatanku kalah dibandingkan mereka. Mereka semakin buas dan ganas melukai Ibu dan Kakakku. Aku semakin tak berdaya sebelum pandanganku perhalan semakin gelap dan menghilang.
***
Jakarta, Februari 2019
Jika dihitung mungkin hampir dua dekade lamanya aku meninggalkan tanah airku. Pagi ini, entah kekuatan apa yang mendorongku hingga menyetujui keinginan Alan untuk kembali ke Jakarta. Kota yang dulu sangat tidak ingi aku injak setelah kejadian mengerikan di bulan Mei 20 tahun yang silam.
Kejadian tragis yang membuatku kehilangan kedua orang tua dan juga kakak perempuanku. Kami sama-sama menjadi korban perkosaan para orang pribumi yang saat itu dengan menggila melukai banyak orang etnis Tionghoa karean dianggap mengotori tanah air dan juga yang paling parah adalah banyaknya para amoy yang jadi korban perkosaan saat itu. Termasuk aku.
Jika Ibu dan Kakaku memilih bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu, aku masih beruntung dapat bangkit dengan cara yang tidak mudah. Alan adalah salah satu orang yang selalu berhasil menguatkan aku untuk tidak ikut mengakhiri hidup dan harus kuat bertahan.
Agar tidak semakin trauma, Alan membawaku bersama keluarganya ke Cina dan melakukan terapi serta pemulihan. Mencoba bangkit dari kenangan yang terlalu pahit.
Kini aku di sini kembali, karena selamanya aku tidak mungkin menghindar. Tali ikatan dengan kota ini rupanya masih ada hingga membuatku lebih ringan. Salah satu yang membuat semakin ringan adalah keberadaan sahabatku Vivian yang juga jadi korban perkosaan. Namun, nasibnya lebih malang dariku.
Ia sebatang kara dan kini berada di rumah sakit jiwa sendirian menghadapi trauma yang ia alami. Kini aku harus membantunya agar ia juga bisa bangkit seperti diriku. Meski aku tahu waktuku sedikit terlambat. Aku datang vi...aku datang
Taksi yang membawaku semakin melaju menjauhi bandara Soekarno Hatta. Kini suasana Jakarta telah aku hirup kembali. Semuanya memang telah berubah. Banyak yang berubah.
Sebelum berangkat ke Indonesia tanpa disertai putra putriku yang kini tengah menempuh pendidikan di negeri Paman Sam, sedikit banyak aku mulai mencari tahu kembali tentang Indonesia. Suatu hal yang jarang aku lakukan. Jika pun harus mencari kata Indonesia di dunia maya, selalu keringat dingin yang muncul.
Nyatanya, Indonesia kini lebih berwarna. Jika dulu kami para etnis Tionghoa diremehkan dan tidak dianggap, semenjak kepemimpinan presiden Gusdur, semua hal itu musnah. Kami lebih dihormati. Apalagi agama kami juga akhirnya diresmikan sebagai agama nasional.
Yang paling membuatku begitu terharu adalah ketika tahu bahwa ternyata mantan gubernur Jakarta adalah orang keturunan Tionghoa, hatiku makin teriris. Ah, seandainya.....
Buru-buru kutepis pikiran itu. Tidak ada gunanya.
“Berhenti..., berhenti pak!” pintaku pada sopir taksi yang membawaku dan Alan ketika di tengah jalan aku mendapati atraksi barongsai yang begitu ramai. Suasana Cina kental terasa saat aku mencoba mendekat. 
Benar kata Alan. Kini Jakarta telah berbenah. Setidaknya telah menerima etnis kami Tionghoa ditengah-tengah mereka. Buktinya kini perayaan Cina mulai terbuka dinikmati. Padahal dahulu tidak pernah ada.
Aku menikmati setiap atraksi yang disertai dengan sorak orang non Tionghoa yang menyaksikan. Kentara sekali mereka menikmati atraksi tersebut. 
Kesenian Barongsai memang sejak dahulu mempunyai magnet yang dapat membuat orang terpukau dengan segala gerakannya. Gerakannya yang rumit dan atraktif yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih. Anak-anak muda permain Barongsai itu mengingatkanku pada masa laluku ketika kerabat dan temanku sesama orang Cina bermain diam-diam tatkala merayakan hari Imlek.
Kini setelah adanya reformasi, bahkan dari ekor mataku yang sipit kulihat ada pemain Barongsari dengan wajah peranakan Jawa. Sungguh negeri ini telah berubah.
“Aduh... maaf..maaf mbak” sesosok suara mampir di telingaku tatkala aku merasa ada seseorang yang telah menginjak kakiku. Saat aku hendak melihat orang tersebut alangkah terkejutnya ketika aku tahu siapa yang tengah berada dihadapanku. Aku memang belum lupa pada sosok itu. Sosok yang dahulu berjanji padaku.
“cinta itu tidak mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada”

View Post

Apakah Bunda pernah mellihat seorang anak kecil yang lebih suka mantengin Hp bersama dengan teman-temannya?
Atau tanpa sengaja lewat di depan sebuah warung kopi dan melihat beberapa anak yang sibuk dengan hp nya sendiri-sendiri?
Pemandangan semacam itu rasanya tidak asing lagi ya, sekarang.
Amat mudah untuk hal yang demikian bukan?
Majunya teknologi diikuti dengan semakin canggihnya handphone saat ini, sangat mendukung sekali sehingga kini banyak anak yang lebih nyaman bercengkerama dengan HP. Apalagi dengan munculnya fitur-fitur serta situs yang mudah diakses. Semakin membuat anak terlena dan bahkan mungkin hingga lupa waktu.
Hal tersebut tentu miris sekali, karena kini seorang anak lebih suka bercengkerama dengan Hp dari pada bermain bersama dengan temannya di alam bebas atau sekedar membaca buku bersama seperti yang dilakukan oleh orang tuanya dulu.
Ngomong-ngomong soal membaca buku, menurut penelitian, tingkat minat membaca penduduk Indonesia tergolong rendah. Sungguh hal ini amat disayangkan apabila ternyata banyak anak sebagai generasi selanjutnya, yang lebih suka bermain dan akrab dengan HP dibandingkan dengan buku. Tidak seperti di negara maju lainnya yang masih dapat dilihat para penduduknya asyik membaca buku bahkan di tempat umum.
Untuk membuat anak gemar membaca memang gampang-gampang susah. Karena jika tidak ada ketertarikan, akan sulit untuk mendekatnya dengan buku. Walaupun terlihat sulit, kebiasaan membaca buku ternyata dapat dimulai dari bayi lho. 
Dan cara ini dinilai lebih efektif, mudah dan terbukti sukses membuat anak gemar membaca dan akrab dengan buku. Ingin tahu cara jitunya? Pastikan bahwa Bunda akan konsisten melakukannya ‘sehingga hasilnya cepat terasa;
1. Biasakan Dekat Buku Sejak Dini
Untuk membiasakan anak gemar membaca buku sebenarnya tidak ada istilah terlalu dini. Tujuannya memang bukan membuat anak bisa membaca, tapi lebih pada agar anak bisa dekat dan terbiasa dengan buku.
Ada banyak buku yang bisa dikenalkan pada anak usia dini. Ada buku dari kain flanel, hardbook, buku warna-warni serta banyak buku lainnya. 
Lewat membaca buku diharapkan dapat menstimulus anak untuk mengenalkan pada sebuah buku.  Harapannya agar anak bisa memulai untuk mencintai buku terlebih dahulu. Ketika anak beranjak besar, boleh juga mengenalkan buku-buku bergambar sehingga anak akan lebih tertarik.


2. Membacakan Buku dengan Keras
Membacakan buku dengan intonasi dan suara yang keras, dipercaya tidak hanya bisa mendekatkan seorang anak dengan buku, tapi juga dapat memperkenalkan berbagai kosakata baru kepada anak. 
Libatkan anak untuk ikut serta berinteraksi ketika membacakan sebuah buku, bisa dengan  menunjukkan gambar menarik atau sekedar mengajaknya berbicara. 
Oh, ya waktu yang tepat untuk membacakan buku pada seorang anak lebih efektif ketika dia hendak tidur. Stimulus dan sugestinya akan lebih cepat masuk. Meskipun pada waktu lain, Bunda juga bisa membacakan sebuah buku untuk anak. Bisa saat anak tengah bermaian atau ketika sedang santai.
3. Kelilingi Anak dengan Beragam Buku
Sangat mustahil apabila Bunda ingin punya anak yang dekat dengan buku dan gemar membaca, tapi tidak memfasilitasi dengan adanya berbagai buku disekeliling anak.
Bunda bisa menyediakan berbagai jenis buku, di tempat yang mudah dijangkau anak. Dengan demikian setiap dia memandang sudut rumah, yang terlihat adalah buku.  Atau bisa juga sesekali mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan umum.


4. Jadilah Teladan dengan Sering Membaca Buku di depan Anak
Tidak hanya perlu menyediakan buku saja lho, Bunda. Cara efektif selanjutnya agar anak gemar membaca adalah dengan menjadi teladan baginya. Sering-seringlah membaca buku di depannya. Jika Bunda tidak memberi contoh demikian, mana mungkin anak punya ketertarikan dengan buku. Ingat, jiwa anak itu selalu dipenuhi dengan penasaran dan seorang peniru ulung.
Sebagaimana ketika Bunda lebih asyik memegang HP, maka anak akan penasaran mengapa orang tuanya lebih suka dengan HP dan akhirnya pun anak juga akan ikut akrab dengan HP. 
5. Berikan Motivasi, tapi Tidak Memaksa
Peran orang tua dalam menumbuhkan minat baca pada anak sangatlah penting, agar prosesnya terasa menyenangkan . seorang anak akan lebih senang jika saat melakukan aktivitas didampingi oleh orang tuanya.
Pun ketika membaca, Bunda bisa berbicara padanya tentang pentingnya membaca dan mencintai buku. Namun, yang harus diingat jangan sampai memaksakan anak untuk membaca jika ia sedang tidak tertarik. Karena hanya akan menimbulkan traumatis baginya. Santai saja dalam menjalani prosesnya.

6. Jadikan Buku Sebagai Hadiah
Amat jarang dilakukan, apabila seorang anak ulang tahun atau menjadi juara memberinya sebuah buku sebagai hadiah. Padahal buku juga bisa dikategorikan hadiah yang menarik lho, Bunda. Tentu saja buku yang diberikan harus sesuai dengan usia anak dengan tampilan yang menarik agar anak semakin bersemangat.
7. Terus Pupuk Kebiasaan Hingga Besar
Anak telah ada tanda-tanda gemar dan akrab dengan buku? Tugas Bunda selanjutnya adalah memupuk kebiasaan itu hingga anak beranjak dewasa. Terus fasilitasi anak dengan buku bermutu dan bermanfaat.
Buku adalah jendela dunia, dengan banyak membaca, maka pengetahuan anak akan semakin bertambah.

Bagaimana Bunda, cukup mudah bukan cara membuat anak agar gemar membaca. Yang dibutuhka adalah komitmen Bunda untuk terus menstimulus anak dengan berbagai buku, tetap konsisten dan tidak mudah menyerah.

View Post




Suatu pagi, sebelum bekerja, seperti biasa aku menyempatkan untuk membaca koran terlebih dahulu. Pada koran Jawa Pos,terdapat sebuah berita tentang nenek yang meninggal dalam usia 145 tahun. Usia yang cukup panjang untuk ukuran umur manusia zaman sekarang. Bahkan dalam berita tersebut dikatakan bahwa nenek tersebut masih bugar dan kuat ingatannya hingga umur yang begitu senja.
Di akhir berita, dijelaskan tentang rahasia sang nenek tersebut hingga punya usia yang begitu panjang selain karena karunia Tuhan. Ternyata makanan yang ia makan serta pola hidup yang sehat menjadi kuncinya. Selama hidup sang nenek hanya mengkonsumsi makanan yang direbus, dibakar  dan sedikit makan makanan yang digoreng, serta tidak makan makanan yang tidak mengandung bahan pengawet atau pun bahan penyedap. Sang nenek hanya makan dengan bumbu yang alami.
Sungguh berbeda dengan zaman sekarang. Beragam makanan dapat kita jumpai dengan beragam, bentuk, rasa dan penyajian. Makanan yang instan yang sering kita sebut fast food mudah kita jumpai dan kita dapatkan dengan harga murah.
Namun, kita tidak pernah sadar mudahnya serta murahnya makanan itu kita dapat, justru membuat kita semakin tidak sehat. Bisa kita lihat sekarang angka kematian di usia muda sangat tinggi. Penyebab kematian tersebut yang rata-rata karena serangan jantung dan stroke berasal dari pola makan yang salah. Makanan yang tidak kita jaga, baik itu pola maupun nilai gizi dan kandungannya membuat penyakit itu mudah bersarang dan menyebabkan kematian dini.
Apalagi zaman sekarang, menurut investigasi berbagai pihak, makanan yang beredar sekarang tidak hanya mengandung bahan penyedap tapi juga bahan pengawet berupa bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.
Miris tentunya. Kemajuan teknologi sekarang seharusnya dapat memanjakan kita menikmati berbagai makanan yang seharusnya membuat kita makin sehat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kemajuan teknologi malah menjadi senjata makan tuan.
Melihat fenomena tersebut, teringat curhat seorang teman yang anaknya berusia hampir 2 tahun. Begitu susah diberi makan ketika makanan tersebut tidak diberi penyedap. Beda ketika makanan itu diberi penyedap, anak tersebut akan makan dengan lahap sekali. Selidik punya selidik ternyata oleh tetangganya, anak tersebut kerap diberi makanan kecil yang tentunya sudah bercampur dengan bahan penyedap dan pengawet.

Memang begitu susah jika kita menerapkan hidup sehat. Terutama soal makanan saat dewasa. Yang tentunya lidah kita terbiasa dengan makanan yang berpengawet, berpenyedap dan mengandung banyak bahan kimia. Kita akan merasa minder jika makan makanan yang berbahan alami dan tidak cepat saji tentunya. Karena selain fashion, makanan sudah menjadi life style yang justru mengarahkan kita pada kematian.
Namun, dibalik berondongan makanan cepat saji, untunglah masih ada sekelompok manusia yang masih sadar akan hidup sehat. Dan akhirnya berbondong-bondong mengkonsumsi makanan sehat. Mulai menjauhi makanan cepat saji dan beralih pada makanan organik.
Sejatinya, keinginan sehat itu ada pada diri kita sendiri. Jika sejak awal begitu banyak penyakit yang berawal dari makanan dan kita mau menjaga pola makan kita, tentu hidup kita akan lebih sehat. Dan penyakit semacam kolesterol, jantung dan stroke dapat kita hindari.
Alangkah bijaknya jika mulai sekarang menerapkan pola hidup sehat. Dengan menghindari bahan pengawet, bahan penyedap dan makanan ringan lain yang membahayakan untuk kesehatan kita. Tentunya langkah itu lebih baik jika dimulai dari kita sendiri. Para perempuan yang dalam keluarga bertanggungjawab menata pola makan keluarga. Terutama untuk generasi penerus. Jika sejak dini mereka diberi kesempatan untuk makan yang sehat-sehat tentu akan terbawa hingga dewasa.
Mari kita biasakan pola makan sehat.

View Post


Ada yang janggal dengan judul ini?sebelum membahasnya, saya ingin bercerita sedikit
Alkisah, ada 3 bersaudara kakak beradik. yang sulung laki-laki, anaknya aktif banget. Tidak bisa diam berpangku tangan. Aktif kegiatan di luar rumah apalagi di sekolah, dia begitu tergila-gila dengan kegiatan yang berhubungan dengan alam. Seperti seorang aktifis yang selalu ikut kegiatan ini dan itu. Dan paling getol dengan kegiatan sosial. Paling tidak bisa melihat orang susah, selalu ingin membantu yang lemah dan membutuhkan. Terus bagaimana sekolahnya jika lebih aktif kegiatan  di luar?. Tidak terlalu luar biasa?lima besar memang selalu dipegangnya, tapi paling tidak suka dengan pelajaran eksak. Tidak heran ada guru yang tidak begitu antusias dengannya karena meskipun masuk jajaran lima besar karena tidak mahir pelajaran eksak, ya biasa saja.  Satu lagi, meski terkadang cuek dengan pelajarannya dan lebih nyaman, berkegiatan di luar, dia punya prestasi yang tidak kalah hebatnya dibanding lima besarnya itu. Hafal beberapa surat dalam al-qur’an. Bahkan surat favoritnya yang selalu di hafal  adalah surat  Ar-Rahman.
Anak kedua, masih laki-laki jenis kelaminnya. Pendiam, tidak seperti saudaranya yang begitu aktif di luar, dia lebih suka berkutat dengan buku. Jago main komputer, betah banget kalau di suruh di depan komputer untuk nemuin program terbaru, sibuk utek-utek pokoknya. Jadi favorit guru-guru karena kepiawaiannya dalam beberapa pelajaran terutama pelajaran eksak. Aktifitasnya di luar?biasa saja, tidak terlalu tertarik seperti saudaranya. Prestasinya pun Cuma berkutat dalam dunia akademik.
Anak ketiga, jenis kelaminnya sudah berubah. Kali ini perempuan. Energik,tomboi, sama seperti saudaranya yang pertama, begitu cinta dengan kegiatan alam. Ada saja yang dikerjakan di lapangan, tidak pernah berhenti. Meski aktif di luar, prestasi disekolah pun tidak kalah yahud, kutu buku seperti saudara keduanya. Seperti saudaranya yang pertama, yang juga tergila-gila dengan alam dia juga begitu menggilai waktu menghapal surat Ar-rahman. Ibaratnya yang terakhir ini adalah perpaduan saudara yang pertama dan kedua. Prestasi di lapangan oke, sekolah pun jago. Jadi penulis best seler juga.
Ada nggak kisah semacam di atas di dunia ini?sttt....yang di atas belum jadi kisah nyata. Karena itu masih jadi  angan-angan saya semata, hanya tokoh rekaan yang baru akan terwujud beberapa tahun kemudian.
Tapi, kisah nyata seperti itu di dunia nyata sudah begitu banyak, bahkan berjibun saking banyaknya. Tulisan ini pun terinspirasi postingan sepupu saya tentang muridnya yang tidak begitu piawai dalam akademik, tapi ternyata sangat jago di luar akademik. Yupz, dia bisa membuat sebuah kapal dengan desain yang begitu detail meski jika di suruh menghitung dengan itung-itungan eksak dia mungkin gak bakalan detail dalam menghitungnya, sedetail hasil rancangannya.
Fenomena semacam itu, mungkin sering kita temui. Anak yang biasa saja dalam dunia akademik, bahkan cenderung diremehkan ternyata menyimpan potensi luar biasa. Multiple Intelegensi.
Sebagai guru, kerabat, teman, orang tua, sebagai manusia terkadang pikiran kita begitu sempit. Menganggap potensi luar biasa seorang anak, ada pada nilai akademiknya. Kita begitu mendewakan nilai bagus di dalam raport, tapi menganggap biasa saja nilai luar biasa di luar itu.
Anak yang berprestasi dalam dunia akademik, pasti di cap sebagai anak yang pintar. Dan anak yang tidak punya bakat dalam bidang ini pasti di cap anak bodoh. Padahal, tahukah kita anak yang cenderung tidak berprestasi di dunia akademik selama sekolah dan di cap bodoh rata-rata cenderung bisa lebih berhasil di banding dengan yang berprestasi di akademik.
Tahu cerita Albert Einsten atau Alva Edison, atau tokoh besar lainnya, yang dulu semasa kecil di cap sebagai anak bodoh karena nilai matematikanya jelek dan tidak berprestasi?. Dan lihatlah sekarang, tinta emas dunia telah menorehkan nama mereka abadi sepanjang masa. Di puja ribuan massa.
Mereka memang dicap sebagai orang bodoh, tapi mereka punya bakat luar biasa di luar akademik yang berhasil mereka kembangkan dan mereka tekuni meski tak mahir matematika hingga pentas dunia akhirnya mengakui kejeniusan mereka. Seperti halnya, kisah Einsten, Edison atau mungkin murid dari sepupu saya yang mungkin diremehkan prestasi akademiknya, akan ada banyak anak lain yang akan seperti mereka.
Pemikiran kita sebagai manusia, yang sudah terlanjur terdoktrin bahwa prestasi itu ya, di bidang akademik. Nilai bagus, apalagi nilai matematika. Jadi rangking satu, juara ini itu de el el. Seharusnya harus kita ubah mulai dari sekarang.
Banyak lho, anak-anak yang tidak berprestasi di akademik, tapi bisa melejit. Bukankah setiap anak memang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada anak yang akademiknya luar biasa sukses, tapi melempem di luar akademik. Atau sebaliknya. Kekurangan dan kelebihan semacam ini yang harus kita tangkap dan kita arahkan hingga dikembangkan. Bukan malah men cap bahwa anak yang nilainya jelek itu tidak berprestasi. Mungkin dia bisa berprestasi di bidang yang lain yang bisa mengantarkannya pada kesuksesan.
Mengenai kekurangan dan kelebihan ini, saya teringat kisah teman sekelas saya waktu menempuh kuliah matematika. Suatu hari, sebelum masuk kelas analisis fungsional saya bertanya padanya kok dia bisa ngulang matakuliah ini bahkan sampai dua kali(karena kita sama-sama dapat nilai D pada matakuliah ini dan dua kali pula hehehe), padahal setahu saya dia itu pintar. Dengan terus terang dia bilang bahwa memang dia tidak jago pada pelajaran analisis. Saya memang tahu dia mahir pada komputasi. Hingga suatu saat dia membuat saya terpukau dan geleng-geleng dengan kecerdasannya dalam komputasi waktu dia menunjukkan program buatannya yang bisa menerjemahkan skripsinya dalam 4 bahasa atau program buatan dia yang lain yang membuatku makin kagum. Saat itu lah dia sudah menunjukkan, memang benar dia lemah dalam matakuliah analisis, tapi sangat kuat dalam komputasi. Dia bisa menutupi kekurangannya dengan kelebihan luar biasa yang ada pada dirinya.
Bukankah sudah saatnya kita mengubah paradigma kita tentang sebuah prestasi. Tidak selamanya prestasi itu selalu dikaitkan dengan prestasi akademik. Prestasi di luar akademik bisa lebih luar biasa cerdasnya. Jangan lah terburu-buru men cap seorang anak itu bodoh, hanya gara-gara dia tidak pandai dalam matematika, fisika, kimia atau pelajaran eksak yang lain. Prestasi tidak harus selalu disertai deretan nilai bagus di raport, rangking 1 de el el. Lebih dari itu jika dia memanfaatkan potensi dan mengimbangi kekurangan dengan potensi apa pun yang di punya, yakin saja dia bisa semoncer prestasi akademik.
Sudah siap mengubah paradigma kita?

View Post


Wanita!.
Salah satu bahasan yang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibicarakan dari jaman dahulu hingga sekarang salah satunya adalah wanita. Dari mulai kelahirannya hingga kelak akhir zaman, selalu menarik.
Tapi saya tidak mau membahas masalah sepanjang itu. Ada bahasan yang selalu menggelitik untuk saya ungkap dalam tulisan ini. Kecerdasan dan peranan wanita dalam peradaban.
Kita tahu sejak  dahulu bahkan sebelum adanya agama Islam, wanita selalu terpinggirkan. Bahkan ketika jaman jahiliah wanita begitu tidak diharapkan. Dibunuh hidup-hidup. Hingga Islam datang dan mengangkat derajat wanita ke arah yang lebih tinggi.
Namun, meski Islam sudah meletakkan posisi wanita sebagai makhluk yang mulia, tetap saja wanita mendapatkan diskriminasi. Terutama soal pendidikan. Kita tahu bahwa, masih tabu jika wanita mempunyai pendidikan yang tinggi. Selalu saja ada yang meremehkan.
Untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya harus berada dirumah mengurus suami, dan anak. Atau istilah yang sering kita dengar, wanita cukup tahu urusan sumur, kasur dan dapur. Hanya itu saja.
Padahal tidak demikian. Wanita dengan pendidikan tinggi berpeluang menghasilkan generasi yang hebat pula. Saya analogikan seperti ini, jika sang wanita hanya ingin berpendidikan A, maka ilmu yang ia ajarkan pada anaknya hanya A saja, karena itu yang ia tahu. Lain jika sang Wanita punya pendidikan A, tapi ia juga masih ingin menambah ilmu lain, hingga Z misalnya, maka ilmu yang ia berikan pada anaknya juga akan banyak, tidak hanya satu ilmu saja. Bukankah seorang wanita adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Lalu bagaimana jika ada pertanyaan, saya tidak bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi hingga S3 misalnya, hanya sampai SMA atau hanya sarjana S1 saja, lalu bagaimana?.
Sekali lagi saya lebih senang menekankan bahwa wanita cerdas itu tidak harus bertitel profesor, pendidikannya harus sampai S3, tidak harus. Meski hanya berpendidikan SMA atau dibawahnya, ia masih bisa menjadi wanita cerdas jika terus mau belajar. Ilmu tidak selalu di dapatkan di jenjang formal, bisa dari informal. Ingat kehidupan adalah sekolah kita yang sebenarnya. Mungkin memang lebih baik mempunyai pendidikan hingga S3 jika bisa, tapi tidak tertutup kemungkinan kita pun masih bisa cerdas dengan cara lain. Apa itu?
Yang paling sederhana, dan yang paling kerap di abaikan, BACA BUKU. Sederhana, tapi sulit dilakukan. Padahal dengan banyak membaca kita akan banyak tahu tentang hal-hal yang tidak akan kita dapatkan di dunia formal. Perluas wawasan dengan banyak membaca berbagai macam buku.
Kedua, dengan majunya teknologi informasi banyak pengetahuan yang kita dapatkan dari internet, dari televisi dari media cetak dan lain-lain. Hidup sekarang serba enak dan cepat, jadi tak ada alasan untuk tidak menambah pengetahuan.
Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang yang berilmu. Disekitar kita pasti banyak, kita tinggal mengambil ilmu mereka dengan banyak ngobrol dengan mereka.
Wanita. Entah dia seorang wanita karir dalam hidupnya atau full menjadi Ibu rumah tangga, harus tetap punya semangat untuk menambah pengetahuannya. Karena, tentu kita akan senang sekali jika kita kelak sebagai seorang wanita punya generasi yang cerdas juga kan.
Terakhir, ada sebuah kutipan yang menarik hati saya:

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai Ilmu pengetahuan(Rohana Kudus).

Tuh...tidak ada keraguan lagi kan, kalau wanita itu harus Cerdas!.

View Post


Malam itu saya membaca sebuah buku karya Nur Cholis Huda seorang penulis di majalah Muhammadiyah, tentang sebuah tulisan yang berjudul Inspirasi. Dalam tulisan itu diceritakan terdapat gadis yang mengalami cacat fisik saat lahir. Dia mengalami lobster claw sindrome. Jumlah kedua jari tangannya tidak sepuluh, tapi hanya empat. Kedua kakinya hanya sebatas lutut. Namun, dia bisa menjadi sebuah inspirasi dengan menjadi pemain piano terkenal.
Sang Ibu yang melahirkannya tidak pernah menyesal telah melahirkan seorang putri yang cacat. Dia tetap membesarkan anaknya dengan penuh cinta. Sadar bahwa putrinya mempunyai kekurangan, sang Ibu mencoba mencari dan menjelajahi semua hal yang bisa di lakukan anaknya agar kelak saat dewasa tetap bisa berguna meski punya kekurangan. Maka sang Ibu mulai melatih motorik sang putri dengan mengajarinya bermain piano. Upaya sang Ibu akhirnya berhasil. Putrinya berhasil menjadi pemain piano dan menjadi Inspirasi di dalam keterbatasannya.
Membaca kisah tersebut, saya teringat dengan murid-murid saya dahulu. Beberapa dari mereka ada yang terlahir sebagai anak autis dan ada juga yang mengalami kelainan fisik karena terkena step.  Sebagian orang mungkin memandang mereka sebagai anak yang tidak mungkin berhasil dan cenderung meremehkan potensi mereka. Bahkan mungkin mereka menganggap mereka sebagai gangguan. Dengan tingkahnya yang kadang hiperaktif.
Namun, setelah saya bergaul dengan mereka beberapa hari saya menemukan sesuatu yang luar biasa pada mereka. Memang secara kasat mata mereka benar-benar berbeda dengan teman sebayanya. Secara penglihatan mungkin mereka juga tidak secerdas teman-temannya yang lain. Namun, dibalik semua itu Tuhan memberikan sesuatu dibalik kekurangan mereka.
Salah satu murid saya yang terkena Autis mempunyai kelebihan pada bidang matematika yang luar biasa. Di saat teman-temannya masih sibuk berhitung dengan jari-jari mereka saat saya memberi soal, anak tersebut bisa menjawab soal tersebut hanya kurang dari satu menit. Hal kecil yang selalu membuat saya tersenyum jika mengingat hal itu.  Begitu pula dengan temannya yang juga kena autis mempunyai minat yang luar biasa pada buku dan olahraga. Satu temannya yang lain yang juga punya keterbatasan punya minat yang luar biasa pada komputer. Itu lah mereka punya kelebihan yang unik yang dihadirkan Tuhan dibalik kekurangannya.
Tanpa kita sadari sesungguhnya mereka yang terlahir dengan keterbatasan dan segala kekurangan, tentu punya kelebihan. Kita terkadang memandang mereka dengan satu kacamata saja, bahkan kadang cenderung meremehkan dan tidak menghargai. Karena kita selalu memandang kekurangannya tanpa memandang apa kelebihannya.
Seyogyanya Tuhan menciptakan segala sesuatu itu selalu berpasangan. Ada malam tentu ada siang. Ada suka pasti ada duka. Ada kekurangan pasti ada kelebihan dibalik kekurangan itu.  Kita pun terkadang tidak pernah sadar dengan kelebihan yang kita punya. Seseorang terlalu sibuk memikirkan kekurangannya terus menerus hingga membuatnya merasa tidak percaya diri. Tidak pernah sekalipun mengintip atau bahkan mencari tahu apa yang menjadi kelebihannya untuk menutupi kekurangannya. Karena pada hakikatnya setiap manusia selalu dikaruniai potensi masing-masing.
Mungkin harusnya kita punya malu pada mereka yang punya kekurangan, tapi mampu menutupi kekurangannya itu dengan prestasi yang luar biasa. Kita yang dilahirkan normal tanpa ada kekurangan selalu saja menuntut pada Tuhan kenapa seperti ini dan seperti itu. Kita selalu saja kehilangan rasa syukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan pada kita.
Alangkah baiknya jika kita mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Dengan menggali potensi secara maksimal bukankah itu termasuk wujud syukur kita pada Tuhan?. Tuhan tidak mungkin memberi sesuatu yang buruk pada kita. Jika pun kita diberi sesuatu yang buruk akan ada yang baik yang mengikuti. Jika Tuhan memberi kita kekurangan pasti Tuhan telah mengirimkan kelebihan yang lain pada kita juga. Tinggal bagaimana cara kita menggali kelebihan itu. Suatu kekurangan bukanlah sebab untuk menuntut Tuhan bahwa Tuhan itu tidak adil pada kita. Kekurangan itu seharusnya kita gunakan untuk mencari tahu sebenarnya apa kelebihan kita.
Percayalah Tuhan itu Maha Adil.

View Post

“Tidak harus menjadi artis terkenal untuk bisa menginspirasi banyak orang. Goreskan penamu, dan guncang dunia dengan untaian kata inspirasimu”




Menulislah Untuk Bahagia
Jika ditanya kapan Aku  mulai menulis, sejak kelas 5 SD!
Rentang waktu yang cukup lama, ya. Aku mulai mengenal dunia tulis menulis ketika Ayahku rajin membawakan majalah anak yang banyak berisi dongeng. Dari situ kemudian timbul keinginan untuk menulis dongeng yang serupa.
Hobi menulis itu kemudian berlanjut hingga sekarang. Yang tadinya hanya menulis dongeng, cerpen mulai naik kelas menulis novel yang masih terbilang receh karena butuh banyak belajar. Hingga SMA entah berapa tulisan panjang yang bisa Aku hasilkan. Namun, jejak itu kini tak bersisa entah kemana.
Walaupun setelah menikah hobi menulisku pernah terhenti, kini tertatih untuk memulai lagi menorehkan pena dalam sebuah tulisan. Bukan novel lagi yang saat ini menjadi ketertarikan. Akhir tahun 2016, Aku pertama kali diperkenalkan dengan dunia penulisan artikel yang masih awam bagiku.
Meskipun belajarnya otodidak, sampai saat ini dunia artikel ini lah yang membuatku jatuh cinta lagi dan bersemangat untuk menulis dan menulis. Menjadikan menulis artikel sebagai pekerjaan sampingan, nyatanya telah banyak hal positif yang Aku dapatkan.
Mulai dari hal-hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya, bertemu dengan orang-orang hebat, komunitas menulis yang begitu bersemangat membagi ilmu kepenulisan, bertemu dengan banyak penulis lain yang hebat, hingga merapal impian di dalam dream book yang sempat tergeletak tanpa aku sentuh. Dan tentu saja limpaham materi yang berkecukupan dari hasil menulis.
Tidak dapat dipungkiri jika menulis dapat membuatku menemukan jalan baru yang tidak sempat Aku duga sebelumnya. Menulis pula yang pada akhirnya mengantarkan Aku ke gerbang dimana di dalamnya terdapat banyak orang yang siap untuk membimbing dan memberiku sejuta ilmu.
Menulis seakan telah memberi separuh nyawa baru untuk merenda mimpi yang sempat tertunda. Menulis dan menulis.


Menulis dan Impian Selangit
Tiga tahun terakhir, bisa dikatakan banyak perubahan yang kurasakan dalam dunia tulis menulis. Jika dulu hanya mengenal cerpen, novel dan dongeng, akhir  2017 Aku dikenalkan dengan dunia artikel yang ternyata tidak kalah menantangnya. Berawal dari tawaran menjadi penulis freelance, artikel kini menjadi genre yang benar-benar kuseriusi.
Tidak hanya itu, semakin lama belajar dengan dunia penulisan artikel dan seluk beluknya, akhirnya mempertemukanku dengan banyak orang hebat di dunia kepenulisan. Terjun dalam komunitas penulisan, pelatihan menulis dan mengikuti banyak event menulis.
Semua kulakukan dengan satu tujuan, semakin mendapatkan banyak ilmu baru dan memperbanyak pengalaman. Bertemu mereka, yang pakar dibidang menulis membuatku sadar, bahwa Aku harus segera mengupgrade ilmu baru, sebab dunia tulis menulis telah berkembang luas dan jauh.
Di tengah jalan, ketika sedang asyik belajar menulis artikel yang SEO dan mengirimnya ke media online, tiba-tiba terbesit keinginan untuk menyambangi blog yang sudah mati suri. Belajar di komunitas menulis, blog selalu menjadi pembicaraan yang intens sehingga akhirnya Aku  tahu bahwa blog ternyata membawa segudang manfaat. Rasanya diri ini seperti telah ketinggalan kereta yang jauh sekali.

Bertemu mereka para penulis hebat dan dengan mengalirnya pundi rupiah dari menulis artikel, Aku kemudian memberanikan diri untuk merangkai mimpi dalam dream book yang telah lama kutinggal. Banyak impian yang ingin kulangitkan. Salah satunya adalah mimpi bisa pergi ke tanah suci Makkah. Mimpi itu mulai  kuwujudkan dengan sedikit-demi sedikit menabung. Aku sadar, mungkin akan terasa lama sekali untuk mewujukannya. Namun, siapa tahu ketika Allah telah berhendak, mimpi itu bukan hanya angan semata. Bismilah.
Mimpi lain yang Aku rangkai adalah mempunyai buku solo. Dimana pun dan siapa pun, seorang penulis pasti bermimpi ingin punya buku solo buka?demikian juga denganku. Setelah beberapa tahun lalu menulis antologi, ingin sekali rasanya mempunyai buku solo. Buku yang tidak hanya diterbitkan untuk mewujudkan mimpi saja, tapi juga buku yang bermanfaat.
Yah, lewat menulis kini Aku semakin gila untuk bermimpi. Jika orang lain bisa, mengapa Aku tidak?. menulis setidaknya bukan hanya perkara merangkai kata yang indah dan enak dibaca, lebih dari itu mimpi juga bahkan bisa membuat orang menjadi gila untuk meraih mimpi-mimpinya.
Seperti kata Andrea Hirata dalam bukunya yang berjudul Pemimpi, “Bermimpilah…karena tanpa mimpi orang-orang seperti kita akan mati”
Menulis dan Terapi
Menulis untuk terapi dan bahagia?

Jangan mengatakan Aku lebay apalagi memandang dengan kasihan. Menulis kini bagiku bukan sekedar untuk mengejar materi, membuat karya bahkan mencari ilmu baru. Menulis, seakan telah menjadi obat sekaligus penenang yang membuat hati dan pikiran menjadi lapang. Walau hanya sekedar menulis status di media sosial.
Eits, jangan meremehkan status lho. Lihat saja status para tokoh dan motivator terkenal, membuat status selarik saja, bisa membuat orang terinspirasi. Kita juga bisa menjadi demikian jika status yang ditulis bukan status geje.
Dengan menulis, rasanya segala uneg-uneg yang kurasakan bisa keluar. Dan rangkaian kata yang belum tentu panjang, seakan sudah membuatku bahagia. Karena itu lah Aku ingin menulis terus, sebab Aku ingin bahagia. Jika bahagia, pikiran postif akan keluar dan bisa mendatangkan banyak hal positif juga. Lebih-lebih dapat menginspirasi banyak orang. Tentu akan membuat diriku lebiih bahagia.
Kini karyaku memang belum banyak, untaian tulisanku mungkin belum bisa menguncang dunia dan menginspirasi banyak orang. Setidaknya dengan tulisan sederhana ini, Aku ingin berbagi, bahwa menulis bukan hanya sekedar menulis rangkaian kata saja. bahwa menulis bisa dengan mudah mengubah seseorang. Membuat orang untuk berani bermimpi.
Alhamdulilah...tahun ini mendapat kado indah, dengan hadirnya 4 buku antologi yang tidak Aku rencanakan. Dulu hanya Mimpi bisa membuat satu buku antologi, ternyata Allah hadirkan menjadi lebih.  Sungguh luar biasa.
Tulislah. Tulis mimpimu. Dan jangan ragu lagi untuk menebar kebaikan dengan menulis. Menulis akan membuat nama kita abadi. Memberikan banyak inspirasi dan berani melukis mimpi.
Mengutip perkataan Ahmad rifa Rif’an dalam bukunya, “Hidup itu Cuma sekali, berarti lalu mati, jadi berkaryalah agar nama kita abadi”

View Post


Sejak awal tahun dunia telah diguncang dengan adanya berita heboh munculnya virus Corona. Virus yang pertama kali menyebar di Wuhan, China ini semakin meluas dan bahkan kini tengah menjadi pandemi di seluruh dunia. Dampaknya hingga kini sampai ke Indonesia. Sejumlah orang telah terindikasi terkena virus tersebut. Dari hari ke hari jumlah pasien yang terkena Corona selalu bertambah. Meskipun ada juga yang telah dinyatakan sembuh.
Bahkan karena khawatir semakin bertambah jumlah yang terkena Corona, Presiden Jokowi telah memberlakukan aktivitas di rumah selama 2 minggu. Sekolah di beberapa daerah yang ada di Indonesia banyak yang diliburkan. Aktivitas di luar wajib di batasi.
Aktivitas belajar mengajar kini telah dialihkan di rumah. Mau tidak mau, sebagai orang tua harus memikirkan banyak cara agar pembelajaran yang dilakukan di rumah tetap bisa berjalan dengan menyenangkan dan anak tidak merasa bosan.
Selain belajar materi pelajaran sekolah, sebagai orang tua cerdas, Kita juga harus pandai memilih aktivitas apa yang dapat membuat anak tetap nyaman dan tidak bosan selama liburan di rumah.
Sebagai referensi, para Moms bisa mencoba beberapa aktivitas cerdas di bawah ini bersama dengan anak-anak di rumah;
1.       Bermain Permainan Tradisional
Di jaman yang serba modern ini, permainan tradisional mulai banyak ditinggalkan. Anak-anak jaman sekarang lebih suka bermain game online atau bermain bersama gadget. Nah, saat ini adalah momen yang tepat sekali untuk mengenalkan anak pada permainan tradisional. Liburan selama 2 minggu, akan sangat rawan jika anak-anak hanya bermain gadget saja. Efek sampingnya banyak dan buruk. Banyak permainan tradisional yang dapat dicoba diantaranya petak umpet, main bola bekel, main lompat tali, main dakon dan masih banyak yang lainnya.

2.       Bermain Peran
Bosan bermain permainan tradisional, moms juga bisa mengajak anak-anak untuk bermain peran layaknya drama. Manfaat permainan ini sangat banyak lho, misalnya saja menambah rasa percaya diri, anak menjadi lebih pemberani dan lebih kreatif.
3.       Mewarnai Juga Asyik
Bagi yang punya anak balita, moms tidak perlu bingung untuk mencari kegiatan yang menyenangkan di rumah selama masa liburan panjang ini. Mengajak anak-anak mewarnai, menempel, mengenalkan warna, bermain lego bisa jadi solusi.

4.       Manfaatkan Barang di Sekitar Untuk Permainan
Stok ide permainan mandeg? Tenang saja moms, banyak inspirasi yang bisa digali dengan memanfaatkan barang yang ada di rumah untuk mengisi waktu. Contohnya, alat-alat masak, bisa dibuat permainan jadi alat musik. Memang sih berisik, tapi anak-anak akan tahu nama-nama alat masak tersebut, bukan?.  Memanfaatkan botol, sendok dan alat lainnya untuk disulap jadi permainan akan mengasah kreatifitas kita sebagai orang tua.

5.       Membaca Buku Bersama
Lelah bermain, Moms bisa mengajak anak-anak untuk membaca buku bersama ditemani camilan buatan Ibunda pasti akan membuat anak-anak merasa senang. 

Adanya virus Corona yang semakin mengkhawatirkan memang tidak hanya membawa efek negatif, tapi juga efek positif. Diantaranya adalah dengan diliburkannya sekolah selama 2 minggu maka para orang tua akan lebih punya banyak waktu bersama dengan anak-anak untuk belajar bersama.
Mari kita berdoa semoga Indonesia segera pulih seperti sedia kala, virus Corona cepat hilang, aktivitas kembali normal dan tidak ada lagi korban jiwa.
Tetap jaga diri, jaga kesehatan
Dan kita galakkan #dirumahsaja untuk kebaikan kita bersama.

View Post