“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu”
(HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Siapa pun tidak akan bisa menyangkal tentang khasiat wudhu. Produk kecantikan paling mahal pun tak bisa menandinginya. Aura yang terpancar karena polesan kosmetik dengan polesan wudhu akan tampak berbeda. Aura itu akan terpancar dengan indahnya dari wajah yang senantiasa dihiasi wudhu. Bukan hanya di dunia, tapi juga diakhirat kelak.
Saya pernah membaca sebuah catatan dalam sebuah akun facebook. Dalam tulisan itu diceritakan tentang dahsyatnya menjaga wudhu. Ceritanya, Ada orang yang bertemu dengan seorang pemuda yang sangat santun, akhlaknya terjaga, wajahnya teduh, otaknya pun tak kalah luar biasa. Orang itu pun mengagumi pemuda tersebut. Saat orang itu menanyakan apa rahasia pemuda itu hingga menjadi orang yang demikian, pemuda itu menjawab, bahwa rahasianya ada pada Ibunya.
Penasaran orang itu pun menemui Ibu sang pemuda tersebut. Dengan mata kepala sendiri orang tersebut melihat bagaimana akhlak sang Ibu, yang sangat mengagumkan. Dan satu pengakuan yang terlontar dari mulut sang Ibu, yang membuat dirinya makin kagum. Bahwa sejak anaknya masih bayi, sang Ibu selalu menjaga wudhunya. Saat akan menyusui anaknya, sang Ibu tak pernah lupa untuk berwudhu terlebih dahulu.
Saat tengah malam pun, ketika anaknya bangun minta disusui pun, sang Ibu terlebih dahulu mengambil air wudhu sebelum menyusui anaknya. Ditengah gelapnya dan dinginnya malam. Ia rela melakukannya. Karena ia ingin apa yang diminum anaknya dari dirinya akan terjaga, hingga akhlaknya kelak pun akan terjaga pula kelak setelah dia beranjak dewasa.
Wudhu adalah ritual yang mengutamakan kesehatan. Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting. Selain itu pula wudhu adalah ritual peleburan dosa. Bagaimana bisa?. Kita amati saja, daerah yang sering terkena wudhu adalah daerah yang berpotensi untuk melakukan dosa.
Seharian, apakah kita akan ingat betul apa yang kita ucapkan, entah itu baik atau buruk, kita tentu tidak bisa menghitung berapa banyak dosa yang terlontar dari mulut kita. Mulai memaki, berbohong hingga membicarakan aib orang lain. Tangan kita, apa yang kita raba, kita pegang, kita tidak selalu ingat bukan.
Apa yang kita dengar,apa yang kita lihat, apa yang kita hirup, kemana kaki kita melangkah. Wudhu lah yang berperan dalam meluruhkan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh kita. Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam wudhu ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.
Seorang ahli neurology, kebangsaan Austria pernah melakukan riset tentang wudhu dan ia menemukan fakta yang sangat menakjubkan tentang wudhu. Bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menemukan hikmah dibalik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. Ia bahkan merekomendasikan agar wudlu bukan hanya milik dan kebiasaan umat Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan.
Wudhu memang luar biasa. Ia bukan saja sebagai kosmetik terindah, bukan saja sebagai upaya untuk menjaga kesucian diri, tapi juga sebagai penanda kita kelak saat berada di padang Mahsyar. Karena cahaya dari wudhu akan memancar dengan indah hingga Rasulullah pun mudah mengenali.
“Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. “ Rasulullah menjawab, “Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna  selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya?”. Para sahabat menjawab,”Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah berkata,”Mereka(umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu mereka.”(HR. Muslim).
Lalu bagaimana soal wudhu yang dilakukan sebelum tidur?.
Jangan heran jika sekarang banyak produk kecantikan, terutama yang dipakai sebelum tidur. Untuk apa?. Tentu saja untuk peremajaan kulit. Karena saat tidur itulah kulit kita melakukan peremajaan. Kalau kosmetik saja bisa melakukan hal dahsyat semacam itu, tentu wudhu mempunyai efek yang lebih hebat lagi.
Selain meremajakan kulit kita, dengan tidur dalam keadaan suci otomatis kita akan lebih dekat dengan Allah.  Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.
Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci(berwudhu) maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap “Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan suci,”(HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a)
Selain bisa mencerahkan kulit dan merilekskan otot, ternyata jika kita tidur dalam kondisi wudhu malaikat pun akan mendoakan kita. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

View Post

“Bermimpilah, karena tanpa mimpi orang-orang seperti kita akan mati”
-Arai, Sang Pemimpi-

Pagi itu, seusai merampungkan segala administrasi untuk persiapan yudisium dan wisuda, saat tengah duduk di depan fakultas, saya dihampiri adik kelas saya. Sebut saja namanya Adi, mahasiswa jurusan Tehnik Informatika. Ia berpakaian rapi dengan jas almamater. Saya heran sekali, seingat saya difakultas tidak ada acara resmi yang mengharuskan mahasiswanya untuk memakai jas almamater. Penasaran, saya pun bertanya pada dia. Ada acara apakah?.
Saya terkejut bukan main saat dia mengatakan ingin daftar yudisium. Kok bisa?. Jika saya hitung-hitung seharusnya malah dia belum menyelesaikan seluruh matakuliahnya tahun ini. Prediksi saya, tahun depan mungkin dia baru akan wisuda. Kok dia bisa bareng saya wisudanya?. 
Terang-terangan dia mengatakan kalau dia tengah menempuh akselerasi di Jurusannya, yang menyebabkan dia bisa menyelesaikan seluruh matakuliahnya dengan cepat. Bahkan bisa wisuda bareng dengan saya. Meskipun saya terkejut dengan program akselerasi di Jurusannya, karena baru pertama kali hal ini di adakan di fakultas kami, yang membuat saya paling penasaran bukan hal itu. Tidak mungkin hanya karena akselerasi, pasti ada hal lain yang mendorong dia bisa begitu cepat menyelesaikan kuliahnya.
Jawabannya saya dapatkan saat malam syukuran setelah prosesi wisuda kami selesai. Sudah menjadi kebiasaan dalam Organisasi ekstra yang kami ikuti, setelah selesai wisuda kami akan melakukan syukuran bersama teman-teman kami. Malam itu, dia didapuk oleh teman-teman kami untuk mewakili para wisudawan  memberikan pesan, kesan dan petuah. Saat itu lah dia membeberkan bagaimana ia begitu cepat menyelesaikan kuliahnya dibanding teman satu angkatannya. Mimpi!.
Ya, mimpi. Dengan gamblang dia membeberkan, semenjak masih SMA dia telah mulai menulis mimpi-mimpinya. Target-target dalam hidupnya. Termasuk menyelesaikan S1 nya dengan cepat. Dia tulis dalam sebuah kertas yang ia pajang di dinding kamarnya.
Setiap orang mempunyai mimpi. Masing-masing orang tentu memiliki impian yang berbeda-beda. Ada yang ingin menjadi dokter, dan mengabdi di pedalaman atau mengabdi untuk daerah yang dilanda peperangan, ada yang ingin menjadi pengusaha sukses, ada yang ingin menjadi pendidik yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pendidikan, ada yang ingin jadi motivator, ada pula yang ingin jadi penulis.
Semuanya berawal dari mimpi. Tentu kita tak pernah bisa mempercayai bahwa suksesnya seseorang berasal dari mimpi. Rasanya sangat mustahil diwujudkan bila melihat kondisi kita saat membuat impian. Tapi, begitulah kenyataannya.  Nyatanya impian menjadi titik awal keberhasilan. Banyak orang besar yang memulai keberhasilannya dari mimpi. Mimpi-mimpi yang ia rangkai itu lah yang menjadi pelecut semangatnya untuk beranjak dari yang awalnya orang biasa menjadi luar biasa. Mimpi merupakan energi yang selalu menjadikan manusia berhasil melewati tantangan demi tantangan yang ia lalui.
Lihatlah, dalam sejarah orang-orang besar yang namanya di abadikan dalam tinta sejarah dunia, semuanya mengawali keberhasilannya dengan mimpi. Mulai dari Mark Zuckerberg, sang pendiri media sosial paling terkenal saat ini. Awalnya Mark hanya ingin membuat program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Ia mengambil nama Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus.
Siapa sangka,program yang ia rancang hanya untuk kalangan kampusnya, meledak luar biasa. Bahkan melampaui mimpinya, bahkan melintasi berbagai negara dan benua. Program yang ia buat di kamarnya itulah, yang akhirnya mengantarkannya menjadi miliader muda paling sukses saat ini, programnya telah dipakai jutaan orang.
Ada pula, Wilburg bersaudara. Sang penemu pesawat, mereka juga awalnya bermimpi mempunyai kendaraan yang bisa terbang. Akhirnya jadilah pesawat modern yang bisa kita nikmati sekarang. Atau bapak prokalamator kita, Ir. Soekarno. Mimpi beliau untuk membuat negara ini merdeka, lepas dari penjajahan, bukan kah juga berasal dari mimpi.
Mimpi ibarat penunjuk jalan untuk masa depan kita. Mimpi pula yang menjadi panduan agar hidup kita tidak salah arah. Mimpi bisa berperan sebagai kompas, memberitahu kita arah mana yang harus ditempuh. Hingga kita mengetahui arah mana yang benar. Berada pada koridor yang benar.
Mimpi juga berkontribusi besar untuk meningkatkan kekuatan kita. Setiap kesempatan yang kita temui, setiap talenta yang ingin kita kembangkan, menjadi bagian kekuatan kita untuk tumbuh, semakin besar mimpi kita, semakin besar pula kekuatan yang akan kita keluarkan untuk meraihnya.
 Ada perbedaan antara orang yang mempunyai mimpi dan tidak. Orang yang mempunyai mimpi hidupnya akan selalu terarah. Mereka memiliki tujuan yang jelas akan dibawa kemana hidupnya. Sedangkan orang yang tidak punya mimpi hidupnya akan begitu-begitu saja, mengalir mengikuti arus, tanpa tahu jelas untuk apa hidupnya dan mau dibawa kemana. Orang besar pun memulai hidupnya dari mimpi, bukan serta merta ia langsung besar. Ia akan melalui tahap menjadi “orang kecil” terlebih dahulu. Yang merangkai mimpi besarnya, berupaya keras untuk mewujudkan mimpinya, membesarkan mimpinya, hingga menjadi orang besar.
Umumnya proses untuk mewujudkan mimpi bukanlah proses yang mudah. Akan banyak kesulitan yang akan kita dapat dalam meraihnya, sehingga kita butuh usaha yang sangat keras. Namun, tantangan berupa kesulitan bukanlah halangan atau pun menjadikan faktor kegagalan dalam meraihnya. Segala tantangan akan membentuk karakter dan pribadi kita menjadi lebih baik dalam berbagai hal.
Lalu seperti apa kita harus melukiskan mimpi kita?.  Apakah kita boleh boleh mempunyai mimpi yang kecil, atau langsung mimpi yang besar?.
Saran saya, mimpilah yang besar. Karena jika mimpi kita kecil kita pun berpeluang menjadi orang kecil, saat kita punya mimpi yang besar peluang untuk menjadi orang besar.  Tuhan pun tidak menyarankan kita untuk mimpi yang kecil. Karena Tuhan kita Maha besar, maka mimpi kita pun harus besar.
Sebagian orang mungkin akan berkilah, mimpi kecil saja belum tentu tercapai, bagaimana langsung punya mimpi yang besar. Inilah juga perbedaan antara orang yang besar dan orang yang kecil. Orang yang reaktif dan proaktif.  Orang kecil akan selalu pesimis untuk memulai mimpinya, merasa mustahil mimpinya akan tercapai, merasa takut untuk bermimpi besar. Takut akan kecewa jika mimpi besar mereka tidak akan sesuai dengan apa yang diimpikannya. 
Orang besar akan berpikir sebaliknya, ia akan selalu merasa optimis dan pantang menyerah dalam bermimpi. Ia merasa sayang jika harus bermimpi kecil padahal dia punya kemampuan untuk bermimpi yang besar. Mengoptimalkan seluruh potensinya. Mereka akan merasa sayang jika harus menjadi orang yang biasa saja,padahal bisa menjadi orang luar biasa dengan mimpinya. 
Jika ia bisa meraih level mimpi tertinggi, bukan tidak mungkin ia juga bisa meraih mimpi yang kecil. Orang yang reaktif pasti akan bilang “Aku coba, deh”, tidak seratus persen bisa meraihnya, merasa terpaksa dan tidak bisa berbuat banyak. Sedang orang yang proaktif selalu merasa dia bisa mengerjakannya. Yakin, jika orang lain bisa melakukannya, maka dia juga bisa melakukannya.
Jangan pula bermimpi yang sederhana. Tuhan kita Maha Hebat, Maha Besar. Jangan pula mimpi yang tanggung-tanggung, karena kuasa Tuhan itu tak tanggung-tanggung. Bermimpilah yang besar. Impian adalah doa, ketika kita bermimpi besar, pada hakikatnya kita sedang berdoa untuk diberi kebesaran oleh Tuhan.
jangan pula engkau risaukan bagaimana engkau meraih mimpi itu. Ketika engkau telah menuliskan mimpimu, yakinlah bukan hanya Tuhan saja yang akan membantu mewujudkan mimpimu. Tuhan akan selalu berada dalam prasangka hambanya. Bahkan alam semesta pun akan turut serta mendukungmu dan membantu mewujudkan mimpi-mimpimu. Mestakung.
Yakinlah selalu, bahwa mimpi yang dulu kita tulis dan dianggap mustahil bukan tidak mungkin akan tercapai. Menurut Napoleon Hil, ” Apapun yang bisa dibayangkan, yang ada dalam pikiran manusia, serta diyakininya, bisa dicapainya”
Segala masalah yang menghadang dalam usaha kita untuk meraih mimpi, seharusnya tidak menyurutkan langkah kita apalagi semangat kita dalam meraihnya. Masalah yang datang saat kita berusaha keras mewujudkan langkah kita adalah tempaan yang sengaja diberikan oleh Tuhan untuk menjadi orang besar. Masalah juga bisa dimaknai sebagai kasih sayang Tuhan untuk hambaNya. 
Ketika Tuhan rindu pada hambaNya, ia akan mengirimkan kasih sayangNya dalam bentuk ujian.  Tuhan ingin sang hamba mendekatkan diri padaNya.
Sudah begitu banyak yang membuktikan bahwa sesuatu yang mustahil menjadi tercapai lewat sebuah mimpi. Mimpi membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat. Kebesaran dan kesuksesan selalu dimulai dari mimpi. Karena kesuksesan berawal dari mimpi untuk menjadi sukses.
Kita tentu tidak ingin menjadi orang yang tidak punya mimpi. Sungguh malang jika dalam hidupnya ia tidak punya mimpi sama sekali. Mereka hanya menganggap hidup adalah nasib, sehingga sekeras apa pun mereka berusaha, apabila nasib tidak menghendaki mereka sukses, maka mereka tidak akan sukses. Kita seolah meremehkan Tuhan jika punya pendirian sedemikian kecilnya tentang hidup kita sendiri. 
Tuhan sendiri pun terang-terangan mengatakan “ Aku tak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak merubah nasibnya. Tuh, itu bisa jadi sebuah isyarat kalau Tuhan pun menyuruh kita untuk bermimpi. Mengubah diri,dari yang biasa menjadi luar biasa. 
Kita juga tidak ingin menjadi orang yang selalu berada di zona zaman, bukan?. Biasanya orang yang selalu ingin berada di zona ini hidupnya akan datar-datar saja. Mandeg. Tak ada perubahan yang signifikan. Mimpi, akan membuat lompatan yang sangat dahsyat, untuk keluar dari zona tersebut.
Fokuslah pada apa yang menjadi impianmu. Ada banyak juga yang gagal meraih mimpinya karena ia tidak fokus dan lebih mendengar perkataan orang lain. Ia menjadi goyah terhadap mimpinya, tatkala orang memandang remeh mimpinya. 
Kritikan, cemoohan, diremehkan seharusnya tidak menjadikan kita lemah dengan mimpi kita. Kita lah yang bertanggungjawab pada mimpi kita. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa memuaskan orang lain, tugas kita hanya melakukan yang terbaik dalam mimpi kita. Selebihnya tunjukkanlah pada mereka wujud dari mimpimu yang dulu pernah mereka anggap mustahil 
Mulai sekarang, tulislah segala impian. Jangan berpikiran dulu, bahwa mimpi ini akan terwujud atau tidak. Paling tidak tulislah dulu. Tulis apa pun yang ingin kita lakukan. Targetkan kapan kita akan mewujudkan mimpi itu. Jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap mimpi kita, karena Tuhan lah yang akan turut serta dalam tercapainya mimpi kita.
Memang benar, kita tidak akan bisa mencapai semua mimpi kita, tapi tanpa impian, kita tidak akan pernah meraih apa-apa. Ciptakan Impian, lakukan, dan Raih hasilnya.

“Jika Anda tidak bergerak untuk mulai membangun mimpi Anda, seseorang justru akan memperkerjakan Anda untuk membantu membangun mimpi mereka” Tony Gaskins.

View Post

Mengeluh menjadi kebiasaan karena begitu sedikitnya rasa syukur kita


A : “Enak ya, kamu sudah kerja mapan?. Punya rumah, punya mobil, sudah menikah dengan wanita idaman. Cantik pula”.
B : “Enak apanya?. Meski sudah kerja enak, rasanya tidak ada enaknya sama sekali. Pusing”
A : “Kenapa?”
B : “Kerja kantoran itu tidak enak. Tiap hari dimarahin bos. Disuruh ngerjain ini itu. Sudah dikerjain, tetap dimarahi. Selalu tidak ada benarnya. Belum kalau datang telat ke kantor, beuh...disindir habis-habisan. Sudah gajinya kecil, naiknya kecil, tiap hari dapat omelan, kerja kayak kerja rodi pula. Di kantor sudah pusing, masih pusing juga mikir cicilan rumah dan mobil. Gaji sekecil itu harus mikir gimana muternya agar masih bisa buat makan dan sedikit senang-senang”
A :” Kalo sudah tahu gajinya gak mencukupi buat nyicil, ngapain beli rumah sama mobil?”.
B : “Itu kan syarat dari mertuaku dulu, harus punya rumah sebelum nikah. Yah, walau gajinya kecil harus tetap dipaksa beli rumah meski kredit. Cerewet sekali mertuaku itu. Selalu minta aneh-aneh sebelum nikah, udah nikah juga masih aja minta yang aneh-aneh. Tidak tahu kalau menantunya ini Cuma pegawai kecil. Mengenai mobil,  Istriku itu tidak suka kemana-mana naik angkot, pengennya naik mobil sendiri seperti teman-temannya yang lain. Mau tidak mau aku harus membelikannya. Biasalah gaya hidup!”.
A : (manggut-manggut, prihatin).
“Kalau kamu?”
C : “Alhamdulillah...meski aku juga pegawai kecil, gajiku sudah lebih dari cukup. Di syukuri saja. Di luar sana kan banyak yang tidak bekerja, gajinya juga lebih kecil.
A : “Sudah punya rumah dan istri?”
C : “Alhamdulilllah rumah juga sudah punya, meski kontrak. Masih nabung dikit-dikit untuk beli rumah kecil yang layak. Istri juga sudah punya. Cerewet juga sih, tapi aku tahu cerewetnya kan karena perhatian. Karena sayang”
***
Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Sudah menjadi kebiasaan. Mendapat sesuatu hal kecil saja yang tidak berkenan dihati, sudah mengeluh tak berkepanjangan.

Coba tanyakan pada diri kita sendiri, jika punya teman, yang satu suka ngeluh tiada henti, yang satu selalu bersyukur dengan apa yang ia dapat dan ia punya, mana yang paling membuat kita nyaman?. Tentu yang terakhir bukan.

Mengeluh, selain efeknya tidak baik untuk kita sendiri juga tidak baik untuk orang lain. Orang lain yang mendengar keluhan kita tentu tidak akan nyaman mendengar segala keluhan kita. Berbeda dengan orang punya sikap dan pikiran positif akan selalu memancarkan aura positif. Karena kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata membangun, syukur, bahagia dan kata-kata penguatan.
Percayalah, mengeluh tidak akan membuat keadaan kita membaik. 

Justru sebaliknya. Makin membuat hati dan jiwa kita tidak bersemangat. Bersyukur dengan apa yang kita punya dan apa yang kita peroleh adalah lebih baik. Allah pasti selalu memberikan yang terbaik menurut Dia. Bukan menurut kita. Dia akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Coba sekali lagi kita berpikir, jika kita mengeluh dengan pekerjaan kita, lihatlah banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat pekerjaan. Menjadi pengangguran bahkan gelandangan hingga mengemis-ngemis di jalanan.

Mengeluh dengan apa yang kita makan, lihatlah diluar sana banyak yang hanya makan seadanya, bahkan tidak makan sama sekali. Mengeluh punya rumah yang kecil dan tidak bagus, mengeluh tidak punya mobil dan sepeda motor. Sekali lagi lihatlah, di luar sana, jauh dari kita atau bahkan kita bisa menengok kana kiri kita banyak yang punya rumah masih ngontrak.

Tiap tahun harus pindah-pindah. Tidak punya mobil, bukankah seharusnya kita bersyukur karena kita punya sepeda motor, masih punya kaki. Ada saudara kita bahkan yang tidak punya kaki tetap optimis dan tidak pernah mengeluh. Bisa berkarya dan melejit prestasinya.

Tidak malukah kita pada mereka?. Pantaskah kita masih mengeluh tiada henti, tidak bersyukur dengan apa yang kita punya, sementara di luar sana banyak saudara kita yang hidupnya lebih mengenaskan dari pada kita?.

Mulai sekarang, kurangilah keluhan. Banyaklah bersyukur. Bukan hanya orang lain yang akan suka dengan rasa syukur kita, Allah pun akan senang sekali, kita mau bersyukur dengan apa yang Dia berikan. Tentu Allah pun akan menambah nikmat yang kita dapat. Berbeda jika mengeluh, Allah akan mengurangi atau malah mencabut nikmat yang ia beri.

Bersyukurlah, karena akan mendatangkan energi positif.


View Post
Tidak masalah siapa anda, dari mana anda berasal. Kemampuan untuk bangkit dan menang berasal dari diri anda sendiri
-Oprah Winfrey-



Seorang gadis sedang putus cinta menangis di bangku taman. Seorang Kakek yang melihatnya bertanya,
“Mengapa kamu menangis?”
“Aku sangat sedih,Kek. Dia yang kucintai pergi meninggalkanku” jawab sang gadis.
Sambil tertawa, Kakek itu berkata, “Jangan bodoh, seharusnya kau bersyukur, Nak”.
“Kakek ini bagaimana, sih?!. Sudah tahu aku sedang patah hati, bukannya menenangkanku malah menertawanku?” sang gadis berkata dengan sinis.
“Hahaha...seharusnya kau tak perlu bersedih, yang seharusnya bersedih itu dia yang telah meninggalkanmu”.
“Kok bisa?”.
“Iya, karena kamu Cuma kehilangan orang yang tidak mencintaimu, sementara dia telah kehilangan orang yang sangat mencintainya”.
“Tapi, aku sedih, Kek..”
“Apa kesedihanmu itu membuat dia akan kembali kepadamu?. Bersabarlah. Yakinlah di luar sana, akan ada cinta yang indah yang menantimu”.
**
Cerita di atas sengaja saya hadirkan dalam buku ini, agar kita tahu dan mengambil pelajaran bahwa seharusnya kita tidak pantas untuk bersedih berlebihan dan berlarut. Apalagi untuk orang yang belum halal bagi kita. Pacar. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa resiko paling besar dari pacaran adalah patah hati. Bagi seseorang laki-laki mungkin mudah saja melupakan seorang wanita yang dulu mencintainya, tapi tidak bagi perempuan. Setidaknya itu yang saya alami dari pengalaman orang disekitar saya. Mereka harus berjuang keras untuk melupakan dan move on dari masa lalu mereka. Yang mereka lewati bahkan dengan air mata.
Banyak orang yang menganggap bahwa kesedihan hanya bisa di atasi dengan move on saja. Dengan mengubur kesedihannya dan menganggap bahwa kesedihan itu tidak ada, tapi tetap saja ia gagal. Lagi-lagi ia terjatuh dalam kesedihan yang sama. Walau berulang kali berusaha keluar dari lingkaran itu.
Apakah gerangan yang menyebabakan hal itu terjadi?. Apakah move on saja tidak cukup untuk mengatasinya?. Jawabannya tentu saja tidak cukup. Harus memakai cara lain yang lebih ekstrim dari pada move on. Apa itu?.
Move Up!. Yup, Move Up.
Lalu apakah move up itu sama dengan move on?. Tentu saja tidak, karena sejak awal saya sudah mengatakan bahwa move on saja tidak cukup, harus diikuti dengan move up juga.
Jika move up adalah pergerakan kita dari satu titik ke titik lain yang arahnya horisontal, maka move up adalah kebalikannya. Move up adalah pergerakan kita dari satu titik ke titik yang lain yang arahnya vertikal.
Dalam bahasa sederhananya, jika move on lebih berfokus pada perbaikan suasana hati,  dan pembaikan diri, maka move up adalah melengkapi kesemuanya tadi dengan peningkatan kualitas diri. Bagi orang yang kecewa dan bersedih mereka sadar bahwa dengan mengganti suasana hati saja tidak cukup. Jika masih berkutat pada tempat yang sama tidak akan cukup berhasil mengatasi kesedihan tersebut.
Ia sadar bahwa harus melakukan yang lebih tinggi lagi, berpindah pada tempat yang lebih tinggi. Dengan mendekatkan pada Tuhan. Meningkatkan kualitas dirinya. insyaAllah dengan semakin tinggi kualitas pribadi kita, semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin mudah juga bagi kita menyampaikan selamat tinggal pada kesedihan yang kita alami.
Ada sebuah cerita yang pernah saya baca. Kisah yang menginspirasi. Bagaimana tentang peningkatan kualitas diri dalam rangka move up bisa berefek luar biasa untuk masa depan.
Pernah lihat acara Oprah Winfrey Show?. Acara yang sangat sukses, tidak hanya di negaranya berasal, tapi seluruh penjuru dunia. Bahkan kemudian Oprah Winfrey dinobatkan sebagai wanita selebritis terkaya versi majalah forbes. Karena ketenarannya sebagai presenter dalam acara ini.
Tentu tidak banyak yang kita ketahui tentang siapa Oprah Winfrey yang sebenarnya. Para penonton mungkin hanya menikmati acara tersebut tanpa tahu siapa dan bagaimana Oprah bisa begitu sukses dalam membawakan acara tersebut. Pastinya dia sudah melewati fase yang sangat panjang untuk meraih kesuksesan itu. karena kesuksesan itu memang tidak ada yang instan.
Oprah, bernama lengkap Oprah Gail Winfrey lahir dari pasangan Afro-Amerika. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin.

Pada usia 9 hingga 13 tahun Oprah mengalami pelecehan seksual, diperkosa oleh saudara sepupu Ibunya dan teman-temannya. Hingga dia hamil. Namun, bayi yang ia lahirkan meninggal.
Setelah kejadian itu Oprah memilih untuk tinggal bersama dengan Ayahnya. Dia mendapat pendidikan yang keras dari Ayahnya. Ia diwajibkan untuk membaca buku dan membuat ringkasan. Namun, dia sadar bahwa disiplin itu lah yang kelak akan membuatnya menjadi lebih kuat dan percaya diri. Saat SMA ia termasuk siswa yang cemerlang bahkan memdapat beasiswa.

Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TV dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. 

The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional. Sungguh luar biasa! Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan, menyelamatkan keluarga, inspirasi perjuangan hidup. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya untuk membantu mereka yang tertindas atau kekurangan. 
Oprah juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Banyak yayasan yang telah ia santuni. Telah banyak orang-orang yang ia bantu. Bahkan ia mendirikan sekolah khusus anak-anak perempuan di Afrika Selatan bersama dengan pemirsa acara televisinya.

Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter, pendirian yang kokoh, semangat hidup dan menyemangati orang lain. Semangat perjuangannya pantas diteladani!

Kisah ini telah menunjukkan pada kita bahwa dengan bersedih terlalu lama akan sesuatu yang buruk yang kita alami hanya akan mendatangkan kesia-siaan belaka. Sebaliknya jika kita bisa move on bahkan kemudian diikuti dengan move up, yakinlah bahwa akan ada peningkatan dan perbaikan pada diri kita. Kualitas pribadi yang lebih matang, dewasa, lebih sabar, tawakal serta selalu mendekat pada sang Ilahi

View Post

Praaaaang.....!!!
Tetiba piring kotor yang hendak aku cuci jatuh begitu saja saat aku mendengar apa yang baru saja Alan, Suamiku katakan.
Pulang ke Indonesia!.
“Kamu nggak pa-pa, sayang?” tanyanya sambil membantuku memunguti pecahan piring yang tidak aku pedulikan. Aku masih berdiri terpaku dengan muka pucat dan hati berdebar yang tidak menentu. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Setelah hampir 20  tahun Kami tinggal di Shanghai Cina tiba-tiba ia meminta untuk pulang.
Seandainya bukan kata Indonesia yang ia sebut mungkin aku tidak akan seketerkejut ini.  Satu negara yang selalu ingin aku hindari meski di relung hatiku ada sedikit rindu yang bersemayam. Satu negara yang telah membuatku terpuruk hingga bertahun-tahun. Tertatih membuatku bangkit dari luka yang begitu mendalam.
Alan, sangat tahu akan hal itu. Lalu kenapa sekarang ia memintaku untuk ikut serta pulang?
“Aku dipindah tugaskan ke Indonesia bulan depan. Kemungkinan kita juga akan menetap di sana” Jawabnya seakan mendengar jerit hatiku yang bertanya mengapa harus kembali ke Indonesia. Aku masih diam terpaku dengan sedikit gemetar mengguncang. Secangkir cappucino tetap tidak bisa menghangatkan suasana hatiku yang tiba-tiba dingin membeku.
Kami berdua sedang duduk di rooftop rumah sambil menikmati malam Shanghai membicarakan masalah ini. ia memegang tanganku yang masih erat menggenggam secangkir Cappucino dengan membisu tanpa suara.
“Sayang...sampai kapan kita akan terus bersembunyi, sudah saatnya kita melupakan semua kejadian pahit itu. Please, Indonesia yang sekarang sudah lebih baik, tidak seperti dulu saat kita harus terusir dengan kejam. Kita lupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal. Aku yakin Kamu bisa melakukannya. Terlebih ada Vivian yang sedang membutuhkan kita”.
Mendadak air mukaku menjadi pias dihadapan laki-laki peranakan Cina yang telah hampir membersamiku selama 20 tahun ini. Menjadi satu-satunya pelindungku saat aku benar-benar terpuruk di titik nol ketika harus memutuskan untuk tinggal di Cina. Ketika semua keluarga, teman dan juga kerabatku satu per satu hilang karena peristiwa mengutukkan itu.  Ia yang dengan gagah selalu ada untukku membasuh tiap kepingan luka yang sangat dalam dan berhasil membuatku berdiri tegak hingga sekarang.
Dan kata terakhir yang ia ucapkan bukan saja membuat wajahku kembali pucat, air mata tiba-tiba meleleh tanpa aku bisa bendung. Nama seorang wanita yang aku kenal sejak kecil. Sahabatku yang sejak kejadian itu, tidak pernah lagi aku mendengar beritanya. Nama itu pula yang  berhasil melemparku kembali kepada kenangan pahit itu. Kenangan 20 tahun silam.
Mei  1998
“Apa?Putus?” ujarku masih tak percaya dengan apa yang Fahri, ucapkan. Ia sahabat sekaligus pacarku sejak kelas dua SMA. Menjelang kami lulus tiba-tiba ia membuat keputusan mengejutkan dengan memintaku untuk mengakhiri hubungan yang telah lama kami bina.
“Kenapa? Karena aku Cina seperti yang Abahmu katakan?. Iya kan?” tanyaku meminta alasan.
Fahri terdiam tak bicara. Sesungguhnya bukan itu saja yang menjadi ganjalan hubungan mereka. Selain karena perbedaan suku, agama juga menjadi sandungan terberat mereka.
“Kenapa sih, Abah mu benci sekali dengan orang keturunan Cina. Apa salahku hingga tidak boleh pacaran denganmu?katakan Fahri!”
Fahri tidak mungkin mengatakan seberapa benci Abahnya dengan orang Cina pada gadis yang ia cintai.  Entahlah, dirinya juga tidak terlalu paham. Hanya saja menurut kabar yang ia dengar kakak perempuannya yang telah meninggal adalah karena ulah orang keturunan Cina. Meninggalnya sang kakak telah menorehkan luka yang dalam pada hati Abahnya hingga ia juga dilarang keras untuk berhubungan dengan orang keturunan Cina. Terbukti saat Amy, pacarnya serta Alan dan Vivian sahabat mereka berkunjung ke rumah, Abahnya tidak pernah bersikap ramah.
“Itu salah satunya...” akhirnya Fahri menjawab.
Aku terkekeh tak percaya mendengar jawabannya. Aku tak percaya, Abahnya yang alim dan dikenal sebagai tokoh agama di rumahnya bisa sebenci itu dengan orang Cina tanpa aku tahu sebabnya. Pantas saja saat aku berkunjung ke rumah tidak pernah mendapatkan kesan ramah dari beliau. Hanya pandangan sinis dan gerak laku yang  tidak mengenakkan.
Aku masih ingat Fahri pernah mengatakan bahwa perbedaan kami yang jelas kentara tidak akan menghalangi. Semua akan melunak seiring berjalannya waktu. Ia yakin hubungan mereka bisa langgeng. Aku juga masih ingat jelas ucapannya bahwa cinta tidak pernah mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada. Memang benar, dia lah dan keluarganya yang akhirnya membuat perbedaan itu ada.
“Kenapa kau masih di sini Amy?” tiba-tiba Alan datang di tengah-tengah kami dengan nafas memburu.
“Ayo cepat pulang!demo dimana-mana dan rumah kita juga sudah hampir dirusak massa”belum sempat aku bertanya, Alan sudah berujar lagi tanpa memberiku kesempatan untuk bicara dan membawaku pergi.
Apa yang dikatakan Alan benar. Kondisi Jakarta akhir-akhir ini tidak kondusif. Banyak demo dimana-mana yang dilakukan para mahasiswa yang menuntut turunnya presiden Soeharto. Demo yang diatas namakan keadilan reformasi nyatanya makin buas dan melibatkan banyak korban utamanya kami para warga Tionghoa.
Beberapa hari yang lalu jelas kudengar cerita Ayahku yang mengatakan mulai banyak penjarahan diberbagai toko milik warga Tionghoa. Semua dijarah hingga tak bersisa. Dan hari ini atmosfer suhu semakin meningkat dengan makin brutalnya massa yang tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Sesampainya aku di rumah, hanya suasana ngeri yang dapat aku lihat. Rumah satu-satunya telah rusak karena amuk massa yang tidak terkontrol. Teriakan mengerikan terdengar dari berbagi sudut yang semakin tenggelam dengan hiruk pikuk orang pribumi yang semakin mengganas menghajar etnis Tionghoa yang tidak tahu menahu dengan demontrasi yang akhir-akhir ini terjadi.
Aku terpaku tak percaya saat mendapati Ayahku tergeletak tak berdaya dengan luka diberbagai bagian tubuhnya. Kondisi rumah porak-poranda. Beberapa barang hilang entah kemana. Aku bergegas mencari Ibu dan Kakakku ke dalam rumah ditengah suasana di luar rumah yang makin panas. Alan yang sedari tadi menemani entah kemana, mungkin dia juga tengah melihat kondisi keluarganya sendiri yang sama denganku, mendapat perlakuan semena-mena dari warga pribumi.
Alangkah terkejutnya aku saat aku mendapati Ibu dan Kakak perempuanku yang tengah dikeroyok beberapa orang laki-laki yang bermuka buas dan hendak melecehkan kedua orang orang yang kusayangi. Dengan keberanian tinggi kudatangi mereka dan berteriak histeris untuk menghentikan pelecehan tersebut.
Namun, apalah dayaku sebagai perempuan kekuatanku kalah dibandingkan mereka. Mereka semakin buas dan ganas melukai Ibu dan Kakakku. Aku semakin tak berdaya sebelum pandanganku perhalan semakin gelap dan menghilang.
***
Jakarta, Februari 2019
Jika dihitung mungkin hampir dua dekade lamanya aku meninggalkan tanah airku. Pagi ini, entah kekuatan apa yang mendorongku hingga menyetujui keinginan Alan untuk kembali ke Jakarta. Kota yang dulu sangat tidak ingi aku injak setelah kejadian mengerikan di bulan Mei 20 tahun yang silam.
Kejadian tragis yang membuatku kehilangan kedua orang tua dan juga kakak perempuanku. Kami sama-sama menjadi korban perkosaan para orang pribumi yang saat itu dengan menggila melukai banyak orang etnis Tionghoa karean dianggap mengotori tanah air dan juga yang paling parah adalah banyaknya para amoy yang jadi korban perkosaan saat itu. Termasuk aku.
Jika Ibu dan Kakaku memilih bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu, aku masih beruntung dapat bangkit dengan cara yang tidak mudah. Alan adalah salah satu orang yang selalu berhasil menguatkan aku untuk tidak ikut mengakhiri hidup dan harus kuat bertahan.
Agar tidak semakin trauma, Alan membawaku bersama keluarganya ke Cina dan melakukan terapi serta pemulihan. Mencoba bangkit dari kenangan yang terlalu pahit.
Kini aku di sini kembali, karena selamanya aku tidak mungkin menghindar. Tali ikatan dengan kota ini rupanya masih ada hingga membuatku lebih ringan. Salah satu yang membuat semakin ringan adalah keberadaan sahabatku Vivian yang juga jadi korban perkosaan. Namun, nasibnya lebih malang dariku.
Ia sebatang kara dan kini berada di rumah sakit jiwa sendirian menghadapi trauma yang ia alami. Kini aku harus membantunya agar ia juga bisa bangkit seperti diriku. Meski aku tahu waktuku sedikit terlambat. Aku datang vi...aku datang
Taksi yang membawaku semakin melaju menjauhi bandara Soekarno Hatta. Kini suasana Jakarta telah aku hirup kembali. Semuanya memang telah berubah. Banyak yang berubah.
Sebelum berangkat ke Indonesia tanpa disertai putra putriku yang kini tengah menempuh pendidikan di negeri Paman Sam, sedikit banyak aku mulai mencari tahu kembali tentang Indonesia. Suatu hal yang jarang aku lakukan. Jika pun harus mencari kata Indonesia di dunia maya, selalu keringat dingin yang muncul.
Nyatanya, Indonesia kini lebih berwarna. Jika dulu kami para etnis Tionghoa diremehkan dan tidak dianggap, semenjak kepemimpinan presiden Gusdur, semua hal itu musnah. Kami lebih dihormati. Apalagi agama kami juga akhirnya diresmikan sebagai agama nasional.
Yang paling membuatku begitu terharu adalah ketika tahu bahwa ternyata mantan gubernur Jakarta adalah orang keturunan Tionghoa, hatiku makin teriris. Ah, seandainya.....
Buru-buru kutepis pikiran itu. Tidak ada gunanya.
“Berhenti..., berhenti pak!” pintaku pada sopir taksi yang membawaku dan Alan ketika di tengah jalan aku mendapati atraksi barongsai yang begitu ramai. Suasana Cina kental terasa saat aku mencoba mendekat. 
Benar kata Alan. Kini Jakarta telah berbenah. Setidaknya telah menerima etnis kami Tionghoa ditengah-tengah mereka. Buktinya kini perayaan Cina mulai terbuka dinikmati. Padahal dahulu tidak pernah ada.
Aku menikmati setiap atraksi yang disertai dengan sorak orang non Tionghoa yang menyaksikan. Kentara sekali mereka menikmati atraksi tersebut. 
Kesenian Barongsai memang sejak dahulu mempunyai magnet yang dapat membuat orang terpukau dengan segala gerakannya. Gerakannya yang rumit dan atraktif yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih. Anak-anak muda permain Barongsai itu mengingatkanku pada masa laluku ketika kerabat dan temanku sesama orang Cina bermain diam-diam tatkala merayakan hari Imlek.
Kini setelah adanya reformasi, bahkan dari ekor mataku yang sipit kulihat ada pemain Barongsari dengan wajah peranakan Jawa. Sungguh negeri ini telah berubah.
“Aduh... maaf..maaf mbak” sesosok suara mampir di telingaku tatkala aku merasa ada seseorang yang telah menginjak kakiku. Saat aku hendak melihat orang tersebut alangkah terkejutnya ketika aku tahu siapa yang tengah berada dihadapanku. Aku memang belum lupa pada sosok itu. Sosok yang dahulu berjanji padaku.
“cinta itu tidak mengenal perbedaan, manusialah yang membuat perbedaan itu ada”

View Post

Apakah Bunda pernah mellihat seorang anak kecil yang lebih suka mantengin Hp bersama dengan teman-temannya?
Atau tanpa sengaja lewat di depan sebuah warung kopi dan melihat beberapa anak yang sibuk dengan hp nya sendiri-sendiri?
Pemandangan semacam itu rasanya tidak asing lagi ya, sekarang.
Amat mudah untuk hal yang demikian bukan?
Majunya teknologi diikuti dengan semakin canggihnya handphone saat ini, sangat mendukung sekali sehingga kini banyak anak yang lebih nyaman bercengkerama dengan HP. Apalagi dengan munculnya fitur-fitur serta situs yang mudah diakses. Semakin membuat anak terlena dan bahkan mungkin hingga lupa waktu.
Hal tersebut tentu miris sekali, karena kini seorang anak lebih suka bercengkerama dengan Hp dari pada bermain bersama dengan temannya di alam bebas atau sekedar membaca buku bersama seperti yang dilakukan oleh orang tuanya dulu.
Ngomong-ngomong soal membaca buku, menurut penelitian, tingkat minat membaca penduduk Indonesia tergolong rendah. Sungguh hal ini amat disayangkan apabila ternyata banyak anak sebagai generasi selanjutnya, yang lebih suka bermain dan akrab dengan HP dibandingkan dengan buku. Tidak seperti di negara maju lainnya yang masih dapat dilihat para penduduknya asyik membaca buku bahkan di tempat umum.
Untuk membuat anak gemar membaca memang gampang-gampang susah. Karena jika tidak ada ketertarikan, akan sulit untuk mendekatnya dengan buku. Walaupun terlihat sulit, kebiasaan membaca buku ternyata dapat dimulai dari bayi lho. 
Dan cara ini dinilai lebih efektif, mudah dan terbukti sukses membuat anak gemar membaca dan akrab dengan buku. Ingin tahu cara jitunya? Pastikan bahwa Bunda akan konsisten melakukannya ‘sehingga hasilnya cepat terasa;
1. Biasakan Dekat Buku Sejak Dini
Untuk membiasakan anak gemar membaca buku sebenarnya tidak ada istilah terlalu dini. Tujuannya memang bukan membuat anak bisa membaca, tapi lebih pada agar anak bisa dekat dan terbiasa dengan buku.
Ada banyak buku yang bisa dikenalkan pada anak usia dini. Ada buku dari kain flanel, hardbook, buku warna-warni serta banyak buku lainnya. 
Lewat membaca buku diharapkan dapat menstimulus anak untuk mengenalkan pada sebuah buku.  Harapannya agar anak bisa memulai untuk mencintai buku terlebih dahulu. Ketika anak beranjak besar, boleh juga mengenalkan buku-buku bergambar sehingga anak akan lebih tertarik.


2. Membacakan Buku dengan Keras
Membacakan buku dengan intonasi dan suara yang keras, dipercaya tidak hanya bisa mendekatkan seorang anak dengan buku, tapi juga dapat memperkenalkan berbagai kosakata baru kepada anak. 
Libatkan anak untuk ikut serta berinteraksi ketika membacakan sebuah buku, bisa dengan  menunjukkan gambar menarik atau sekedar mengajaknya berbicara. 
Oh, ya waktu yang tepat untuk membacakan buku pada seorang anak lebih efektif ketika dia hendak tidur. Stimulus dan sugestinya akan lebih cepat masuk. Meskipun pada waktu lain, Bunda juga bisa membacakan sebuah buku untuk anak. Bisa saat anak tengah bermaian atau ketika sedang santai.
3. Kelilingi Anak dengan Beragam Buku
Sangat mustahil apabila Bunda ingin punya anak yang dekat dengan buku dan gemar membaca, tapi tidak memfasilitasi dengan adanya berbagai buku disekeliling anak.
Bunda bisa menyediakan berbagai jenis buku, di tempat yang mudah dijangkau anak. Dengan demikian setiap dia memandang sudut rumah, yang terlihat adalah buku.  Atau bisa juga sesekali mengajaknya ke toko buku atau perpustakaan umum.


4. Jadilah Teladan dengan Sering Membaca Buku di depan Anak
Tidak hanya perlu menyediakan buku saja lho, Bunda. Cara efektif selanjutnya agar anak gemar membaca adalah dengan menjadi teladan baginya. Sering-seringlah membaca buku di depannya. Jika Bunda tidak memberi contoh demikian, mana mungkin anak punya ketertarikan dengan buku. Ingat, jiwa anak itu selalu dipenuhi dengan penasaran dan seorang peniru ulung.
Sebagaimana ketika Bunda lebih asyik memegang HP, maka anak akan penasaran mengapa orang tuanya lebih suka dengan HP dan akhirnya pun anak juga akan ikut akrab dengan HP. 
5. Berikan Motivasi, tapi Tidak Memaksa
Peran orang tua dalam menumbuhkan minat baca pada anak sangatlah penting, agar prosesnya terasa menyenangkan . seorang anak akan lebih senang jika saat melakukan aktivitas didampingi oleh orang tuanya.
Pun ketika membaca, Bunda bisa berbicara padanya tentang pentingnya membaca dan mencintai buku. Namun, yang harus diingat jangan sampai memaksakan anak untuk membaca jika ia sedang tidak tertarik. Karena hanya akan menimbulkan traumatis baginya. Santai saja dalam menjalani prosesnya.

6. Jadikan Buku Sebagai Hadiah
Amat jarang dilakukan, apabila seorang anak ulang tahun atau menjadi juara memberinya sebuah buku sebagai hadiah. Padahal buku juga bisa dikategorikan hadiah yang menarik lho, Bunda. Tentu saja buku yang diberikan harus sesuai dengan usia anak dengan tampilan yang menarik agar anak semakin bersemangat.
7. Terus Pupuk Kebiasaan Hingga Besar
Anak telah ada tanda-tanda gemar dan akrab dengan buku? Tugas Bunda selanjutnya adalah memupuk kebiasaan itu hingga anak beranjak dewasa. Terus fasilitasi anak dengan buku bermutu dan bermanfaat.
Buku adalah jendela dunia, dengan banyak membaca, maka pengetahuan anak akan semakin bertambah.

Bagaimana Bunda, cukup mudah bukan cara membuat anak agar gemar membaca. Yang dibutuhka adalah komitmen Bunda untuk terus menstimulus anak dengan berbagai buku, tetap konsisten dan tidak mudah menyerah.

View Post




Suatu pagi, sebelum bekerja, seperti biasa aku menyempatkan untuk membaca koran terlebih dahulu. Pada koran Jawa Pos,terdapat sebuah berita tentang nenek yang meninggal dalam usia 145 tahun. Usia yang cukup panjang untuk ukuran umur manusia zaman sekarang. Bahkan dalam berita tersebut dikatakan bahwa nenek tersebut masih bugar dan kuat ingatannya hingga umur yang begitu senja.
Di akhir berita, dijelaskan tentang rahasia sang nenek tersebut hingga punya usia yang begitu panjang selain karena karunia Tuhan. Ternyata makanan yang ia makan serta pola hidup yang sehat menjadi kuncinya. Selama hidup sang nenek hanya mengkonsumsi makanan yang direbus, dibakar  dan sedikit makan makanan yang digoreng, serta tidak makan makanan yang tidak mengandung bahan pengawet atau pun bahan penyedap. Sang nenek hanya makan dengan bumbu yang alami.
Sungguh berbeda dengan zaman sekarang. Beragam makanan dapat kita jumpai dengan beragam, bentuk, rasa dan penyajian. Makanan yang instan yang sering kita sebut fast food mudah kita jumpai dan kita dapatkan dengan harga murah.
Namun, kita tidak pernah sadar mudahnya serta murahnya makanan itu kita dapat, justru membuat kita semakin tidak sehat. Bisa kita lihat sekarang angka kematian di usia muda sangat tinggi. Penyebab kematian tersebut yang rata-rata karena serangan jantung dan stroke berasal dari pola makan yang salah. Makanan yang tidak kita jaga, baik itu pola maupun nilai gizi dan kandungannya membuat penyakit itu mudah bersarang dan menyebabkan kematian dini.
Apalagi zaman sekarang, menurut investigasi berbagai pihak, makanan yang beredar sekarang tidak hanya mengandung bahan penyedap tapi juga bahan pengawet berupa bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.
Miris tentunya. Kemajuan teknologi sekarang seharusnya dapat memanjakan kita menikmati berbagai makanan yang seharusnya membuat kita makin sehat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kemajuan teknologi malah menjadi senjata makan tuan.
Melihat fenomena tersebut, teringat curhat seorang teman yang anaknya berusia hampir 2 tahun. Begitu susah diberi makan ketika makanan tersebut tidak diberi penyedap. Beda ketika makanan itu diberi penyedap, anak tersebut akan makan dengan lahap sekali. Selidik punya selidik ternyata oleh tetangganya, anak tersebut kerap diberi makanan kecil yang tentunya sudah bercampur dengan bahan penyedap dan pengawet.

Memang begitu susah jika kita menerapkan hidup sehat. Terutama soal makanan saat dewasa. Yang tentunya lidah kita terbiasa dengan makanan yang berpengawet, berpenyedap dan mengandung banyak bahan kimia. Kita akan merasa minder jika makan makanan yang berbahan alami dan tidak cepat saji tentunya. Karena selain fashion, makanan sudah menjadi life style yang justru mengarahkan kita pada kematian.
Namun, dibalik berondongan makanan cepat saji, untunglah masih ada sekelompok manusia yang masih sadar akan hidup sehat. Dan akhirnya berbondong-bondong mengkonsumsi makanan sehat. Mulai menjauhi makanan cepat saji dan beralih pada makanan organik.
Sejatinya, keinginan sehat itu ada pada diri kita sendiri. Jika sejak awal begitu banyak penyakit yang berawal dari makanan dan kita mau menjaga pola makan kita, tentu hidup kita akan lebih sehat. Dan penyakit semacam kolesterol, jantung dan stroke dapat kita hindari.
Alangkah bijaknya jika mulai sekarang menerapkan pola hidup sehat. Dengan menghindari bahan pengawet, bahan penyedap dan makanan ringan lain yang membahayakan untuk kesehatan kita. Tentunya langkah itu lebih baik jika dimulai dari kita sendiri. Para perempuan yang dalam keluarga bertanggungjawab menata pola makan keluarga. Terutama untuk generasi penerus. Jika sejak dini mereka diberi kesempatan untuk makan yang sehat-sehat tentu akan terbawa hingga dewasa.
Mari kita biasakan pola makan sehat.

View Post


Ada yang janggal dengan judul ini?sebelum membahasnya, saya ingin bercerita sedikit
Alkisah, ada 3 bersaudara kakak beradik. yang sulung laki-laki, anaknya aktif banget. Tidak bisa diam berpangku tangan. Aktif kegiatan di luar rumah apalagi di sekolah, dia begitu tergila-gila dengan kegiatan yang berhubungan dengan alam. Seperti seorang aktifis yang selalu ikut kegiatan ini dan itu. Dan paling getol dengan kegiatan sosial. Paling tidak bisa melihat orang susah, selalu ingin membantu yang lemah dan membutuhkan. Terus bagaimana sekolahnya jika lebih aktif kegiatan  di luar?. Tidak terlalu luar biasa?lima besar memang selalu dipegangnya, tapi paling tidak suka dengan pelajaran eksak. Tidak heran ada guru yang tidak begitu antusias dengannya karena meskipun masuk jajaran lima besar karena tidak mahir pelajaran eksak, ya biasa saja.  Satu lagi, meski terkadang cuek dengan pelajarannya dan lebih nyaman, berkegiatan di luar, dia punya prestasi yang tidak kalah hebatnya dibanding lima besarnya itu. Hafal beberapa surat dalam al-qur’an. Bahkan surat favoritnya yang selalu di hafal  adalah surat  Ar-Rahman.
Anak kedua, masih laki-laki jenis kelaminnya. Pendiam, tidak seperti saudaranya yang begitu aktif di luar, dia lebih suka berkutat dengan buku. Jago main komputer, betah banget kalau di suruh di depan komputer untuk nemuin program terbaru, sibuk utek-utek pokoknya. Jadi favorit guru-guru karena kepiawaiannya dalam beberapa pelajaran terutama pelajaran eksak. Aktifitasnya di luar?biasa saja, tidak terlalu tertarik seperti saudaranya. Prestasinya pun Cuma berkutat dalam dunia akademik.
Anak ketiga, jenis kelaminnya sudah berubah. Kali ini perempuan. Energik,tomboi, sama seperti saudaranya yang pertama, begitu cinta dengan kegiatan alam. Ada saja yang dikerjakan di lapangan, tidak pernah berhenti. Meski aktif di luar, prestasi disekolah pun tidak kalah yahud, kutu buku seperti saudara keduanya. Seperti saudaranya yang pertama, yang juga tergila-gila dengan alam dia juga begitu menggilai waktu menghapal surat Ar-rahman. Ibaratnya yang terakhir ini adalah perpaduan saudara yang pertama dan kedua. Prestasi di lapangan oke, sekolah pun jago. Jadi penulis best seler juga.
Ada nggak kisah semacam di atas di dunia ini?sttt....yang di atas belum jadi kisah nyata. Karena itu masih jadi  angan-angan saya semata, hanya tokoh rekaan yang baru akan terwujud beberapa tahun kemudian.
Tapi, kisah nyata seperti itu di dunia nyata sudah begitu banyak, bahkan berjibun saking banyaknya. Tulisan ini pun terinspirasi postingan sepupu saya tentang muridnya yang tidak begitu piawai dalam akademik, tapi ternyata sangat jago di luar akademik. Yupz, dia bisa membuat sebuah kapal dengan desain yang begitu detail meski jika di suruh menghitung dengan itung-itungan eksak dia mungkin gak bakalan detail dalam menghitungnya, sedetail hasil rancangannya.
Fenomena semacam itu, mungkin sering kita temui. Anak yang biasa saja dalam dunia akademik, bahkan cenderung diremehkan ternyata menyimpan potensi luar biasa. Multiple Intelegensi.
Sebagai guru, kerabat, teman, orang tua, sebagai manusia terkadang pikiran kita begitu sempit. Menganggap potensi luar biasa seorang anak, ada pada nilai akademiknya. Kita begitu mendewakan nilai bagus di dalam raport, tapi menganggap biasa saja nilai luar biasa di luar itu.
Anak yang berprestasi dalam dunia akademik, pasti di cap sebagai anak yang pintar. Dan anak yang tidak punya bakat dalam bidang ini pasti di cap anak bodoh. Padahal, tahukah kita anak yang cenderung tidak berprestasi di dunia akademik selama sekolah dan di cap bodoh rata-rata cenderung bisa lebih berhasil di banding dengan yang berprestasi di akademik.
Tahu cerita Albert Einsten atau Alva Edison, atau tokoh besar lainnya, yang dulu semasa kecil di cap sebagai anak bodoh karena nilai matematikanya jelek dan tidak berprestasi?. Dan lihatlah sekarang, tinta emas dunia telah menorehkan nama mereka abadi sepanjang masa. Di puja ribuan massa.
Mereka memang dicap sebagai orang bodoh, tapi mereka punya bakat luar biasa di luar akademik yang berhasil mereka kembangkan dan mereka tekuni meski tak mahir matematika hingga pentas dunia akhirnya mengakui kejeniusan mereka. Seperti halnya, kisah Einsten, Edison atau mungkin murid dari sepupu saya yang mungkin diremehkan prestasi akademiknya, akan ada banyak anak lain yang akan seperti mereka.
Pemikiran kita sebagai manusia, yang sudah terlanjur terdoktrin bahwa prestasi itu ya, di bidang akademik. Nilai bagus, apalagi nilai matematika. Jadi rangking satu, juara ini itu de el el. Seharusnya harus kita ubah mulai dari sekarang.
Banyak lho, anak-anak yang tidak berprestasi di akademik, tapi bisa melejit. Bukankah setiap anak memang dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada anak yang akademiknya luar biasa sukses, tapi melempem di luar akademik. Atau sebaliknya. Kekurangan dan kelebihan semacam ini yang harus kita tangkap dan kita arahkan hingga dikembangkan. Bukan malah men cap bahwa anak yang nilainya jelek itu tidak berprestasi. Mungkin dia bisa berprestasi di bidang yang lain yang bisa mengantarkannya pada kesuksesan.
Mengenai kekurangan dan kelebihan ini, saya teringat kisah teman sekelas saya waktu menempuh kuliah matematika. Suatu hari, sebelum masuk kelas analisis fungsional saya bertanya padanya kok dia bisa ngulang matakuliah ini bahkan sampai dua kali(karena kita sama-sama dapat nilai D pada matakuliah ini dan dua kali pula hehehe), padahal setahu saya dia itu pintar. Dengan terus terang dia bilang bahwa memang dia tidak jago pada pelajaran analisis. Saya memang tahu dia mahir pada komputasi. Hingga suatu saat dia membuat saya terpukau dan geleng-geleng dengan kecerdasannya dalam komputasi waktu dia menunjukkan program buatannya yang bisa menerjemahkan skripsinya dalam 4 bahasa atau program buatan dia yang lain yang membuatku makin kagum. Saat itu lah dia sudah menunjukkan, memang benar dia lemah dalam matakuliah analisis, tapi sangat kuat dalam komputasi. Dia bisa menutupi kekurangannya dengan kelebihan luar biasa yang ada pada dirinya.
Bukankah sudah saatnya kita mengubah paradigma kita tentang sebuah prestasi. Tidak selamanya prestasi itu selalu dikaitkan dengan prestasi akademik. Prestasi di luar akademik bisa lebih luar biasa cerdasnya. Jangan lah terburu-buru men cap seorang anak itu bodoh, hanya gara-gara dia tidak pandai dalam matematika, fisika, kimia atau pelajaran eksak yang lain. Prestasi tidak harus selalu disertai deretan nilai bagus di raport, rangking 1 de el el. Lebih dari itu jika dia memanfaatkan potensi dan mengimbangi kekurangan dengan potensi apa pun yang di punya, yakin saja dia bisa semoncer prestasi akademik.
Sudah siap mengubah paradigma kita?

View Post


Wanita!.
Salah satu bahasan yang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibicarakan dari jaman dahulu hingga sekarang salah satunya adalah wanita. Dari mulai kelahirannya hingga kelak akhir zaman, selalu menarik.
Tapi saya tidak mau membahas masalah sepanjang itu. Ada bahasan yang selalu menggelitik untuk saya ungkap dalam tulisan ini. Kecerdasan dan peranan wanita dalam peradaban.
Kita tahu sejak  dahulu bahkan sebelum adanya agama Islam, wanita selalu terpinggirkan. Bahkan ketika jaman jahiliah wanita begitu tidak diharapkan. Dibunuh hidup-hidup. Hingga Islam datang dan mengangkat derajat wanita ke arah yang lebih tinggi.
Namun, meski Islam sudah meletakkan posisi wanita sebagai makhluk yang mulia, tetap saja wanita mendapatkan diskriminasi. Terutama soal pendidikan. Kita tahu bahwa, masih tabu jika wanita mempunyai pendidikan yang tinggi. Selalu saja ada yang meremehkan.
Untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya harus berada dirumah mengurus suami, dan anak. Atau istilah yang sering kita dengar, wanita cukup tahu urusan sumur, kasur dan dapur. Hanya itu saja.
Padahal tidak demikian. Wanita dengan pendidikan tinggi berpeluang menghasilkan generasi yang hebat pula. Saya analogikan seperti ini, jika sang wanita hanya ingin berpendidikan A, maka ilmu yang ia ajarkan pada anaknya hanya A saja, karena itu yang ia tahu. Lain jika sang Wanita punya pendidikan A, tapi ia juga masih ingin menambah ilmu lain, hingga Z misalnya, maka ilmu yang ia berikan pada anaknya juga akan banyak, tidak hanya satu ilmu saja. Bukankah seorang wanita adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Lalu bagaimana jika ada pertanyaan, saya tidak bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi hingga S3 misalnya, hanya sampai SMA atau hanya sarjana S1 saja, lalu bagaimana?.
Sekali lagi saya lebih senang menekankan bahwa wanita cerdas itu tidak harus bertitel profesor, pendidikannya harus sampai S3, tidak harus. Meski hanya berpendidikan SMA atau dibawahnya, ia masih bisa menjadi wanita cerdas jika terus mau belajar. Ilmu tidak selalu di dapatkan di jenjang formal, bisa dari informal. Ingat kehidupan adalah sekolah kita yang sebenarnya. Mungkin memang lebih baik mempunyai pendidikan hingga S3 jika bisa, tapi tidak tertutup kemungkinan kita pun masih bisa cerdas dengan cara lain. Apa itu?
Yang paling sederhana, dan yang paling kerap di abaikan, BACA BUKU. Sederhana, tapi sulit dilakukan. Padahal dengan banyak membaca kita akan banyak tahu tentang hal-hal yang tidak akan kita dapatkan di dunia formal. Perluas wawasan dengan banyak membaca berbagai macam buku.
Kedua, dengan majunya teknologi informasi banyak pengetahuan yang kita dapatkan dari internet, dari televisi dari media cetak dan lain-lain. Hidup sekarang serba enak dan cepat, jadi tak ada alasan untuk tidak menambah pengetahuan.
Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang yang berilmu. Disekitar kita pasti banyak, kita tinggal mengambil ilmu mereka dengan banyak ngobrol dengan mereka.
Wanita. Entah dia seorang wanita karir dalam hidupnya atau full menjadi Ibu rumah tangga, harus tetap punya semangat untuk menambah pengetahuannya. Karena, tentu kita akan senang sekali jika kita kelak sebagai seorang wanita punya generasi yang cerdas juga kan.
Terakhir, ada sebuah kutipan yang menarik hati saya:

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai Ilmu pengetahuan(Rohana Kudus).

Tuh...tidak ada keraguan lagi kan, kalau wanita itu harus Cerdas!.

View Post


Malam itu saya membaca sebuah buku karya Nur Cholis Huda seorang penulis di majalah Muhammadiyah, tentang sebuah tulisan yang berjudul Inspirasi. Dalam tulisan itu diceritakan terdapat gadis yang mengalami cacat fisik saat lahir. Dia mengalami lobster claw sindrome. Jumlah kedua jari tangannya tidak sepuluh, tapi hanya empat. Kedua kakinya hanya sebatas lutut. Namun, dia bisa menjadi sebuah inspirasi dengan menjadi pemain piano terkenal.
Sang Ibu yang melahirkannya tidak pernah menyesal telah melahirkan seorang putri yang cacat. Dia tetap membesarkan anaknya dengan penuh cinta. Sadar bahwa putrinya mempunyai kekurangan, sang Ibu mencoba mencari dan menjelajahi semua hal yang bisa di lakukan anaknya agar kelak saat dewasa tetap bisa berguna meski punya kekurangan. Maka sang Ibu mulai melatih motorik sang putri dengan mengajarinya bermain piano. Upaya sang Ibu akhirnya berhasil. Putrinya berhasil menjadi pemain piano dan menjadi Inspirasi di dalam keterbatasannya.
Membaca kisah tersebut, saya teringat dengan murid-murid saya dahulu. Beberapa dari mereka ada yang terlahir sebagai anak autis dan ada juga yang mengalami kelainan fisik karena terkena step.  Sebagian orang mungkin memandang mereka sebagai anak yang tidak mungkin berhasil dan cenderung meremehkan potensi mereka. Bahkan mungkin mereka menganggap mereka sebagai gangguan. Dengan tingkahnya yang kadang hiperaktif.
Namun, setelah saya bergaul dengan mereka beberapa hari saya menemukan sesuatu yang luar biasa pada mereka. Memang secara kasat mata mereka benar-benar berbeda dengan teman sebayanya. Secara penglihatan mungkin mereka juga tidak secerdas teman-temannya yang lain. Namun, dibalik semua itu Tuhan memberikan sesuatu dibalik kekurangan mereka.
Salah satu murid saya yang terkena Autis mempunyai kelebihan pada bidang matematika yang luar biasa. Di saat teman-temannya masih sibuk berhitung dengan jari-jari mereka saat saya memberi soal, anak tersebut bisa menjawab soal tersebut hanya kurang dari satu menit. Hal kecil yang selalu membuat saya tersenyum jika mengingat hal itu.  Begitu pula dengan temannya yang juga kena autis mempunyai minat yang luar biasa pada buku dan olahraga. Satu temannya yang lain yang juga punya keterbatasan punya minat yang luar biasa pada komputer. Itu lah mereka punya kelebihan yang unik yang dihadirkan Tuhan dibalik kekurangannya.
Tanpa kita sadari sesungguhnya mereka yang terlahir dengan keterbatasan dan segala kekurangan, tentu punya kelebihan. Kita terkadang memandang mereka dengan satu kacamata saja, bahkan kadang cenderung meremehkan dan tidak menghargai. Karena kita selalu memandang kekurangannya tanpa memandang apa kelebihannya.
Seyogyanya Tuhan menciptakan segala sesuatu itu selalu berpasangan. Ada malam tentu ada siang. Ada suka pasti ada duka. Ada kekurangan pasti ada kelebihan dibalik kekurangan itu.  Kita pun terkadang tidak pernah sadar dengan kelebihan yang kita punya. Seseorang terlalu sibuk memikirkan kekurangannya terus menerus hingga membuatnya merasa tidak percaya diri. Tidak pernah sekalipun mengintip atau bahkan mencari tahu apa yang menjadi kelebihannya untuk menutupi kekurangannya. Karena pada hakikatnya setiap manusia selalu dikaruniai potensi masing-masing.
Mungkin harusnya kita punya malu pada mereka yang punya kekurangan, tapi mampu menutupi kekurangannya itu dengan prestasi yang luar biasa. Kita yang dilahirkan normal tanpa ada kekurangan selalu saja menuntut pada Tuhan kenapa seperti ini dan seperti itu. Kita selalu saja kehilangan rasa syukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan pada kita.
Alangkah baiknya jika kita mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Dengan menggali potensi secara maksimal bukankah itu termasuk wujud syukur kita pada Tuhan?. Tuhan tidak mungkin memberi sesuatu yang buruk pada kita. Jika pun kita diberi sesuatu yang buruk akan ada yang baik yang mengikuti. Jika Tuhan memberi kita kekurangan pasti Tuhan telah mengirimkan kelebihan yang lain pada kita juga. Tinggal bagaimana cara kita menggali kelebihan itu. Suatu kekurangan bukanlah sebab untuk menuntut Tuhan bahwa Tuhan itu tidak adil pada kita. Kekurangan itu seharusnya kita gunakan untuk mencari tahu sebenarnya apa kelebihan kita.
Percayalah Tuhan itu Maha Adil.

View Post