“Aku baru sadar saat membuka kembali buku diariku, tepat 99 hari. Saat dia melamarku. Setelah membaca buku itu, aku niatkan untuk memperbaiki dan memantaskan diriku, meningkatkan ibadahku, merutinkan sedekahku,terus mendekat pada Sang Pencipta. Itu lah caraku menjemput jodohku”






SMPIT Cendekia, Siang hari.

Istirahat kedua tiba. Para guru-guru yang di dominasi wanita bergerombol asyik bercengkrama sambil bersenda gurau. Mulai dari membicarakan tingkah murid yang lucu dan terkadang bandel, sharing tentang cara mengajar yang menyenangkan hingga tak terasa pembicaraan mereka mulai merembet ke masalah yang paling privasi. Pasangan hidup. Kebanyakan dari mereka memang masih lajang. Pembicaraan semacam itu selalu jadi topik yang menarik bagi mereka.
“Mil, jangan serius gitu. Ntar lah ngoreksi hasil kerjaan anak-anak. Sini gabung sama kita” bu Yuli, salah satu dari mereka memanggilku yang memang sedari tadi hanya serius menekuri hasil ulangan umum anak kelas 3 SMP.
“Iya, mil. Kita lagi bicaraain soal jodoh lho, gak pengen nimbrung?” bu Ayu menimpali. Yang lain menyambungnya dengan tawa kecil.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng lemah. Jodoh!.
Salah satu topik yang memang sering  kami bicarakan sebagai guru wanita yang rata-rata belum menikah. Terkadang dengan bercanda satu sama lain kami sering menjodoh-jodohkan guru satu dengan guru laki-laki yang masih lajang  juga.
Dan entah kenapa, atau mungkin karena tuah bahwa kata-kata bisa jadi doa, yang kami jodoh-jodohkan itu akhirnya ada yang menikah beneran. Tentu saja kami gembira karena kami punya andil juga dalam mengubah status salah satu teman menjadi menikah, selain dapat pahala.
Kini makin sering saja dibahas masalah itu. Meski tidak terlalu tertarik aku hanya ikut-ikutan saja. Sekedar meramaikan. Melepas penat yang kadang datang di sela-sela mengajar. 
**
“Taarufmu gimana, Mil?” tanya Ibu selepas sholat maghrib. 
Berdua kami berjamaah, karena di rumah jika akhir pekan seperti ini memang hanya tinggal kami berdua. Adik-adikku sedang menempuh kuliah di Malang. Setiap sabtu minggu aku memang selalu meluangkan waktuku untuk pulang menemani Ibu yang hidup sendiri sepeninggal Ayah. Akhir pekan memang sekolah tempatku mengajar  libur.
Aku  hanya menunduk menekuri sajadah yang ada di depanku. Lalu  kuraih tangan Ibu dan menciumnya takzim.
“Doakan Mila, ya bu. Doakan agar taaruf yang Mila jalani kali ini berjalan lancar”
“Tanpa kau minta pun Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak!” Ibu mengelus kepalaku lembut disertai senyuman teduh yang selalu aku rindukan.
Sebagai Ibu, wajar jika beliau cukup khawatir di usiaku yang menginjak dua puluh tujuh aku belum mendapatkan pasangan hidup. Sedangkan sebagian teman-temanku sudah ada yang mempunyai anak dua bahkan lebih. Aku cukup paham di usianya yang beranjak uzur Ibu juga ingin menimang cucu. Menemani hari-hari tuanya.
Itu lah yang belum bisa aku wujudkan sampai sekarang. Bukan aku tidak ingin menikah. Perempuan manapun pasti ingin menikah. Itu pula doa yang kerap aku lantunkan di sepertiga malam. Di keheningan malam, selalu aku bersungkur di sujudku memohon agar Allah segera mempertemukanku dengan jodohku. Jodoh yang sudah ia tuliskan untukku di lauful mahfuz.
Beberapa kali taaruf pun sudah aku jalani. Namun, entah kenapa selalu saja mengalami kegagalan. Dulu sewaktu masih kuliah di Malang dan menjelang semester akhir, seorang temanku yang kebetulan satu pengajian, menjodohkanku dengan seorang kakak kelas yang sudah ia kenal.
Dan perkenalan itu pun hanya sampai pada tingkat perkenalan. Entah karena belum ada kecocokan atau mungkin Allah belum berkenan mempertemukan dalam bingkai pernikahan, taaruf itu pun tidak berlanjut.
Setelah itu banyak pula taaruf yang aku jalani. Dan lagi-lagi menemui kegagalan.  Hingga sekarang, aku hanya berpasrah pada Allah. Aku yakin Allah sudah menyediakan jodoh untukku, dan akan dipertemukan di saat yang tepat.
“Baru sampai Mil?” tanya Kiki teman satu kostku. Setiap senin pagi jam 6 aku sudah harus berada di kost lagi. Aku selalu berangkat pagi-pagi dari rumah yang berjarak cukup jauh dari tempatku mengajar hingga  harus kost.
Setiap senin jam pertama, aku harus mengajar kelas 2. Itu lah yang menyebabkan aku harus sampai pagi-pagi di kost. Siap-siap sebelum berangkat ke tempat mengajar.
“Oh, ya Mil. Kenalkan ini Dinda temanku. Ia akan menginap di sini 2 hari” Kiki memperkenalkan seorang gadis cantik yang imut berkerudung merah. Dinda, gadis itu, yang sedang duduk menekuri sebuah buku tersenyum  manis padaku sambil mengulurkan tangannya.
“Assalamualaikum, mbak Mila” sapanya renyah.
Aku menjawab salamnya. Dan menyebutkan namaku. Setelah itu, aku   langsung berjalan menuju kamarku dan bersiap-siap. Aku minta maaf pada Dinda tidak bisa menemaninya ngobrol karena harus buru-buru ke sekolah.
Sore ketika pulang sekolah, suasana kostku masih sepi. Mungkin teman-temanku sedang ada kegiatan di luar hingga jam segini kost tak berpenghuni. Macam-macam kegiatan mereka, ada yang memang mengajar fullday seperti diriku, ada pula yang mengajar privat sampai malam hingga ikut kegiatan seperti pengajian hingga malam pula.
Aku merasa beruntung karena terdampar di tempat ini. Selain suasana kekeluargaan, agamisnya, para penduduknya  pun juga membuatku kagum. Sikap ramah, santun, taat beragama juga jiwa sosialnya yang tinggi membuatku betah sekali di sini.
Aku memasuki kamarku yang terkunci. Yanti yang sekamar denganku pasti sedang mengajar privat. Ia memang anak yang aktif sekali. Ia mengajar di sebuah SDI yang tak jauh dari tempatku mengajar. Mengajarnya pun fullday. Namun, dia masih sempat mengajar privat seusai mengajar hingga malam setiap hari.
Aku juga sebenarnya bingung. Dengan kegiatan yang seabrek itu bagaimana mungkin dia bisa sekuat itu menjalaninya. Pernah suatu hari aku bertanya padanya. Dia Cuma menjawab singkat dengan senyum teduh khasnya.
“Waktu kita Cuma sebentar di dunia, Mil. Gunakan sebaik mungkin, manfaatkan sebaik mungkin, produktif selalu. Karena itu bekal kita”
Aku Cuma mengangguk saja sambil tersenyum. Kata-katanya memang benar. Dan ia memang tidak pernah berpangku tangan meski sedang libur sekolah pun. Benar-benar gadis luar biasa.
Selesai mandi, aku merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil menunggu adzan maghrib. Sebagian teman kost ku sudah ada yang datang. Suara celoteham mereka sudah terdengar hingga kamarku yang berada paling belakang.
Mataku tiba-tiba tertumbuk pada sebuah buku tebal berwarna keemasan yang tergeletak di meja kamarku. Buku apa itu?belum pernah aku melihatnya. Buku milik Yanti kah?
Tanganku terjulur meraihnya. Penasaran juga. Kubaca judulnya.

7 keajaiban Rejeki.

Lumayan menarik judulnya. Kubuka perlahan buku itu. Kubaca tiap kalimat yang tertuang dibuku tersebut mulai dari halaman depan. Indah.
Kubuka lagi halaman demi halaman. Dahsyat. Dan aku pun larut dalam untaian mutiara yang terkadung dalam buku itu. Sejenak terkadang termenung lama.
Menginginkan Jodoh yang lebih baik, maka mulailah memperbaiki diri. Inilah yang disebut memantaskan diri. Bukan sekedar memantaskan diri, tapi memantaskan diri di hadapan Yang Maha Menilai. Maka, ibadah A ditingkatkan, ibadah B dilipatgandakan, ibadah C dan D dirutinkan. Bukankah Dia telah berjanji,” Yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya”

“Lagi baca apa mbak?”Sesosok suara mengagetkan aku. Ternyata Dinda. Gadis manis yang tadi pagi berkenalan denganku. Aku menyunggingkan senyum padanya. Dan menunjukkan buku yang sedari 2 jam yang lalu menemaniku sambil menunggu Yanti pulang.
“Oh, bagus ya mbak bukunya. Aku membelinya 3 hari yang lalu”komentar Dinda.
“Jadi ini bukumu?”ujarku kaget.
Dinda mengangguk pelan. “Tadi Mbak Yanti meminjamnya. Baca aja Mbak, bagus kok bukunya. Semoga Mbak Mila mendapatkan hikmah dari buku itu” jawab Dinda masih dengan senyum manisnya.
Dan memang ada yang menarik hatiku sejak membaca buku itu. Tentang menjemput jodoh apalagi. Yang tidak pernah bosan mengusik pikiranku. Sepeninggal Dinda, aku pun kembali terlarut dalam buku itu.
**
Lunglai aku meletakkan hp ku. Sms dari Mbak Nuri membuat semangatku tak menyala lagi.  Taaruf itu gagal lagi. Seorang ustadz muda, yang diperkenalkan Mbak Nuri padaku. Setelah menyerahkan profil masing-masing saat awal taaruf, kesempatan untuk bertemu justru tak pernah datang menghampiri kami. Jarak yang cukup jauh dengan domisili ustadz itu serta kesibukan kami, adalah salah satu faktor. Aku pernah mengatakan pada Mbak Nuri, minimal hanya bertemu sekali sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Mbak Nuri pun sering menjembatani kami, tapi dua faktor itu lah yang selalu menjadi penghalang. Saat aku sudah siap berangkat untuk bertemu, maka sang ustadz lah yang kemudian tidak bisa bertemu. Pun sebaliknya. Bahkan saat kami berdua punya waktu luang, dan sudah menentukan akan bertemu dimana dan jam berapa bersama mbak Nuri, tetap saja gagal.
Bukan karena kesibukan lagi, entah kenapa tiba-tiba Ibu sang Ustadz mendadak sakit dan dia harus berputar pulang meskipun hampir sampai di tempat yang telah kami sepakati. Terngiang kata-kata Ibu dibenakku,”Jika dia jodohmu pasti akan dipermudah,tak akan ada hal yang bisa mengahalangi. Allah yang akan menyingkirkan semua halangan itu. Karena ketetapanNya sudah berlaku”
  Aku tak mau menyalahkan siapa pun. Allah mungkin belum berkenan mengijinkan aku menyempurnakan separuh agamaku. Untuk saat ini. Aku selalu yakin bahwa tiap manusia punya jodoh masing-masing. Tulang rusuk tak akan pernah tertukar. Akan bertemu di saat yang tepat. Allah sudah berjanji.
Tiap  sepertiga malam, tak lupa aku bersimpuh bermunajat pada Allah. Memohon padanya agar Allah memudahkan jalanku dalam menemukan belahan jiwaku, yang kelak akan membimbingku serta anak-anakku.
Aku kembali menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas. Mencoba melupakan kejadian kemarin. Pasti akan ada hikmahnya. Tiap kesulitan pasti akan kemudahan yang menghampiri. Tiap kesedihan yang hadir, akan datang kebahagian kemudian hari. 
Termasuk corat-coret diary yang sudah jadi kebiasaanku sejak masih kuliah. Aku pun tidak tahu kekuatan gaib manakah yang menuntun jari-jariku. Mimpi-mimpi itu kutulis dengan lancar. Mimpi-mimpi yang ingin aku raih sebelum usiaku genap 28 tahun. Tiba-tiba aku teringat dengan isi buku yang pernah kupinjam dari Dinda. Percepatan Mimpi. Bukankah dalam buku itu disinggung dengan sangat jelas. Percepatan dalam waktu 99 hari. 
Tetapkan mimpimu. Perjelas kapan terjadi. Positifkan kata-kata itu. Yakin, yakin, yakin, yakin.dan pantaskan diri. ibadah A ditingkatkan, ibadah B dilipatgandakan, ibadah C dan D dirutinkan. Bukankah Dia telah berjanji,” Yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya”
Dan malam itu dengan mantap aku menuliskannya. 99 hari. Sejak hari itu pula aku mulai meningkatkan berbagai macam ibadahku. Meningkatkan tahajudku, sholat hajatku, sedekahku, dan yang paling penting meminta maaf ulang pada ibu. Memohon padanya agar tak lelah untuk selalu mendoakanku. Agar Allah pun melampangkan jalanku. Menggenapkan separuh agamaku. Keinginan itu makin menggebu. Aku tak memikirkan dengan siapa kelak aku bersanding. Aku yakin bahwa Allah akan menyediakan seseorang yang terbaik.
**
2 bulan berlalu.
Dengan tergesa-gesa aku menyeret kakiku menuju kelas XII. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. setelah istirahat pertama aku memang punya jam mengajar dikelas itu. Pelajaran Geografi. Seharusnya jam 09.30 tadi aku sudah masuk ke kelas itu, tapi karena ada keperluan dengan kepala sekolah aku harus menunda jam mengajarku hampir setengah jam.
Dari jauh aku sudah mendengar riuh tawa dan celotehan anak didikku. Kelas XII memang terkenal sebagai kelas yang lumayan rame. Jika telat sebentar saja guru memasuki kelas, bisa dibayangkan sendiri kelasnya jadi seperti apa. Seperti sekarang. Mereka bertambah heboh manakala aku memasuki kelas. Karena mereka mengira aku tidak masuk hari ini. Dan tambah heboh lagi saat aku memberitahu kalau jam ini aku gunakan untuk ulangan harian.
Sambil menunggu murid-muridku menyelesaikan soal yang ku ujikan, hp ku tiba-tiba berbunyi pelan. Sms dari sebuah nomor asing yang tidak aku kenal.
Assalamualaikum, mbak Mila. Masih ngajar di SMPI Cendekia mbak?saya Ratih, adik kelas mbak Mila dulu di Kampus yang mbak bantu penelitian skripsinya. Ingat mbak?gimana kabar mbak Mila sekarang
Ratih. Aku memeras otakku mengingat-ingat nama itu.
Ratih. Ya, gadis berjilbab lebar adik tingkatnya di Malang dulu yang dulu datang padanya minta bantuan untuk dibimbing karena kebetulan Skripsinya dan Skripsi Ratih membahas persoalan yang sama. Bagaimana kabar dia sekarang?bagaimana dia tahu aku sekarang mengajar di Cendekia?
Kabarku baik mbak, aku sekarang di Jakarta. Kerja di sini mbak 5 bulan yang lalu. Mbak kenal dengan mbak Yeni, dia juga pernah ngajar di Cendekia. Kebetulan suami mbak Yeni adalah atasan saya
Aku tersenyum kecil. Sambil duduk-duduk di balkon kost aku membalas semua sms dari Ratih. Dunia memang sempit sekali. Yeni memang teman mengajarnya. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menikah dan ikut suaminya yang bertugas di Jakarta. Dan sekarang Ratih pun berteman dengan Yeni. Sempit sekali bukan?
Sms Ratih yang selanjutnya masuk kembali ke hp ku. Kali ini wajahku berubah tegang membacanya. Tak menyangka akan dapat pertanyaan seperti ini.
Sudah menikah mbak?
Aku terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Belum...
Mau nggak mbak aku kenalkan dengan kakakku. Kebetulan mas ku lagi nyari calon istri. Dia stay di Bali sekarang
Keningku berkerut. Berkenalan dengan kakak Ratih?. 
Aku berpikir sejenak.Kenapa tidak.  Bukankah aku memang sedang berikhtiar mencari pendamping hidup. Setelah berkali-kali taaruf yang aku jalani banyak yang tidak berhasil.  Tidak ada salahnya kucoba. Mungkin Allah akan berkenan memberi jalan dan aku bisa mewujudkan mimpi Ibuku untuk melihatku menikah tahun ini.
Dua hari kemudian aku menerima sms dari Ratih lagi.
2 minggu lagi masku akan pulang ke Jawa mbak. Aku kebetulan juga pulang karena ada kerabat yang menikah. Kita bisa ketemuan kan mbak
Ya, aku baru tahu kalau ternyata rumah Ratih tidak jauh dari tempatku mengajar. Kebetulan yang sangat indah menurutku. Aku berpikir apakah ini bagian dari skenario Allah dalam membimbingku untuk bertemu jodohku. Aku mulai mengingat awal aku berkomunikasi dengan Ratih. Semuanya berentetan. Seperti sebuah kebetulan.
Pagi itu. Aku mematut diri di depan cermin. Dengan memakai gamis warna biru tua dan jilbab panjang dengan warna senada yang lebih muda. Pagi ini Ratih berjanji untuk mengenalkanku dengan kakak laki-laki serta Ibunya yang turut mendampingi. Sejak subuh tadi jantungku berdebar lebih cepat. Grogi serta bayangan gagal itu sedikit-sedikit menghantui. Buru-buru kutepis pikiran itu. Kalau sejak awal aku sudah ragu, maka Allah pun tidak akan ragu mendekatkan rahmatNya. Bismillah. Aku memantapkan langkahku.
“Assalamulaikum, mbak Mila,”sapa Ratih begitu ceria ketika aku menginjakkan kakiku di pelaratan masjid Ar-Rahmah. Gayanya yang tidak berubah, ceria, energik dan ramah ketika menyambutku membuat perasaan grogi dan deg degan yang sedari tadi menderaku perlahan hilang.
Pun bicaranya yang masih ceplas ceplos. Rasanya seperti tidak pernah berpisah lama. Ratih pun kemudian memperkenalkanku dengan Ibunya. Dan obrolan berlanjut. Ratih lebih mendominasi pembicaraan. Ada saja cerita yang keluar dari mulutnya. Entah ketika masa-masa dia minta bimbingan padaku, yang katanya aku agak galak, tempat kerjanya dan yang membuat kami kemudian tertawa adalah saat menyinggung mbak Yeni. Kami merasa dunia ternyata sempit sekali. Kami dipertemukan kembali lewat pertemuannya dengan mbak Yeni.
Setengah jam berlalu ketika aku dan Ratih mengenang masa-masa kami dulu. Aku baru sadar selain aku, Ratih dan Ibunya yang ada disini ternyata ada sosok lain diantara kami. Seorang laki-laki yang tidak aku tahu wajahnya karena sedari tadi dia hanya menunduk sedikit membelakangi kami. Seakan tidak merasa adanya kami. Mungkinkah dia?
“Ini kakakku mbak Mila. Mas Tama. Namanya Pratama” Ratih akhirnya mengenalkan laki-laki itu yang memang ternyata adalah laki-laki yang akan dikenalkan denganku. Aku meliriknya sebentar lalu mengucap salam padanya sebagai tanda kenal. Ia pun hanya menjawab salamku lirih dan melirik sekilas sama denganku.
“Anak saya ini tinggalnya di Bali, nak Mila. Ikut dengan Ibu membantu kerja disana. Kebetulan sekarang juga sedang menyelesaikan kuliahnya di Bali juga” kini giliran Ibu Ratih yang bicara. Aku hanya mengangguk menanggapi uraian Ibu Ratih. 
“Usianya hampir tiga puluh. Dan Ibu rasa sudah waktunya punya pendamping. Ratih sudah bicara pada Ibu, kalau hendak mengenalkan kakaknya dengan nak Mila. Ratih banyak bercerita soal nak Mila. setelah bertemu langsung ,Ibu rasa nak Mila memang cocok mendampingi anak saya. Apa nak Mila bersedia menikah dengan anak saya?”
Aku terdiam lama mendengar kata-kata Ibu Ratih yang langsung ke poin masalah. Langsung menanyakan apakah dirinya mau menikah dengan anak sulungnya. Dengan ekor mataku, kulihat Mas Tama masih diam menunduk. Sama sekali tak bersuara atau bahkan menoleh.
“Saya akan membicarakan masalah ini dengan Ibu saya terlebih dahulu. Saya minta waktu seminggu untuk menjawab masalah ini. Untuk Istikhoro”. Aku memang tidak mungkin bisa langsung memutuskan hal itu sendirian. Aku perlu melibatkan Ibuku,terutama Allah. Bagaimanapun menikah bukankah hal yang sepele. Tidak bisa diputuskan hanya sekali waktu. Dan waktu seminggu itulah yang aku minta. Ratih dan Ibunya pun tidak keberatan dengan keputusanku. Mereka bisa menerima.
**
Subuh itu menjadi subuh paling indah dalam hidupku. Tubuhku rasanya masih belum berpijak pada bumi. Masih mengawang-ngawang dengan kejadian sesaat tadi. 
Setelah pertemuanku dengan Ratih seminggu yang lalu, aku langsung memutuskan untuk pulang dan berbicara pada Ibu mengenai permintaan keluarga Ratih. Selama seminggu itu, Ibu tiada henti melakukan sholat Istikhoro untuk meminta petunjuk apakah benar laki-laki itu lah yang akan dikirim Allah padaku sebagai pendamping hidup.
Genap seminggu, Ibu mantap mengatakan kalau beliau setuju dan yakin jika mas Tama lah orangnya. Sungguh tak ada hal lain yang kuinginkan selain ridho dari Ibuku. Karena jika Ibuku ridho maka Allah pun akan ridho dengan niat yang akan aku lakukan. Maka aku pun mantap menghubungi Ratih selesai sholat subuh. Dan bersedia menikah dengan kakaknya. Ratih pun girang mendengar keputusanku, tapi tak  dinyana Ratih mengatakan padaku, kalau hari minggu keluarganya akan segera datang kerumahku. Untuk melamarku. Aku mengingat hari. Minggu?bukankah itu besok.
Ibu pun kaget saat aku mengatakan kalau keluarga Ratih akan datang besok untul lamaran. Besok. Ya besok. Rasanya tidak percaya. Benarkah ini akan terjadi. Aku masih belum bisa percaya. Rasanya semuanya berjalan cepat sekali. 
Seperti biasanya aku pun mengungkapkan kebahagiaan itu pada buku yang setia menemaniku. Diariku. Menuliskan semua rasa bahagiaku. Bahwa aku bisa mewujudkan mimpi Ibu sebentar lagi. Menikah. Haru rasanya saat Ibu menitikkan air mata, manakala aku memeluknya untuk meluapkan kegembiraanku. Dan aku baru sadar saat kembali membuka lembaran diariku bulan-bulan lalu. Aku tersentak kaget. Buru-buru aku mengambil kalender dan menghitung dengan jariku. Besok, hari ahad tepat 99 hari?.
***
Dan baru hari ini aku bisa menatap wajah Mas Tama yang telah resmi menjadi suamiku. Setelah kemarin aku hanya bisa mencuri-curi pandang saat bertemu. Dia duduk di depanku, mengulum senyum teduh saat aku mencium tangannya setelah menandatangani buku nikah kami. Setelah resepsi sederhana yang kami adakan usai, mataku lekat memandangi mahar nikahku yang tergeletak manis di atas tempat tidur di kamar pengantin kami.
Pelan tanganku terjulur meraih sebuah buku berwarna keemasan bercampur coklat. Dengan judul unik di bagian covernya. 7 keajaiban Rezeki. Karya Ippho Santosa.
Yupz, buku itulah yang awalnya mengilhami diriku untuk terus menata diri. Memantaskan diri dihadapanNya. Dan mengenalkanku pada keajaiban 99 hari. Keajaiban yang benar-benar datang padaku tepat 99 hari. Mas Tama adalah keajaiban yang dikirim Allah disaat yang tepat. Mengenapkan separuh agamanya, mengubah statusku menjadi istri dan sebentar lagi mengubahku pula menjadi seorang Ibu. Buku itu lah yang kemudian aku minta pada mas Tama sebagai mahar nikahku. Buku itu yang membuka semuanya.
“Bimbing aku menjadi wanita sholehah ya, mas. Menjadi bidadarimu, dunia dan akhirat” ucapku. Sekali lagi mencium tangannya lama. Untuk kedua kalinya mas Tama menjadi imam sholatku. Setelah tadi pagi mengimamiku seusai akad nikah. Sholat maghrib kali ini terasa berbeda. Mas Tama membalasnya dengan sebuah ciuman dalam dikeningku. Terimakasih, ya Allah. Engaku menjawab setiap doaku...



View Post

Bagi sebagian Ibu yang mempunyai anak balita, tahapan toilet training adalah salah satu bagian yang paling jadi momok menakutkan. Bagaimana tidak, jika seharusnya seorang Ibu biasanya tenang ketika anaknya buang air kecil atau besar karena memakai pempers, kini harus siap dengan segala kerempongan. Harus sigap ketika anak pipis di sembarang tempat tanpa komando dan harus persiapan celana dalam yang lebih banyak.
Hal itu juga yang saya rasakan ketika harus menghadapi toilet training putri saya. Target saya sebenarnya, sih ketika usia 2 tahun harus lulus tanpa ada pempers lagi. Namun, karena berbagai hal, toilet training putri saya berhasil ketika berusia 3 tahun. Walaupun harus sering bangun tengah malam lebih sering, menerima kenyataan kasur sering diompoli dan persiapan celana lebih banyak dari biasanya.
Alhamdulilah, hanya butuh waktu tak kurang dari 3 bulan, akhirnya tahapan ini berhasil saya lewati. Untuk melewatinya tentu butuh perjuangan dan tips yang tidak mudah. Ingin tahu tips apa saja yang saya pakai, baca artikel ini sampai habis ya;
1. Niatkan Dengan Kuat
Satu hal pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan niat yang kuat saat memutuskan bagi anak untuk tidak lagi memakai diapers. Tanpa niat yang kuat hal yang lain sebagai pendukung tidak akan begitu berguna. Pastilah kita tidak lupa, bukan?bahwa hal apa pun selalu diiringi dengan niat jika ingin berhasil. Berdasarkan pengalaman 2 kali melakukan toilet training, niat ini sangat berpengaruh. Pertama kali melalukannya, saya memang tidak terlalu niat dan belum yakin akan berhasil. Hasilnya? Memang tidak berhasil. Baru pada toilet training yang kedua, niat saya sangat besar. Hasilnya pun sangat menggembirakan. Tak perlu ada drama yang menyakitkan.
2. Harus Ada Rasa Ikhlas,Kesiapan dan Keyakinan dari Ibu
Satu lagi, bahwa Kita sebagai Ibu harus yakin, siap dan ikhlas saat mulai melakukan toilet training.  Mengapa demikian? Karena anak pun akan lebih siap ketika melakukannya. Ikatan bonding yang kuat, adalah faktor mengapa ketika ibu siap dan ikhlas, akan lebih mudah melakukan tiolet training
3. Kekompakan Antara Kedua Orang Tua
Saat melakukan toilet training, kedua orang tua harus kompak dan bisa bekerja sama antara satu dengan yang lain. Kekompakan sebagai orang tua akan berpengaruh besar pada keberhasilan. Kekompakan bisa dimulai dari niat, saat anak pipis dimana-mana, saat anak ngompol tengah malam dan kompak dalam menyemangati diri sendiri dan anak.
4. Dukungan Dari Lingkungan
Poin lain yang tidak boleh dilupakan adalah dukungan dari lingkungan. Bukan hanya orang tua saja yang harus kompak, lingkungan juga demikian. Utamanya lingkungan di dalam rumah. Beri pengertian bahwa anak sedang dalam masa toilet training dan minta pemakluman jika anak pipis tanpa dikomando. Dukungan yang kuat akan berpengaruh pada lamanya masa tersebut. Semakin besar, maka masa yang dilewati tidak akan terlalu lama.
5. Konsisten Untuk Tidak Lagi Memakai Diapers
Apabila sudah niat untuk melakukan toilet training, maka niat untuk tidak lagi memakai diapers juga harus lebih kuat. Ketidak konsistenan dalam hal ini justru akan membuat anak merasa bingung. Jadi jika ingin berhasil, jauhkan diapers.
6. Sabar dan Ingat Bahwa Ini Tidak Lama
Bisa dibilang masa toilet training adalah masa yang berat bagi orang tua. Bagaimana tidak, seorang Ibu harus rela berulang kali mengantar anak pipis tengah malam atau sabar ketika anak ngompol berulang kali. Sabar ini akan berbuah manakala toilet training yang dilakukan berhasil dan ingatlah, bahwa masa itu tidak akan lama, Moms.
7. Sounding Anak Terus Menerus
Kerjasama tidak hanya antara kedua orang tua saja. Kerjasama juga harus dilakukan dengan anak. Lakukan sounding tiap akan tidur. Beri pengertian pada anak, bahwa dia tidak boleh lagi memakai diapers. Siapkan mentalnya dan beri pengertian bahwa jika dia ingin pipis atau buang air besar bisa dilakukan di kamar mandi.

Demikian beberapa tips yang telah saya lakukan dalam masa toilet training putri saya, semoga tips yang sedikit ini juga bisa bermanfaat untuk para Moms lainnya. 


View Post
“Cinta seperti ini lah yang aku inginkan, cinta yang sesuai dengan syariat Islam. Yang di tuntunkan oleh Allah dan Rasulullah. Bahkan nama lengkapnya pun aku tidak tahu, aku berbicara dengannya selang beberapa hari sebelum akad nikah itu terjadi saat ia menanyakan aku meminta mahar apa. Subhanallah, semua berlangsung cepat, tapi mencintai seperti inilah yang aku inginkan”



Vina mengakhiri tilawah Qur’annya. Tepuk tangan membahana menyambutnya, ketika ia turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya.
Senyum merekah dari sepasang pengantin yang sedang berbahagia hanya bisa ia pandang dengan wajah sendu. Entah sudah berapa kali ia diminta untuk jadi pembaca kalam Ilahi dalam sebuah pernikahan. Ia tidak dapat menghitungnya.
Ia selalu membayangkan, bukan sebagai pembaca kalam Ilahi, ketika ada di panggung pernikahan. Tapi sebagai aktor utama dalam acara itu. Namun,....
“Hei, ngelamun lagi!” tepukan keras dari Yani, sahabatnya sesama perawat membuatnya terjingkat kaget.
Vina tidak membantah. Ia hanya menghela nafas.
“Dicariin sama dokter Akbar tuh” ujar Yani.
“Ada apa?” tanya Vina. Tugas jaganya sudah selesai. Sekarang bahkan waktunya pergantian shift. Dan ia sudah bersiap-siap pulang.
Yani mengangkat bahu.
Vina tahu, meski sudah waktunya ia pulang, jika salah seorang dokter menginginkan ia melakukan sesuatu, ia harus menahan diri lebih dulu. Apalagi dokter Akbar yang memang pernah mengatakan lebih cocok didampingi dirinya dari pada perawat lain.
“Undangan lagi?”celetuk Yani terkejut saat ia menemukan sebuah undangan tergeletak di samping tas Vina.
“Kamu kapan, Vin?nyebar undangan kayak gini?masa nerima undangan terus” komentarnya kemudian dengan cekikikan. Yang membuat Vina, yang sudah mencapai pintu keluar untuk menoleh sesaat.
Senyum sedih tersungging dibibirnya.
“Doaian aja,”katanya sebelum berlalu.
**
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Beberapa temannya sudah bersiap hendak berganti shift. Vina yang kebetulan dapat shift malam hari ini datang lebih cepat. Karena mendapat sms dari dokter Akbar menyuruhnya untuk datang lebih awal karena ada keperluan yang hendak disampaikan.
Namun, dokter Akbar rupanya sedang ada rapat dengan direktur Rumah Sakit hingga Asyar nanti. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sambil mempersiapkan alat-alat tugasnya. 
“Vin..pulang dulu ya?”pamit beberapa temannya. Vina agak merasa aneh sejak awal dia memasuki ruang perawat. Mereka menyambutnya dengan senyum-senyum yang tidak wajar. Bahkan beberapa perawat yang lain meledeknya. Entah karena apa.
“Semoga sukses ya, Vin” bisik Yani. Sejurus kemudian ia mengacungkan jempolnya.
Vina yang merasa kian aneh dan penasaran karena mereka juga tidak mau mengatakan apa yang terjadi memilih menyibukkan diri dengan HP nya. Sejak tadi pagi ia memang sedang menunggu balasan sms dari seseorang. Seseorang yang selama ini dekat dengannya. Namun, seserius apa pun ia memandangi layar hp nya tetap tidak ada sms masuk.
Ia mulai menyerah tatkala, hpnya berdering tanda sebuah sms masuk. Vina terjingkat senang. Ruang perawat mulai sepi. Tinggal dirinya dan kepala perawat. Beberapa temannya yang jaga malam masih belum datang.
Bukan dari mas Halim, orang yang selama ini ia tunggu sms nya sejak tadi pagi. Tapi dari salah seorang temannya. Teman SMP nya. Dengan malas, Vina membuka inbox nya. Matanya terbelalak kemudian melihat deretan pesan yang tertera disana. Jantungnya berdebar lebih cepat dan ia merasa tangannya mulai bergetar. Ada sesak di dadanya. Benarkah berita ini?
Mohon doanya teman-teman, salah satu teman kita, Dika akan melangsungkan akad nikah tanggal 17 Januari 2014. Mohon doanya agar menjadi keluarga sakinah mawadah wa rohmah
Dan sederetan pesan itu, cukup membuat Vina terlempar jauh ke masa lalu.
“Saya suka dengan Vina sejak SMP” kata-kata itu keluar dengan mulut bergetar. Dan wajah itu, ya ampun makin menunduk.
Vina yang sedang duduk disebelahnya awalnya cukup kaget. Tapi tak urung tersenyum senang dalam hati. Berarti perasaan cinta yang selama ini ia pendam tidak bertepuk sebelah tangan, tapi bertepuk tangan.
Namanya Radika Pratama. Mereka berdua memang berteman sejak SMP. Dan sejak dibangku SMP pula, Vina mulai mengagumi Dika, panggilan akrab Radika. Wajah yang teduh, tutur kata yang sopan dan kalem, pandai bukan hanya dalam agama tapi juga berkali kali jadi juara kelas disekolahnya mampu membuatnya terpikat kian hari.
Namun, Vina tak terlalu berani mengatakan ia suka. Ia hanya mampu memandangi Dika dari jauh dengan rasa kagum yang kian bertambah dari hari ke hari. Hingga mereka lulus SMP dan bertemu kembali ketika SMA, karena kebetulan mereka melanjutkan di SMA yang sama, rasa itu tetap bersemayam dengan tenang dalam hatinya yang paling dalam.
Hingga saat ia memutuskan untuk pindah sekolah karena dirinya telah diterima disebuah sekolah favorit yang jadi incarannya, tanpa ia duga sama sekali, Dika mengajak berbicara empat mata dengan dirinya sebelum ia benar-benar pindah sekolah senin depan. Pengakuan cinta itulah yang kemudian keluar dari mulut Dika. Bukan main girangnya hati Vina, tapi juga sedih kenapa perasaan itu baru terkuak ketika dia akan pergi.
Perasaan itu terus berlanjut ketika mereka melanjutkan kuliah. Kemajuan teknologi makin membuat mereka berdua mudah dalam berkomunikasi. Meski kuliah berjauhan karena Dika diterima di PTN terkenal di Surabaya sedangkan dia melanjutkan kuliah perawat sesua dengan cita-citanya, tak membuat cinta mereka pudar bahkan hilang.
Setelah hampir lima tahun menjalin hubungan, Vina memberanikan diri memperkenalkan Dika pada orang tuanya. Momentum itu terjadi saat kakak perempuannya menikah. Dari dulu Vina sudah bercerita pada orang tuanya kalau ia sudah dekat dengan seorang laki-laki, dan mereka ingin serius. Sebagai bukti keseriusannya itulah, Vina dan Dika akhirnya memberanikan diri  menghadap ke hadapan orang tua Vina.
“Ibu kok tidak suka dengan dia, Vin. Coba kamu cari yang lain” jawab Ibunya saat Vina meminta pendapat Ibunya soal Dika.
“Kenapa bu?” tanya Vina was-was.
“Ibu Cuma merasa dia tidak baik untukmu. Apa dia benar-benar serius denganmu? Feeling Ibu ada yang tidak beres dengan anak itu. Satu lagi Dika orangnya diam banget, tidak bisa ramah dengan keluarga-keluarga kita yang lain. Senyum nya itu lho pelit banget” jawab Ibu.
Jawaban Ibu tidak salah seratus persen. Sejak SMP Dika memang terkenal pendiam. Jarang sekali bicara, jika bicara pun hanya seperlunya saja. Dan itu dulu yang membuatnya kepincut selain kepandaiannya. Tapi kenapa Ibu mengatakan ada yang tidak beres dengan Dika. Ada apa?.
Pertanyaan Vina baru terjawab suatu sore saat ia sedang bertugas disebuah Rumah sakit. Sebuah panggilan masuk ke dalam hp nya. Nomer asing yang tidak ia ketahui siapa. Dan kata-kata pedas langsung berceceran ditelinganya waktu ia memutuskan menerima panggilan asing itu. Dari seorang wanita yang tidak ia kenal. Memarahinya habis-habisan. Entah karena apa. Apalagi ketika ia menyebut-nyebut  nama Dika.
“Jangan dekati Dika lagi. Gara-gara kamu hubunganku dengan Dika sekarang bermasalah”kata-kata terakhir yang cukup membuat Vina terhenyak. Hubungan?hubungan apa?. Ada hubungan apa wanita itu dengan Dika. Apa selama ini selain menjalin hubungan dengan dirinya Dika menjalin hubungan dengan wanita lain diam-diam dibelakangnya.
Panik Vina menghubungi nomor hp Dika. Namun, hingga sepuluh kali Vina mengirimkan panggilan hanya nada sibuk yang ia terima. Vina heran, tidak biasanya Dika berlaku demikian. Malam hari Vina pun tidak menyerah untuk mengubungi Dika. Tujuannya hanya satu meminta penjelasan darinya, apa yang sebenarnya terjadi. Dan siapa wanita itu.
Keesokannya, setelah subuh baru Vina mendapat respon dari Dika. Dia menelpon dan menjelaskan semuanya. Rupanya Dika sudah tahu, kalau Vina menelponnya berulang kali pasti karena sudah tahu masalah itu.
“Mohon maaf yang sebesar besarnya, Vina. Aku benar-benar minta maaf” ucap Dika berulang kali setelah Vina menjawab panggilannnya.
“Siapa wanita itu. Siapa dia?apa benar yang di ucapkannya?”tanya Vina terbata-bata. Ia berusaha keras menahan agar air matanya tidak tumpah.
“Namanya, Nina. Dia adalah teman satu team ku waktu penelitian di kampus. Maaf Vina, maaf...” Dika terdiam sejenak mengambil nafas dalam. Vina masih menunggu kelanjutan cerita itu dengan hati yang mulai hancur.
“Kami jatuh cinta, dan hubungan kami sudah berjalan 2 tahun” lanjut Dika dengan suara lirih.
Vina terhenyak. Tersungkur di atas sajadahnya.Dua tahun?selama itu kah hubungan mereka berjalan selama ini. Lalu dirinya?. Jadi selama ini Dika benar-benar bermain dibelakangnya. Menghianati dirinya. Padahal dirinya sudah setia menunggu Dika. Sesuai dengan janjinya. Bahwa Dika akan datang melamarnya ketika dia lulus kuliah kelak. Dan setelah lulus, saat dirinya menagih janji itu, entah kenapa Dika selalu menghindar.  Ya, Tuhan. Inikah firasat Ibunya beberapa hari yang lalu.
“Vina tidak perlu khawatir,aku sudah mengakhiri hubungan itu. Kami sudah memutuskan untuk jalan sendiri sendiri. Saya minta maaf Vina. Maaf kalau selama ini saya berbuat khilaf dibelakang, Vina. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Kita masih bisa berhubungan lagi kan?”
Vina sudah tidak mendenganrnya. Hp nya sudah ia letakkan jauh-jauh dari dirinya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pengakuan dan permintaan maaf dari Dika. Hatinya benar-benar sakit dengan kelakuannya yang berani bermain belakang sementara ia begitu setia. Ia menangis sejadinya di atas tempat tidur. Tak menyangka badai itu akan datang.
“Bukankah dari dulu sudak tak bilangin, Dika itu nggak baik-baik amat. Kamunya yang tidak mau dengar. Kejadian kan sekarang!”. Hanya komentar singkat itu yang keluar dari mulut Riska sahabat karibnya, juga sahabat karib Dika sewaktu di SMP tatkala Vina mencurahkan isi hatinya.
“Ngapain sih, kamu masih nungguin dia. Emang laki-laki di dunia ini Cuma dia?”
Dan tangis Vina pun pecah lagi.
“Vina...” usapan lembut dibahunya menyentakkan Vina dari lamunan masa lalunya. Buru-buru Vina menyeka air mata yang mulai menitik di sudut matanya. Dokter Akbar. Keasyikan melamun hingga dia tidak sadar kalau dokter Akbar sudah ada disampingnya.
Tapi, beliau tidak sendiri. Ada seorang laki-laki muda yang mendampinginya. Dengan senyum tipis. Dokter Akbar kemudian memperkenalkan dirinya dengan laki-laki yang bernama, Rian. Seorang dosen muda disebuah kampus swasta di Surabaya. Dokter Akbar mengatakan Rian adalah keponakan jauhnya.
Deheman berulang ulang mengisi ruangan perawat. Termasuk bu Nisa, kepala perawat yang berdehem paling keras saat dokter Akbar keluar dengan keponakannya. Membuat Vina salah tingkah.
“Bakal ada undangan nih hehe” kelakar Sita, temannya. Dan suara makin riuh. Vina memutuskan untuk segera keluar, bukan hanya untuk menghindari ledekan teman-temannya. Namun, juga sudah waktunya untuk bertugas. Pasien di kamar Mawar 2 memanggil minta di ganti infusnya. “Mungkin saja kalian berjodoh. Kebetulan Rian juga sedang mencari calon istri”. Pesan dari dokter Akbar mampir di hp nya tidak lama kemudian. Vina tersenyum tipis. Rian?. Meski berkenalan sekedarnya tadi, ia dapat menangkap kalau laki-laki itu cukup baik. Mungkin benar kata dokter Akbar, mungkin saja mereka berjodoh. Sebagai manusia dirinya hanya mampu berikhtiar kan. Sedetik, muncul nama mas Halim lagi dikepalanya. Mas Halim belum juga menjawab sms nya.
Halim. Vina mengenal laki-laki itu dari kakak laki-lakinya yang kebetulan satu kantor. Awal berkenalan, saat kakak membawa Mas Halim ke rumah. Liburan lebaran setahun lalu, Mas Halim memang sengaja datang ke rumahnya untuk bersilaturahim. Ingin berkenalan dengan keluarganya. Termasuk dirinya. Rupanya tanpa sepengetahuannya, kakaknya diam-diam banyak menceritakan tentang dirinya pada Mas Halim. Dan Mas Halim ingin berkenalan dengannya lebih dekat.
Sebenarnya Vina masih menutup diri karena kandasnya hubungannya dengan Dika, apalagi kandasnya dengan cara begitu menyakitkan. Namun,  kakaknya yang terus memaksa untuk berkenalan dulu, membuatnya tidak punya pilihan lain. Setelah pertemuan di rumah itu, Mas Halim kerap menghubunginya. Bahkan kemudian mengatakan pada dirinya, bahwa ia ingin serius menjalin hubungan dengan dirinya.
Karena Mas Halim bertugas di luar kota, otomatis hubungan mereka pun terpaksa jarak jauh. Seminggu sekali Mas Halim masih menyempatkan diri untuk menghubunginya. Hingga beberapa hari yang lalu, orang tuanya meminta dirinya untuk menegaskan hubungannya dengan Mas Halim. Hubungan mereka sudah berjalan selama hampir satu tahun, umur dirinya pun sudah cukup untuk menikah. Apalagi Ibunya mulai sakit-sakitan.
Entah kenapa, sejak Vina mengatakan keinginan orang tuanya, Mas Halim  makin susah untuk dihubungi. Apa mungkin??.
Vina buru-buru menepis anggapan buruknya. Terus terang ia masih trauma dengan hubungannya dengan Dika. Bukankah dulu mereka menjalin hubungan jarak jauh pula. Dan berakhir dengan tragis karena Dika bermain belakang. Ia takut, jangan-jangan Mas Halim juga akan berbuat demikian. Tapi, ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa Mas Halim tidak akan melakukan hal yang seburuk itu.
Mengingat Dika, Vina teringat undangan yang tadi ia terima. Dika akan menikah?dengan wanita itu kah?. Entah kenapa hatinya masih begitu sakit. Ia berusaha untuk mengikhlaskan semua itu, toh Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tiba-tiba entah, dapat bisikan dari mana ia berkeinginan menikah lebih dulu dari Dika. Dika sudah menyakitinya, dulu. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa bahagia tanpa Dika. Jika rencana ini ia kemukakan pada Mas Halim apa ya jawabannya?
“Saya harus menyelesaikan S2 saya terlebih dahulu. Dan saya berencana menikah setelah itu, jika Vina tidak keberatan...”
“Maaf, Nak Halim. Harus berapa lama anak saya menunggu lagi. Sudah setahun, Vina menunggu. Kalau memang nak Halim serius dengan Vina. Kalian kan bisa menikah terlebih dahulu, dan nak Halim bisa melanjutkan S2. Jadi hubungan kalian sudah tidak rawan maksiat lagi”.
Sore itu, Mas Halim mendadak datang ke rumah. Hanya ingin menjawab keinginan Ibu. Tentang hubungan mereka. Untunglah saat itu Vina sedang mengambil cuti karena Ibunya sedang sakit. Jadi bisa bertemu dengan Mas Halim.
“Jadi kapan rencana, Nak Halim menikahi putri saya?tidak baik berhubungan tanpa status lama-lama. Takutnya fitnahnya lebih besar lagi” sambung Ayahnya. Vina menunggu jawaban dari Mas Halim dengan jantung berdebar.
Dan diamnya Mas Halim yang cukup lama tanpa sepatah kata pun, sudah memberi Vina sinyal. Kedua orang tuanya mahfum dan menghormati keputusan Mas Halim. Mungkin mereka belum berjodoh.
Semalaman,Vina terlarut dalam doa di atas sujudnya. Ia menumpahkan semua beban hatinya pada Sang Pencipta. Perlahan-lahan air matanya menetes. Ia merasa bersalah pada orang tuanya. Sampai sekarang ia belum mewujudkan keinginan orang tuanya. Melihatnya membina rumah tangga.
Bersimpuh Vina memohon pada Tuhan, agar jalannnya dipermudah dalam menemukan jodohnya. Jodoh yang baik untuk agama, dunia dan akhiratnya. 
**
“Vin..kamu gak jadi nikah sama keponakan dokter Akbar?”
Sebulan berlalu. Vina sudah mulai bisa bangkit lagi setelah kejadiannya dengan Mas Halim. Ia mulai bisa beraktifitas lagi dengan tenang. Tanpa banyak pikiran seperti kemarin-kemarin.
Rian. Yani tiba-tiba mengungkit nama itu. Keponakan dokter Akbar. Selama ini Vina memang tidak begitu intens berkomunikasi dengan Rian, mungkin karena Rian sangat sibuk di kampusnya. Ia pun tidak berani menanyakan kelanjutan perjodohan itu pada dokter Akbar. Ia malu. Bahkan Rian belum pernah menyinggung untuk berhubungan yang lebih serius. Komunikasi mereka hanya seputar obrolan ringan selama ini.
“Kenapa, Yan?” hati Vina mulai dag dig dug. Gagal lagi kah?
Yani tidak menjawab. Hanya menyodorkan sebuah undangan berwarna emas. Ia melihat nama dokter Ayu tertera di sana. Oh, rupanya dokter Ayu akan menikah. Vina memang mengenalnya. Dokter muda yang cukup energik. Sesuai dengan namanya, wajahnya yang ayu sering membuat dokter laki-laki disini kerap menggodanya. Tapi, dokter Ayu menanggipnya dengan sopan. Selain cantik dokter Ayu memang terkenal santun, ramah pada siapa pun. Sering menanggapi guyonan dari rekan-rekan kerjanya dengan senyum kecil. Ah, dokter cantik itu akan menikah. Vina begitu iri padanya. Bukankah dokter Ayu lebih muda satu tahun dari dirinya, tapi menikah lebih dulu. Siapakah laki-laki yang beruntung itu?
Mata Vina hampir tak percaya ketika melihat nama calon dokter Ayu. Rian Ferdiansyah, S.Kom.
Nama itu?bukankah itu nama...
“Mungkin kalian memang belum berjodoh. Dia lebih memilih dokter Ayu dari pada kamu. Sabar ya, Vin. Mungkin ada laki-laki lain di sana yang lebih pantas untukmu”Kali ini Yani tidak meledeknya seperti biasanya. Mungkin Yani tahu dirinya akan shock jika ia tahu kabar ini. Mencoba bersimpati padanya.
Sebelum pulang, dokter Akbar khusus menemuinya. Dan Minta maaf soal pernikahan keponakannya.
“Dokter tidak perlu merasa bersalah. Kami mungkin belum berjodoh. Dipaksa seperti apa pun, kalau Tuhan belum berkehendak kami tetap tidak akan bisa menikah. Saya ucapakan terima kasih atas kebaikan dokter Akbar pada saya. Saya minta doanya agar segera dipertemukan dengan jodoh yang memang telah dipersiapkan Tuhan untuk saya. Jodoh saya yang sebenarnya.”
“Tentu, Vina. Kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Pasti saya akan mendoakan yang terbaik untukmu”

**
Sejak kejadian itu, Vina makin sering mendekat kan dirinya pada Tuhan. Meminta kemurahan hatiNya agar segera mempertemukan dirinya dengan laki-laki pilihan Tuhan. Lebih banyak bermunajat disepertiga malamnya. Banyak-banyak bertilawah dan mendengar murottal. Fokus ibadah dan berusaha sebaik mungkin memperbaiki diri. Memantaskan diri. Tentu di hadapan Tuhan pemilik semesta alam. Bukankah Tuhan sudah berjanji pada makhluknya, bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dan janji Tuhan selanjutnya, bukankah wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Vina terus berjanji akan terus memperbaiki diri, agar Tuhan pun memperbaiki jodohnya. Fokus Ibadah.
“Benar kamu sudah pasrah kalau pakdhe menjodohkanmu dengan siapa pun?”tanya Pakdhe Vina. Liburan lebaran. Ia masih di rumah karena karena liburnya masih tersisa satu hari.
Vina mengangguk pelan. Ya, ia memang sudah pasrah dengan jodohnya. Dengan siapa pun itu, selama agamanya baik dia akan menerima. Bukan ia tidak mau lagi berusaha mencari calon suami sendiri, tapi upayanya selama ini selalu berujung kegagalan.
Setelah perjodohannya dengan Rian gagal, tak kurang kawan-kawannya mencoba untuk mencomblangi dia dengan beberapa orang laki-laki. Bahkan  satu dua teman masa SMP nya, pun pernah terang terangan meminta dirinya untuk menikah dengan dirinya. Vina hanya menjawab singkat, tegas tapi dengan nada sesopan mungkin.
“Kalau memang serius silahkan bicara dengan Ayahku, kalau Ayahku ridho InsyaAllah aku pun akan ridho dan bersedia menikah denganmu. Aku tidak ingin menjalin hubungan seperti anak ABG, karena bukan masanya lagi”.
Pun lain kali ketika Riska mencoba menjodohkan dirinya dengan mantan kakak kelasnya sewaktu SMP juga. Vina sangat mengenalnya. Laki-laki yang baik. Sopan dan yang penting wawasan agamanya cukup baik. Vina pun antusias menjalin taaruf dengan kakak kelasnya tersebut.
Jawaban dari laki-laki itu kemudian yang membuatnya kembali terhempas. Mulai menyerah.
“Saya ingin menikah, tapi 2 atau tiga tahun lagi. Saya belum siap menikah tahun ini”.
Vina menggeleng keras. Tanda ia tidak mau menunggu selama itu waktu Riska menyampaikan jawaban kakak kelas mereka. Dia ingin menikah tahun ini juga. Meski hatinya mulai menyerah, tapi ia yakin akan ada laki-laki yang memang telah disiapkan untuknya.
Dan kini ia berhadapan dengan laki-laki itu. Sesuai janji pakdhenya, beberapa hari yang lalu. Bahwa ia akan dijodohkan dengan salah seorang guru yang sudah lama mengabdi di pesantren yang di asuh oleh pakdhenya.
“Ini Vina, keponakan saya. Dia seorang perawat. Kebetulan sedang libur jadi bisa bertemu dengan  Roni” pakdhenya membuka pertemuan mereka dengan memperkenalkan Vina pada laki-laki yang masih menunduk sejak Vina datang dan duduk di samping pakdhenya. Ayahnya duduk di samping nya. Tersenyum merekah.
“Vin..ini Roni. Salah satu guru disini. Ibumu sangat menyukai dia, dan sempat meminta pakdhe untuk menjodohkan kalian. Pakdhe akan menjembatani taaruf kalian dengan senang hati. Mungkin Tuhan berkenan menjodohkan kalian”
Vina mencoba melirik dengan malu-malu ke arah Roni. Pandangannya sempat beradu dengan pandangan Roni yang juga meliriknya dengan malu-malu. Kemudian sama-sama menunduk malu. Tak Satu pun kata-kata keluar dari mulut mereka.
Pertemuan di Subuh itu, memang belum menghasilkan keputusan final. Baik Vina maupun Roni, sama-sama meminta waktu untuk berpikir. Roni mengatakan ingin membicarakan perjodohan itu dengan orang tuanya. Ia tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Karena pada hakikatnya, pernikahan bukan hanya menyatukan 2 manusia, tapi juga menyatukan dua keluarga.
Vina pun memanfaatkan kesempatan itu berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Meminta petunjuk agar diberikan yang terbaik. Jika memang Roni, menurut Tuhan adalah yang terbaik untuk dirinya, ia akan menerima dengan penuh kesyukuran. Pun juga, seandainya keluarga Roni tidak berkenan dengan perjodohan itu, ia pun sudah siap dan akan menerimanya dengan penuh kesyukuran.
Dua hari kemudian, keluarga Roni memberi kabar lewat pakdhenya, bahwa mereka setuju jika Roni menikah dengan Vina. Keluarga mereka akan berencana melamar Vina seminggu kemudian. Vina terdiam sesaat di ruang makan, saat mencuri dengar pembicaraan Ibunya dengan kedua orang tuanya di ruang tamu. Roni bersedia menikah dengannya. Inikah jawaban Istikhoronya beberapa hari yang lalu. Dan kata-kata Ibunya selanjutnya makin membuatnya terdiam.
“Kenapa tidak langsung nikah saja, coba tanyakan pada keluarga Roni. Bagaimana kalau acara lamarannya diganti akad nikah saja”. 
Menikah?secepat itu?. Rencana keluarganya memang awalnya adalah lamaran dulu, baru membicarakan tanggal pernikahan. Dan Ibunya meminta berubah haluan?.
Pakdhe Vina pun tidak keberatan menyampaikan usul Ibu pada keluarga Roni. Mereka pun mengatakan akan memberi keputusan secepatnya.
Sore itu, kening Vina berkerut dalam. Nomor asing muncul di layar Hp nya. Ia baru menyelesaikan tilawahnya. Mukenanya masih ia pakai. Sajadah pun masih terhampar di samping tempat tidurnya. Penasaran Vina mengangkat panggilan itu.
“Waalaikum salam. Maaf ini siapa?”
“Muhammad Rindra Al-Fatih” jawaban itu yang Vina terima. Kening Vina berkerut. Bingung.
Siapa ya?pikir Vina keras. Ia mencoba mengingat-ingat nama temannya yang manakah ini. Namun, sepengetahuannya ia tidak punya teman dengan nama tersebut.
“Maaf...” sela Vina masih dengan kebingungan.
“Saya biasa dipanggil Roni”
Pikiran Vina mulai ngeh ketika mendengar nama itu, laki-laki yang beberapa hari yang lalu taaruf dengannya, tapi tunggu dari mana Roni mendapat nomor Hp nya?dari pakdhenya atau dari orang tuanya. Selama ini bukankah mereka tidak pernah komunikasi sama sekali. Awal jumpa pun mereka diam seribu bahasa.
“Kalau saya boleh tahu, Vina minta mahar apa saat akad nikah nanti. Kami sekeluarga sudah setuju untuk langsung akad nikah. Kami di sini sudah menyiapkan persiapan untuk pernikahan kita. Mohon maaf juga kalau nanti seserahannya ada yang tidak sesuai dengan keinginan Vina, karena persiapannya pun kilat. Tanggal 22 Desember InsyaAllah, kami akan datang ke rumah orang tua Vina, melangsungkan akad nikah”
Vina langsung bersujud di atas sajadahnya yang masih terhampar di hadapannya. Menangis haru. Ya, Tuhan inikah jawaban yang Engkau berikan atas penantianku selama ini. Terima Kasih Tuhan. Terima kasih.

Dan gamis putih yang tergantung di kamar Vina menjadi saksi kebahagiannya saat ini. Baju pengantin, berbentuk gamis yang Vina beli beberapa hari yang lalu, dipeluknya erat. Ia akan jadi pengantin. Sebentar lagi.


View Post
Menikahi orang yang kita cintai memang sebuah kenikmatan, tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah sebuah keutamaan”


Kakek  menyeruput kopinya dengan nikmat. Sesekali menyesap nikotinnya yang tinggal separoh. Matanya menerawang begitu juga pikirannya. Mencoba membuka ulang kisah cintanya dengan Nenek yang masih bertahan hingga sekarang. Masih tetap mesra.
Aku menunggu kelanjutan kisah cintanya dengan berdebar-debar. Liburan kali ini, aku niatkan untuk menginap di rumah Kakek lebih lama. Selain karena ingin menemani Kakek,aku juga ingin mendengar cerita awal mula Kakek bertemu dengan Nenek. Aku selalu kagum dengan kemesraan mereka. Begitu penasaran bagaimana kisah mereka. Apa yang membuat Kakek sangat mencintai Nenek. Begitu juga sebaliknya. Dan yang penting apa resep mereka mempertahankan kemesraan mereka. Karena jika kelak aku menikah, aku juga ingin seperti mereka.
“Nenekmu itu wanita yang tidak pernah Kakek bayangkan akan jadi jodoh Kakek pada akhirnya. Karena Kakek hanya bertemu dia sekali. Itu pun karena dijodohkan oleh Bapak Kakek. Dia wanita yang Istimewa, yang dianugerahkan Allah untuk Kakek”
“Kakek hanya bertemu dengan Nenek sekali sebelum menikah?” tanyaku sangsi. Mana mungkin pertemuan sekali, bisa mendatangkan kemantapan Kakek untuk menikahinya. Mustahil. Tapi bukankah tidak ada yang mustahil bagi Allah. Lalu apa yang membuat Kakek langsung menerima Nenek untuk menjadi Istrinya walau hanya bertemu sekali.
 Kakek mengangguk sambil terkekeh.
“Itu lah anehnya jodoh, Nia. Ada yang bertahun-tahun menjalin hubungan, ternyata tidak sampai ke pelaminan. Yang baru bertemu sekali malah akhirnya menikah dan langgeng sampai mati. Ada yang menjalin hubungan dengan orang yang jauh sekali, tapi ternyata jodohnya tidak jauh darinya. Bisa saja tetangga depannya sendiri, seperti kawan Kakek. Dia berpacaran dengan orang yang berasal dari luar jawa. Bertahun-tahun. Apa kau tahu?pada akhirnya dia menikah dengan tetangga depannya sendiri”ucapnya tak berhenti tertawa kecil.
Aku menunggu kelanjutannya. Menunggu Kakek yang menyempatkan menyeruput kopinya sebelum ceritanya berlanjut.
“Itulah anehnya jodoh. Yang harus kau pahami dari sekarang. Jodoh tidak bisa dipaksa. Karena diri masing-masing telah dituliskan berjodoh dengan seseorang oleh Allah,yang sudah tertulis di Lauh Mahfuz nya yang tidak pernah kita ketahui. Tugas kita hanya berikhtiar. Melakukan yang terbaik. Selebihnya serahkan pada Allah”.
“Ceritakan kisah Kakek padaku sejak awal. Aku penasaran ingin mendengarnya, Kek” aku makin tak sabar.
Kakek diam sejenak, sebelum cerita itu mengalir dengan derasnya.

***
Awal mula....
Rio. Laki-laki itu terhenyak tak percaya. Ketika membaca nama yang tertera pada sebuah undangan mewah berwarna gold. Yang tergeletak di meja kamarnya. Kata Ibunya, pagi setelah dia keluar dari rumah, ada seorang laki-laki yang mengantar undangan itu untuknya.
Raihanun Salsabila.
Rio sangat kenal dengan nama itu. Nama gadis manis yang telah menghuni lubuk hatinya sejak lima tahun lalu. Gadis yang telah menjadi pacarnya sejak lulus SMA. Gadis yang ia incar sejak masuk SMA. Yang ia dapatkan hatinya dengan penuh perjuangan. Jalan hubungan mereka memang tidak mulus. Penuh terjal dan goncangan sejak awal. Karena orang tua Hanun tidak pernah merestui hubungan mereka. Alasannya, masih saja alasan yang klasik. Karena Rio bukan berasal dari keluarga yang berada. Berbeda dengan keluarga Hanun, yang notabene keluarga besarnya adalah orang kaya, terpandang dan cukup disegani di daerah mereka.
Meski demikian, Rio terus berusaha menjalani hubungan itu. Meski berasal dari keluarga yang pas-pasan, Rio percaya bahwa dia akan bisa membahagiakan Hanun suatu saat jika mereka menikah. 
Karena ingin membuktikan keseriusannya dan bukti bisa membahagiakan Hanun, sejak awal kuliah Rio, telah bekerja keras. Bukan hanya di bangku kuliahnya. Disela-sela waktu kuliahnya, ia juga membuka usaha bersama teman-temannya. Sebuah cafe mini. Menabung sedikit demi sedikit hasilnya untuk biaya kuliahnya juga untuk tabungannya jika ia akan menikah dengan Hanun suatu saat.
Siang malam ia memeras bukan hanya otaknya, tapi juga tenaganya. Hanya dalam waktu setahun, nilainya yang selalu bagus dan menjadikannya sebagai mahasiswa berprestasi. Pihak kampus pun akhirnya menganjarnya dengan beasiswa penuh sampai ia lulus nanti.
Di luar kuliah, usaha yang ia jalankan bersama teman-temannya pun cukup sukses. Hingga membuka cabang kedua. Hasil yang memuaskan itu lah yang membuat semangat Rio makin berkobar. Ia makin yakin bahwa suatu saat orang tua Hanun akan merestui hubungannya dengan Hanun demi melihat kesuksesannya. Dan menerimanya menjadi bagian keluarga. Hanun pun sangat mendukungnya. Selalu memberinya semangat jika dirinya sedang down dan mulai putus asa.
Hingga ujian itu pun datang. Suatu sore saat Rio akan membuka cafe,Hanun tiba-tiba datang dengan wajah penuh air mata. Tentu saja Rio cemas bukan main. Tidak biasanya Hanun bersikap demikian. Walau hubungan mereka kerap mendapat tentangan, dan Hanun kerap menangis karena itu, tapi kali ini tangis Hanun berbeda. Rio bisa melihatnya dari tatapan Hanun yang begitu terluka.
“Ada apa Hanun?kamu sudah berjanji bukan bahwa tak ada rahasia diantara kita?. Katakan ada apa?. Siapa yang membuatmu menangis hingga seperti ini”desak Rio, tatkala Hanun terus menangis tanpa mau mengatakan apa sebabnya.
“Papa...”ucapnya disela isak tangisnya. Bahunya berkali bergunjang diantara sesenggukan tangisnya.
Mendengar Hanun menyebut Papanya, Rio yakin ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi. Dia bisa merasakannya. Kali ini ada apa lagi. Rio selalu bisa menerima jika Papa Hanun kerap menghinanya, tapi jika sampai membuat Hanun menangis seperti ini, Rio benar-benar terluka.
“Papa telah menjodohkanku dengan orang lain. Dan tanggal pernikahan kami telah ditentukan” jawab Hanun dan ia menangis histeris setelahnya.
Bagai disambar petir di siang bolong, Rio terkejut bukan main. Hanun dijodohkan?. Di tengah kerja kerasnya untuk melunakkan hati keluarga Hanun. Ia berjuang siang malam agar bisa membuktikan kesungguhannya. Namun, rupanya selama ini Papa Hanun tak pernah menganggap sama sekali perjuangan dan kesungguhannya. Papanya malah memilih untuk menjodohkan Hanun dengan laki-laki lain. Lalu apa arti perjuangannya ini untuk Papa Hanun. Apakah ia masih belum dianggap pantas oleh Papa Hanun?. Ia merasa segala usahanya selama ini tak ada artinya.
Setelah kejadian itu, Rio tidak pernah bisa menemui Hanun lagi. Keluarganya melarang keras ia bertemu dengan Hanun, meski Rio berusaha berkali-kali bahkan meminta tolong pada sahabat-sahabat dekat Hanun. Akan tetapi, upayanya selalu gagal.
Hingga ia menerima undangan berwarna gold dengan nama Hanun tertera di sana. Hati Rio rasanya hancur berkeping-keping saat membacanya. Jadi Hanun lebih memilih laki-laki itu dan memenuhi permintaan Papanya. Melupakan hubungan dan segala kenangan tentang mereka selama ini.
Waktu Hanun berkunjung ke cafenya seminggu sebelum pernikahannya, Rio memandangnya lekat-lekat. Gadis manis yang sangat ia cintai, bahkan ia rela melakukan apa pun demi bisa mendapatkannya. Kali ini Hanun menutupi sembab matanya dengan kaca mata hitam besar yang ia kenakan. Rio yakin Hanun tak bisa menahan tangisnya saat bertemu dengannya sore itu. Rio yakin sebenarnya Hanun masih mencintainya dan tak menginginkan pernikahan itu. Namun, jawabannya membuat hatinya kembali hancur.
“Maaf jika aku lebih memilih laki-laki itu dari pada kamu. Aku hanya memikirkan kehidupan anak-anakku nanti setelah menikah. Kau tahu kan aku dilahirkan dari keluarga kaya, aku terbiasa dengan kemewahan. Aku merasa tidak siap jika aku lebih memilihmu. Apalagi aku juga ingin anak-anakku nanti mendapatkan segala sesuatu yang terbaik. Laki-laki yang dipilih Papaku bukan laki-laki sembarangan. Selain dari keluarga kaya raya, dia juga pengusaha muda yang sukses. Aku yakin kekayaannya bisa menjamin kebahagiaanku dan anak-anakku kelak” katan Hanun dengan nada tegas.
“Mulai sekarang lupakan aku. Carilah wanita yang lebih pantas mendampingimu. Yang lebih cocok untukmu” lanjutnya, ia menekankan kata-katanya yang terakhir. Lalu Hanun berdiri dan beranjak pergi. Seakan tak mau berlama-lama berhadapan dengan  Rio.
Rio mendengar dengan seksama. Tak berkata sedikitpun saat Hanun mengungkapkan alasannya dia lebih memilih laki-laki itu. Alasan yang membuat Rio kecewa sekaligus sakit hati. Jadi selama ini Hanun tak pernah percaya bahwa ia bisa membahagiakannya. Hanya karena dia bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya. Lagi-lagi perbedaan strata yang membuat dirinya semakin tak bisa menjangkau Hanun. Perlahan air mata Rio menitik kemudian. Ia tak percaya. Tak percaya Hanun akan setega itu berkata demikian terhadapnya. Menghancurkan semua mimpinya juga semangat dan ambisinya. Semuanya hancur sekarang. Tak bersisa.
Di luar Cafe, dalam sebuah mobil mewah berwarna putih, seorang wanita menangis tersedu-sedu. Ia tahu ia telah mengecewakan Rio, tapi ini demi kebahagiaan mereka bersama.
“Maafkan aku Rio,maafkan aku”

***
Aku terdiam tak berkata apa pun saat Kakek mengakhiri sesi pertama kisah cintanya. Kisah yang memilukan. Aku tak menyangka jika Kakekku punya kisah yang sedemikian sedihnya. Aku lihat Kakek, bahkan menitikkan air matanya saat selesai menceritakan kisah cintanya bersama Hanun. Cinta pertamanya.
Aku memegang tangan Kakek yang sempat tergetar saat selesai menceritakan kisah itu. Mencoba memberi kekuatan padanya. Tanpa terasa aku pun seakan larut dalam kesedihan Kakekku. Air mataku mulai mengambang dalam pelupuk mataku.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Kakek untuk mengembalikannnya pada keadaan sama sebelum ia bercerita. Ia menghela nafas sebentar, kemudian menatapku lama. Aku yakin Kakek sudah bersiap untuk melanjutkan ceritanya.
“Apa yang terjadi setelah itu Kek?”
“Kakek merasa hancur dan kecewa. Tak bisa melakukan apa pun. Kakek sadar kalau Kakek sangat mencintainya hingga butuh waktu lama untuk melupakannya. Selama berminggu-minggu Kakek meluapkan rasa kecewa Kakek dengan bekerja dan bekerja. Agar bisa segera melupakannya. Orang tua Kakek saat itu sangat cemas dengan keadaan Kakek yang melihat Kakek tiada lelah bekerja siang malam. Kakek selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang menjelang dini hari. Setiap hari. Karena Kakek tidak tahu harus seperti apa Kakek meluapkan kekecewaan ini. Hanya itu yang bisa Kakek lakukan” jawab Kakek. Suaranya masih terdengar bergetar.
“Setelah kejadian itu Kakek tidak pernah menghubungi atau bertemu dengan Hanun lagi?” tanyaku lagi.
“Setelah menikah Hanun diboyong suaminya ke Amerika. Itu yang aku dengar. Suaminya bekerja dan melanjutkan pendidikannya di sana”.
“Lalu nenek?. Apakah Kakek bertemu Nenek setelah kejadian itu?” tanyaku semakin antusias tak sabar mendengar kelanjutannya.
Kakek tertawa kecil. Mungkin karena melihat sikapku yang tidak sabar menanti kelanjutannya. Tak lama Nenek keluar dengan membawa sepiring pisang goreng keju kesukaanku. Aromanya yang menggoda selera, membuatku sejenak terlupa untuk mendesak Kakek melanjutkan ceritanya.
Aku asyik menikmati pisang goreng buatan Nenekku. Lalu Kakek menyuruh Nenek untuk duduk disampingnya. Ah, pasangan yang romantis. Begitu gumamku dalam hati saat melihat mereka asyik menggoda satu sama lain waktu duduk berdampingan.
“Nina ingin mendengar bagaimana awal kita bertemu?” ujar Kakek dengan senyum manisnya. Matanya lembut memandang Nenek. Tangannya pun erat memegang tangan Nenek.
“Oh, ya?” Nenek tertawa kecil mendengar permintaanku. Membalas lembut pandangan Kakek.
“Pertemuan kami tidak pernah kami duga. Nenek juga tak menyangka. Awal bertemu dengan Ayah, akhirnya membawaku pada jodohku. Jodoh sejatiku”

***
Annisa asyik membaca buku yang baru ia beli di sudut taman kota yang masih terasa ramai meski hari telah menjelang siang. Minggu seperti ini bukan hal yang aneh jika taman kota ini akan penuh dengan puluhan manusia yang memadati taman ini. Anak-anak, remaja, muda-mudi juga orang tua,tumpah jadi satu di taman ini. Taman yang kian asri semenjak direnovasi.
Selain bertambah asri, taman kota yang kini dilengkapi dengan Wi-fi, juga semakin menarik daya tarik masyarakat sekitar untuk datang. Di ujung barat Annisa masih bisa melihat Ibu-Ibu dan para remaja putri juga bapak-bapak asyik bersenam mengikuti irama. Di ujung timur yang dipenuhi dengan taman bermain juga penuh dengan teriakan anak-anak. Di ujung lain terlihat para remaja dan pemuda-pemudi asyik melakukan hobi mereka. Ada yang berlatih karate, ada yang berlatih parkour, ada pula yang sibuk berdiskusi dan berkumpul dengan komunitas mereka.
Para pedagang asongan yang juga ikut meramaikan, tak henti hilir mudik kesana kemari menjajakan dagangannya. Annisa merekam semua pemandangan itu dalam memorinya. Ia berharap akan selalu menikmati suasana keramaian seperti ini setiap hari. Pemandangan yang tidak pernah ia dapati tiga tahun lalu. Saat taman ini masih berantakan, kumuh dan tak terawat. Taman ini juga kerap dijadikan para remaja untuk pacaran atau melakukan hal maksiat lainnya yang tidak menyejukkan mata.
Annisa mengarahkan pandangannya ke sudut utara yang dipenuhi para pemuda yang berlatih skate board. Annisa selalu menikmati permainan mereka. Permainan yang menurutnya sangat menantang juga sedikit berbahaya. Ia nikmati atraksi mereka beberapa saat. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sesosok laki-laki separoh baya yang menatapnya tiada henti. Merasa risih karena dipandang sedemikian rupa, Annisa mengubah arah pandangannya. Namun, ia merasa laki-laki itu malah berjalan mendekatinya.
“Bolehkah saya duduk di sini?”tanyanya. Annisa merasa takut dan khawatir, karena bukan hal yang asing lagi banyak laki-laki yang berniat buruk pada wanita yang kerap duduk sendirian tanpa didampingi siapa pun.
Ragu Annisa mengangguk.
“Oh, ya kenalkan nama bapak, Ridwan. Maaf kalau sudah mengganggu kegiatan nak...”
“Annisa pak. Nama saya Annisa”
“Nak Nisa. Ya..ya.., nama yang bagus”. Laki-laki yang mengaku bernama Ridwan mengangguk berulang kali. 
“Bapak sudah berulang kali melihatmu di sini. Pertama kali saat melihatmu mendampingi anak-anak kecil yang sedang bermain di sini. Apa kamu orang asli daerah sini, nak Nisa?” tanya pak Ridwan.
Annisa ingat kalau dua minggu yang lalu ia mendampingi anak asuhnya di rumah singgah bermain di sini. Mengajak mereka belajar serta bermain games bersama dengan teman-temannya yang lain. Jadi bapak ini memperhatikan kegiatan mereka. Untuk apakah?. Apakah bapak ini tertarik dengan kegiatan yang ia lakukan dan berniat membantu mereka. Karena selama ini, itu yang sering dialaminya bersama temannya. Awalnya hanya memperhatikan mereka lalu akhirnya menjadi donatur untuk rumah singgah mereka.
“Bukan pak saya dari Semarang dan kuliah disini. Yang bapak lihat, Itu anak asuh saya dan teman-teman saya, Pak. Kami punya rumah singgah yang belum lama kami dirikan”jelas Annisa.
“Bagus..bagus. Anak muda memang harus banyak melakukan hal positif. Bapak tertarik sekali dengan kegiatan kalian. Tapi, maaf rasanya bapak tidak bisa bicara lama saat ini. Hari sudah siang. Bapak harap bisa ketemu lagi dengan nak Nisa lain waktu. Apa Nisa keberatan?” tanyanya. Annisa menggeleng. Ia tersenyum kecil. Ia sudah yakin bapak ini pasti orang baik. Tidak seperti dugaannya tadi.
***
Kakek kembali menatap Nenek mesra. Nenek balas menatap tak kalah mesra.
“Sekali lagi itu lah anehnya jodoh. Kadang kau begitu mengharapkannya, tapi tidak pernah datang, tapi saat kau tidak mengharapkannya dia malah datang. Kuasa Allah tidak akan pernah bisa kau tolak lagi, saat masa itu datang, meski bukan itu yang kau inginkan dan bukan dengan orang tersebut. Itu yang Kakek alami dulu. Setelah kepergian Hanun, Kakek sudah tidak tertarik lagi untuk menjalani hubungan dengan wanita manapun. Yang ada dalam pikiran Kakek hanya bekerja, bekerja dan bekerja”kata Kakek.
“Jadi waktu itu Kakek sebenarnya tidak berharap menikah dengan Nenek. Kakek menikahi Nenek tanpa cinta?bisakah?. Menikah tanpa cinta?”tanyaku lagi.
“Kakek hanya tidak pernah membayangkan akan menikah dengan Nenek. Wanita yang aku lihat begitu asyik dan keibuan saat berhadapan dengan anak-anak saat waktu pertama melihatnya dari kejauhan,”.
“Jadi...”.
Kini giliran Nenek yang memberi penjelasan dan berbicara panjang lebar.
“Setelah bertemu dengan Ayah pertama kali, setelahnya kami sering bertemu lagi di taman kota. Ayah mengatakan sejak pertama bertemu denganku, telah merasa bahwa aku adalah wanita yang tepat yang bisa mendampingi Kakek. Kami saling bercerita satu sama lain, bercerita banyak hal. Pada pertemuan ketiga, Ayah bercerita panjang lebar tentang Kakek, dan mengatakan bahwa ia ingin Nenek menjadi istri Kakek. Saat itu Nenek sangat terkejut. Tidak menyangka sama sekali akan mendapat permintaan seperti itu. Waktu itu Nenek tidak memberi jawaban langsung, ingin memikirkan terlebih dahulu. Ayah pun merancang pertemuan kami. Namun, Ayah tidak mengatakan apa pun tentang rencananya. Beliau hanya menyuruh Nenek untuk datang ke taman lagi di jum’at sore”
***
Rio termenung di sudut taman kota. Meski taman ini tak jauh dari rumahnya, ia baru sesekali saja ke taman ini. Sebagai anak muda tentu ia lebih suka nongkrong di cafe atau sejenisnya. Ke taman pun jika ia ingin merasakan suasana yang lain.
Namun, semalam Ayahnya, tiba-tiba memintanya untuk datang ke taman ini. Setelah bercerita bahwa beliau bertemu dengan gadis yang baik dan pantas untuk jadi istrinya, Rio diminta untuk menunggu gadis itu disini. Tanpa diberitahu siapa namanya. Hanya mengatakan ciri-cirinya.
Selama ini Rio tidak pernah menyembunyikan masalahnya dari Ayahnya. Termasuk hubungannya dengan Hanun yang telah berakhir dan bagaimana kacaunya dirinya setelah kejadian itu. Waktunya yang hanya dihabiskan untuk bekerja dan jalan-jalan tak tentu arah untuk meluapkan rasa kecewanya, membuat Ayahnya prihatin. Berulang kali Ayahnya memintanya untuk mengenal wanita lain agar bisa melupakan Hanun, tapi Rio sulit sekali melakukan itu. Sulit untuk melupakan Hanun.
Selain itu, Ayahnya juga merasa bahwa Rio sudah pantas untuk menikah dan punya anak. Tak bosan meminta dirinya bergegas mencari calon istri. Dan malam itu, Ayahnya mengatakan telah menemukan wanita itu.  Meski awalnya Rio merasa berat ketika harus melakukan permintaan Ayahnya, tapi akhirnya dia datang ke taman ini juga. Jum’at Sore setelah ijin pulang lebih dulu dari cafenya, ia duduk-duduk di sudut taman. Mengamati sekian banyak orang, yang manakah gadis yang dimaksud Ayahnya.
Ayahnya mengatakan, hari itu beliau sengaja juga menyuruh gadis itu untuk datang.  Ia yang biasa melakukan aktifitasnya memberi pelajaran pada anak asuhnya tiap minggu, memintanya untuk menggantinya di hari Jum’at. Khusus untuk kali ini saja.
Mata Rio menajam. Menatap tiap sudut mencari sosok wanita yang dikatakan Ayahnya. Matanya tertumbuk pada segerombolan anak kecil yang mengelilingi dua orang gadis yang asyik bercerita. Mata Rio memandangnya lekat.
***
“Kakek jatuh cinta dengan Nenek pada pandangan pertama?” tanyaku memotong cerita.
Kakek menggeleng lalu tertawa. “Kakek mulai jatuh cinta pada Nenekmu setelah kami sah jadi suami istri. Setelah pertemuan itu, kami bertemu lagi. Namun, kali ini Ayahku mendampingiku. Begitu bertemu dengan Nenekmu dan mendengar permintaan Ayahku, aku sadar bahwa sudah waktunya untuk menikah. Aku tak boleh egois dengan mengorbankan kebahagiaan orang-orang disekitar Kakek. Kakek hanya ingin membahagiakan orang tua Kakek”.
Aku terdiam mendengarnya.
“Setelah Ayahku mengatakan bahwa dia ingin menikahkan Kakek dengan Nenek, Nenek mengatakan bahwa jika ingin menikahinya, ia tidak ingin prosesnya lama-lama karena akan menimbulkan banyak fitnah jika makin ditunda. Kakek pun menyetujuinya. Toh, lama suatu hubungan tak menjamin seseorang untuk dapat melangkah ke gerbang pernikahan. Karena itu lah Kakek segera melamar Nenekmu. Saat proses menuju pernikahan itu lah kami menemukan banyak kecocokan. Entah kenapa Kakek merasa yakin bahwa Nenek adalah jodoh yang dikirim Allah untuk Kakek”.
“Bagaimana Kakek yakin bahwa Nenek adalah jodoh yang tepat untuk Kakek. Dan Kakek tidak pernah jatuh cinta sebelumnya dengan Nenek?”
“Pernikahan tidak harus dimulai dengan jatuh cinta, Nina. Jatuh cinta setelah menikah justru akan lebih nikmat karena kita jatuh cinta dengan orang yang telah sah mendampingi kita. Saat orang itu membuatmu menjadi lebih baik dari yang dahulu, itulah caramu untuk mengetahui bahwa dia adalah jodohmu. Jujur setelah menikah Kakek banyak belajar dari Nenek. Dia dengan keimanannya, banyak menuntun Kakek untuk lebih dekat dengan Allah. Setelah Kakek begitu jauh dengan Allah karena marah kenapa mempertemukan Kakek dengan seorang gadis yang Kakek cintai, tapi tak bisa memilikinya”.
Kakek diam sejenak, sembari menyeruput kopinya.
“Nenek pernah mengatakan saat Kakek mengatakan masalalu Kakek dan mencoba meminta pendapat serta nasehatnya, bahwa kita jangan pernah memaksa Tuhan untuk menjodohkan kita dengan orang yang kita cintai, karena Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi kita. Mungkin saat kita bersama dengan orang yang kita cintai kita akan bahagia. Namun, belum tentu saat menikah dengannya kita akan bahagia. Akan banyak permasalahan setelah itu” papar Kakek panjang lebar. Membuatku sejenak merenungi kata-katanya.
“Allah lebih tahu masa depan kita. Mungkin kita tak ditakdirkan bersama dengan orang yang kita cintai, Allah punya skenario yang lebih indah. Kita akan dipertemukan dengan orang yang lebih baik yang sesuai dengan kepribadian kita. Menikahi orang yang kita cintai mungkin sebuah kenikmatan, tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah keutamaan” lanjut Kakek lagi.
“Jadi...” aku tak bisa berkata lagi. Kagum dengan segala ungkapan Kakek yang begitu indah itu.
“Nenekmulah..yang selalu bersama Kakek disaat suka dan duka. Saat usaha Kakek hancur dan bangkrut. Saat Kakek harus memulai usaha lagi dari bawah, Nenekmulah yang yang selalu memberi dukungan pada Kakek. Tak sekalipun meninggalkan Kakek. Saat itulah Kakek benar-benar jatuh cinta dan merasa beruntung dipertemukan dengan wanita sekuat Nenek. Apakah kalau dipertemukan dengan wanita lain, wanita itu akan sekuat Nenek jika diuji dengan ujian yang begitu hebat itu?. Kakek tidak bisa menjamin”.
“Jadi apakah itu sebuah komitmen?” tanyaku ragu. Kali ini Nenek yang menjawab.
“Kekuatan sebuah pernikahan akan diuji pada saat seperti itu. Saat salah satu diantara kita harus jatuh begitu dalam. Apakah pasangan kita akan kuat bersama kita atau tidak. Kekuatan itu akan ada saat kita sadar kita punya komitmen untuk mempertahankan ikatan yang sakral, yang kelak akan kita pertanggungjawabkan pada Allah di hari akhir. Kalau komitmen itu tidak ada, tentu pasangan akan lari jika salah satu dari mereka ada yang jatuh”.
“Kakek hanya ingin berpesan hal ini padamu” Kakek menepuk pundakku. Memandangku lama.
“Jangan hanya mengutamakan cinta dalam pernikahanmu, karena cinta bukanlah segalanya. Menikahi orang yang kita cintai mungkin suatu kenikmatan, tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah keutamaan. Lihatlah bagaimana agama calon suamimu, karena agama itulah yang akan menjadi rambu dalam perahu yang akan kalian tumpangi. Jika laki-laki yang kau pilih akan membawa banyak kebaikan untukmu, mungkin itu lah jodohmu, tapi jika tidak, jangan pernah memaksa. Karena ingat, laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Jika kau ingin calon suami yang baik, yang harus kau lakukan pertama kali adalah memantaskan dirimu. Karena jodohmu sesuai dengan kepribadianmu. Fatimahkan dirimu maka Allah akan mengAlikan jodohmu” Kakek berhenti sebentar.
“Dan setelah menikah, jadikan komitmen janjimu pada Allah untuk selalu menjaga bahtera rumah tanggamu. Karena pernikahan adalah janji yang sangat berat yang kalian ucapkan di hadapan Allah yang disaksikan seluruh malaikat. Jangan hanya menjadikan cinta untuk mempertahankan kelanggengan suatu hubungan. Hubungan yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah, hubungan yang dilandasi ingin beribadah kepadaNya, insyaAllah akan langgeng dan lebih berkah”.
Aku tersenyum lebar mendengar pesan Kakek barusan. Pesan yang sangat dalam artinya. Yang sangat berguna untuk masa depanku nanti. Sekali lagi aku mendapat pelajaran berharga dari Kakek dan Nenekku. Jodoh. Hal yang selalu dirisaukan banyak orang. Kini aku tahu bagaimana akan memulai satu babak hidupku nanti jika telah bertemu dengan belahan jiwaku. Aku memeluk Kakek dan Nenekku erat. Sebagai ucapan terimakasih untuk pelajaran berharga hari ini.

View Post

Senyum tidak hanya akan mengubah diri kita sendiri, tapi juga mengubah orang lain, bahkan mengubah dunia menjadi indah. Tersenyumlah.


Pernah dengar slogan ini, yang biasanya mantengin acaranya Caisar pasti tidak asing lagi dengan slogan ini kan. Keep Smile.
Ya, tersenyum adalah salah satu cara untuk menghilangkan beban dari hal berat yang kita alami. Menghadapi ujian dengan senyuman tentu akan lebih mudah untuk menghadapi dari pada harus bermuka masam sepanjang waktu.Tersenyum adalah suatu tindakan yang paling mudah, paling sederhana, paling murah dan paling menyenangkan dunia.
Meski pun kecil dan remeh senyum mengandung banyak manfaat. Besar sekali. Ada beberapa manfaat senyum. Karena itu senyum sangat dianjurkan.
Pertama, senyum akan lebih banyak mendatangkan kebahagiaan. coba kita paksa diri kita untuk tersenyum setiap saat, tapi bukan berarti senyum-senyum sendiri ya, nanti kita akan dikira gila. Tersenyum yang tulus saat bertemu saudara, teman atau siapa pun. Coba rasakan, apa yang terjadi. Pasti ada aliran rasa bahagia saat kita melakukannya. Begitu juga saat kita terkena musibah, dengan lebih banyak tersenyum dan tegar sedikit demi sedikit beban itu akan perlahan hilang dari pundak kita dan berganti dengan bahagia dan rasa syukur.
Kedua, senyum adalah sedekah. Kita tentu pernah dengar bahwa sedekah yang paling mudah adalah dengan tersenyum. Senyum kita untuk saudara-saudara kita adalah sedekah. Jika orang diberi sedekah harta akan senang dan bahagia, demikian puka senyuman adalah sedekah maknawi untuk kebahagiaan hati dan jiwa. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah: “Senyuman di hadapan saudaramu adalah sedekah”
Ketiga, senyuman dapat merubah keadaan kita. Jika kita merasa marah atau bosan. Senyum yang kita lakukan akan mengubah kondisi emosi kita ke arah yang lebih positif. Keadaan yang positif itu selain lebih menyenangkan juga membuat kita melihat dunia dengan cara yang berbeda melalui lensa kebahagiaan. berbagai tindakan positif pun bisa kita lakukan. Kita pun akan lebih mudah berinteraksi dengan banyak orang jika murah senyum. Coba, bayangkan jika kita bertemu dengan orang lain, tapi muka kita selalu masam dan muram, pasti orang lain tidak akan merasa nyaman dan enggan berinteraksi dengan kita.
Keempat, senyuman dapat mengubah keadaan orang lain. Sudah terkenal ke seluruh dunia bahwa negara kita termasuk negara yang ramah dan orangnya yang mudah tersenyum saat berpapasan dengan orang yang tidak dikenal. Itu adalah ciri khas negara kita. Itu lah salah satu efek senyum. Dengan tersenyum tulus pada orang lain, bahkan penduduk negara lain sangat terkesan dengan negara kita. Dan betah tinggal di Indonesia. Karena hal itu tidak pernah mereka temui di negara mereka. Senyum terbukti ampuh merubah keadaan orang lain.

Tersenyumlah karena dengan tersenyum bukan hanya kita saja yang akan merasakan energi yang positif, bahkan orang lain juga akan merasakan hal yang sama. Ciptakan energi positif dengan senyum tulus yang kita punya, karena energi positif akan membentuk lingkungan yang positif juga yang akan mengantarkan pada kesuksesan. Hadapilah hal sulit yang kita hadapi dengan tersenyum. Semoga dengan itu beban yang kita rasakan akan berkurang dan Allah akan mengganti kesulitan itu dengan kemudahan.














View Post